Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Harapan Randi


__ADS_3

“Apa nak, katakanlah”, Wajah Bu Srining, kembali tersenyum ketika mendapati Randi, sudah keluar dari kamarnya. Ia berfikir Randi, mulai terbiasa dengan keadaan yang ada tanpa kehadiran Tari.


Randi menatap satu persatu orang yang ada dalam meja makan dengan tajam. Deretan menu makanan telah terhidang di atas meja, namun sayang tak ada sedikit pun yang bisa menggugah selera makan Randi. Pria itu menatap jengah pada semua yang ada.


Pandangannya terhenti pada Mawar yang duduk di sebelahnya. Ia menatap wanita itu dengan tak suka. Menyadari arti tatapan Randi, Mawar lekat berucap dengan lirih.


“Mama, yang menyuruhnya untuk duduk di situ”.


Mawar tersenyum lembut pada suaminya, kini tangannya terulur mengambil sepiring nasi beserta lauk pauknya, ia hendak mengambilkan untuk Randi.


“Tidak usah!”, ucapnya dengan datar tanpa melihat wajah Mawar.


“Aku tidak ingin makan!, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu hal di sini!”.


Suasana makan menjadi tegang.


“Mawar...”.


Randi, menjeda ucapannya.


Semua mata sudah tertuju menatap wajahnya, menunggu bibir itu untuk berbicara mengucapkan sebuah kata.


“Aku akan memberikanmu apa pun yang kamu mau, termasuk seluruh harta kekayaan ku”.


Mawar tersenyum bahagia, mendengar sebuah kata yang indah keluar dari mulut suaminya. Memang sudah seharusnya begitu bagi pasangan suami dan istri harta adalah milik bersama.


“Tapi, aku ingin kita berpisah!”.


Wajah bahagia Mawar, berubah seketika menjadi kecut senyumnya redup. Sendok dan garpu dalam genggamannya luruh seketika. Rasanya makanan yang sudah sampai di kerongkongan tidak dapat ia telan.


Ia diam tak bereaksi.

__ADS_1


“RANDI!, Jaga bicaramu. Mawar sedang mengandung anakmu, dia ibu dari anakmu! Apa kamu pikir dengan menceraikan Mawar istrimu yang MANDUL itu akan bisa hamil? Apa kamu pikir dengan meninggalkan dan menelantarkan darah dagingmu sendiri akan lantas membuat istri Mandulmu itu lekas punya anak?heh!”. Bu Srining, seakan terbakar emosinya pagi itu, mungkin jika di cek tekanan darahnya sudah di atas 200 ketika mendengar permintaan anaknya.


Randi terdiam mendengar setiap untaian kata yang keluar dari mulut mamanya. Sungguh ia tak menyangka jika sang Mama sampai hati untuk berucap demikian pada Tari.


“Cukup!”.


“Apa? yang kumu cari lagi di dunia ini Ran? wanita yang tak bisa memberimu anak? heh. kamu mau hingga tua hidup dalam kesengsaraan dan tanpa keturunan?"


“Lihat Mawar, dia sedang hamil anakmu, lihat perutnya, di dalam sana ada darah dagingmu. Anak yang selama ini kamu rindukan  kehadirannya. Anak yang akan memberikanmu kebahagian ketika ia lahir nanti!”. Bu srining benar-benar emosi, ia tidak tahu arah jalan pikiran Randi ke mana, hingga tak bisa sejalan dengan keinginannya.


“BERHENTI! jangan teruskan Ma, kata-kata mama tidak hanya menyakiti Tari, tapi juga menyakiti hatiku"


“Kenapa berhenti Ran?, Mama mengatakan semua yang ada. Mama hanya ingin membuat matamu terbuka dengan kenyataan. Apa yang kamu harapkan dari perempuan MANDUL seperti Tari?”. Sorot mata Bu Srining, benar-benar menunjukan sebuah penghinaan dan penindasan.


Randi, bangun dari tempat duduknya, ia berdiri dengan tangan mengepal sempurna. Jika bukan orang tuanya yang menghina istri tersayangnya, mungkin saat itu juga tangan Randi sudah jatuh di pipi orang yang telah menghina istrinya. Sorot matanya berkobar menahan amaran. Nafasnya begitu berat dan naik turu. Kini tangannya menggebrak meja makan sebagai tanda tidak terimanya.


