
Sementara itu masih dalam alam yang sama, Randi yang mendapat penggilan dari adik iparnya lekas bangun dari tidur panjangnya. Ia menyambar kunci mobil di atas meja rias Tari dengan cepat.
Entah mengapa hatinya tidak tenang, ia merasa sesuatu hal buruk sedang terjadi. Mengingat nada bicara Ipul yang sedang berapi-api ketika menelponnya tadi. Seolah-olah ia sedang sangat marah.
Randi keluar rumah dengan baju yang lusuh, serta penampilan yang amburadul, seakan bukan Randi yang biasanya. Ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Roda dan aspal saling bergesek beradu satu sama lain.
Sesuai dengan perintah Ipul, mobil melaju menuju toko roti istrinya, yang berada tidak jauh dari kediamannya saat ini. Tiga puluh menit berlalu membelah padatnya jalanan pagi hari, sampailah Randi di depan toko. Ia memarkirkan mobilnya dengan cepat. Dan betapa terkejutnya Randi kala melihat mobil sang Mama yang terparkir di halaman toko.
Ia berlari dengan cepat, untuk lekas memasuki toko. Sesampainya di dalam toko, Randi, di buat terperangah dengan pemandangan yang ada. Terdapat banyak orang yang sedang duduk di sofa.
“Mama, Ibu, Ipul, sayang....”. Desisnya dengan menatap satu persatu orang yang ada di sana. Wajah mereka tampak tegang, mendadak hawa dingin pagi hari menjadi panas tak terkira.
“Ada apa?”. Tanya Randi, memberanikan membuka mulutnya untuk berbicara, kala melihat kondisi ruangan yang tampak sangat tegang.
“Mamamu menyuruh mbak Tari untuk meninggalkanmu"
Randi yang mendengar ucapan Ipul tampak bingung, dengan penuturan adik iparnya.
“Meninggalkanku?"
“Benar, ia menyuruh mbak Tari untuk meninggalkanmu dan membiarkan Mawar beserta anaknya hidup bahagia denganmu"
Randi masih bingung, ia tampak menatap sang Mama dengan sejuta tanya.
“Ran, tidak seperti itu, Mama tidak bermaksud seperti itu”. Cicit Bu Srining, mulai berucap untuk membela diri.
“Lantas seperti apa yang Mama maksud?”, kini Randi melempar pertanyaan itu kembali pada Mamanya.
Bu Srining masih diam, ia melirik Tari dan juga Randi, secara bergantian kemudian ia menunduk untuk beberapa saat. Mulutnya masih diam enggan untuk berucap.
“Biar aku saja yang menjelaskan!”, Kini Tari mulai membuka suaranya dengan tangan yang masih berpegangan erat pada ibunya.
Mulut Tari terasa kelu, entah mengapa ia merasa tiba-tiba kehilangan kata-kata. Kini ia memejamkan mata, mengambil nafas yang begitu dalam sebelum mulutnya kembali berucap.
__ADS_1
“Dengarkan ucapanku Mas, kau dengar baik-baik”. rintih Tari dengan lirih.
Randi memandang lekat wajah istrinya dengan penuh tanda tanya. Jemarinya terulur hendak menyentuh tangan istrinya.Namun dengan segera Tari menampis uluran tangan tersebut.
“Sayang aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku akan memilihmu apapun yang terjadi’. Potong Randi ketika Tari menjeda ucapannya.
“Aku janji akan memperbaiki semuanya". keduanya saling menatap dengan mata yang sudah basah.
“Kamu tidak bisa mengambil keputusan ini mas, ini semua mutlak aku yang harus menentukan. Mamamu memintaku untuk meninggalkanmu dan memberikan kesempatan padamu hidup berbahagia bersama Mawar. Menantu pilihan Mamamu. Atas dasar rasa sayang dan cintanya padamu. Beliau menginginkan kamu memiliki keluarga yang lengkap"
"Untuk itu, biarkan aku yang mengalah. Aku yang akan mundur dari kisah ini"
Deg...
Hati Randi mencoles mendengar apa yang di katakan oleh Tari. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Mamanya. Sebisa mungkin Randi berusaha untuk membawa istrinya pulang, tapi Bu Srining dapat dengan mudahnya untuk mengacaukan itu semuanya.
“Sayang jangan seperti itu, jangan pernah tinggalkan aku.Kamu tahu bukan cinta dan kasih sayangku padamu begitu utuh dan tak terbagi"
"Tidak mas, kamu salah. Cintamu sudah terbagi di saat kau menikahi wanita lain selain aku. Kamu tahu rasanya bagaimana?"
"Aku tidak mencintainya sayang. Harus ku jelaskan bagaimana agar kamu mempercayai semua itu"
Ia beranjak untuk duduk di sebuah Tari, memohon pengampunan atas kesalahan yang telah ia perbuat sendiri.
"Kamu tidak perlu menjelaskan itu semuanya. Kamu cukup menceraikan aku saja. Biarlah aku yang mudur dalam kisah ini. Aku tak ingin cintaku terbaik. Aku hanya ingin menjadi satu-satunya wanita di hati suamiku. Namun sayangnya ku telah gagal untuk itu"
"Jadi tolong lepaskan aku. Biarlah aku pergi. Kembalikan aku pada orang tuaku. Turuti semua permintaan orang tuamu. Jadilah anak yang berbakti padanya"
Tari mengatakan dengan derai air mata yang membanjiri pipinya.
Bu Srining terdiam untuk sesaat, tak dapat di pungkiri hatinya juga turut merasakan pilu ketika melihat pemandangan demikian. Tapi bagiamana Mawar jauh lebih membutuhkan Randi di banding Tari.
"Sudahlah Ran, mama rasa kamu yang harus mengalah. Turuti semua perintah istrimu. Ceraikan dia dan bina hubungan yang baru dengan Mawar"
__ADS_1
Randi terdiam membisu mendengar ucapan Mamanya. Lagi-lagi ia harus terperangah dengan banyaknya kejutan dari sikap wanita yang telah melahirkannya. Wanita yang. begitu di cintai dan di agungkan selama ini.
"Ma ini rumah tanggaku dengan istriku!"
Dengan nada yang bergetar Randi berucap demikian pada Mamanya.
"Sudahlah Mas Randi, apa yang di katakan Mamamu memang benar. Turuti permintaan mbak Tari. Bebaskan dia. Aku rasa mbak Tari jauh lebih bahagia tanpa kehadiranmu nantinya"
"Sungguh aku tak rela jika ada orang yang menyakitinya"
"Tapi Pul"
Tari diam saja tak berucap sepatah katapun. Hatinya terlanjur sakit untuk itu. Ia sudah di khianati, yang lebih menyakitkan lagi adalah mereka dengan sengaja membohongi Tari akan semua yang sudah terjadi. Membiarkan dia hidup dalam dunia dongeng yang indah namun berakhir menyakitkan.
"Beri aku kesempatan sekali lagi, akan segera menceraikan Mawar"
"Kamu tidak akan bisa menceraikan Mawar Mas. Dia wanita yang di pilih Ibumu untuk menjadi menantunya. Dia wanita sempurna yang bisa memberimu keturunan. Sementara aku apa? aku hanya wanita mandul yang menjadi beban dalam hidupmu saja"
'Tar.."
Randi tak kuasa untuk tak menangis, ia tutur menangisi semua kekeliruan yang telah ia pilih sendiri.
"Sekarang kalian semua pulanglah. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak mau berbagi dan aku mau mengakhiri semua ini dengan segera"
Tadi berlari meninggalkan mereka yang masih terdiam di sana. Sementara Ipul yang begitu geram dengan tinggal keluarga Randi, lekas mengusir mereka dengan segera saat itu juga.
"Pergi kalian dari sini dan jangan ganggu hidup mbak Tari lagi"
"Tapi Pul, aku masih sangat mencintai Tari"
"Aku tak peduli untuk itu, kalian semua jahat. Lekas tinggalkan toko ini sekarang juga"
"Aku bilang sekarang" teriak Ipul di hadapan mereka semuanya.
__ADS_1
.
.