BRAK....


Semua orang yang ada di meja makan tampak tersentak kaget, Pak Nario reflek memegang dadanya seketika, ia memang kepala keluarga, tapi ia lemah dengan keadaan yang ada. Bagi keluarga Randi, perintah dari sang Mama adalah sabda yang harus di laksanakan.


Randi pergi meninggalkan meja makan tersebut, ia kembali ke kamar dengan membanting pintu sangat keras.


Suasana meja makan dingin dan mencekam, selera makan menghilang seketika, soto daging yang terhidang di atas meja kehilangan cita rasanya.


“Mama, Papa, permisi aku mau ke kamar dulu”. Pamit Mawar pada kedua mertuanya, ia melangkah dengan pelan menuju kamar yang tak jauh dari meja makan.


Langkahnya begitu pelan, tubuhnya bergetar hingga membuatnya memerlukan sandaran untuk berjalan. Tangan Mawar terulur untuk memegang tembok yang ada, ia berpegang cukup kuat hingga sampai di kamarnya.


Menangis.


Begitulah yang bisa di lakukan Mawar. Ia hanya mampu meringkuk di dalam kamar, menahan sedih dan deraian air mata yang telah meluruh saat itu juga.

__ADS_1


***


Tiga jam kemudian, Randi masih setia mengurung dirinya, ia enggan untuk keluar dari kamarnya. Perasaannya benar-benar kacau luar biasa. Setiap saat ia slalu berdoa pada Sang Pencipta, Randi berharap Allah akan mengembalikan kehidupannya yang dalu seperti sedia kala.


Beberapa hari yang ia lewati tanpa kehadiran istri pertamanya sungguh terasa begitu memilukan. Ia merasakan kesepian yang mendera di hati. Randi juga merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi meskipun ia sudah memiliki semuanya.


“Randi, buka pintunya”, suara Pak Nario terdengar dengan jelas di balik pintu kamarnya.


Menyadari kehadiran sang Papa, Randi bergegas untuk membuka pintu. Ini pertama kalinya Pak Nario turut berbicara masalah rumah tangganya.


“Apa Papa boleh masuk?”,


Randi tak memberikan jawaban, tetapi ia membukakan pintu sebagai akses bagi Pak Nario bisa masuk dalam kamarnya.


Kini dua lelaki beda generasi sedang duduk dalam satu ranjang yang sama, mereka berdua masih sama-sama terdiam enggan untuk berucap. Mata Pak Nari menatap sekitar kamar yang begitu berantakan. Randi mengeluarkan semua baju-baju Tari dan memeluknya, mencium sisa-sisa aroma yang tertinggal di sana.


Pak Nario menggelengkan kepalanya, ia menatap iba dengan kondisi yang ada saat ini.


“Sebenarnya Papa kasihan sama Mawar, di benar-benar kekurangan kasih sayangmu”. Pak Nario mengucapkan sebuah kalimat pelan dan hati-hati.


Daim.


Randi masih enggan untuk menanggapi.


“Randi”. Desis kembali Papanya.


“Laki-laki itu di ciptakan untuk tanggung jawab dengan sebuah keputusan yang sudah ia ambil”.


“Aku juga kasihan padanya Pa, karena itulah aku berniat untuk menceraikannya dan sebagai gantinya aku akan memberikan hartaku untuknya, termasuk usaha laundry yang sedang Papa kelola. Aku ingin membaginya separuh untuk Mawar”.


“Apa kamu sudah gila? Menukar perasan seorang istri dengan harta yang kamu miliki?”. Desis Pak Nario tidak terima dengan keputusan yang akan di ambil putranya.

__ADS_1


“Lantas aku harus berbuat apa Pa? aku tidak bisa menerima keadaan ini. Hatiku sepenuhnya menolak kehadiran Mawar. Kalian tahu bukan, aku melakukan semua ini hanya atas rasa baktiku pada kalian berdua"


Randi memilih untuk membuang wajahnya dengan kasar.


__ADS_2