
Pagi yang cerah, sinar matahari mulai memasuki celah-celah ventilasi mengisi ruang kamar yang masih tertutup rapat. Tari terduduk di depan meja riasnya. Ia sudah terbangun sejak subuh tadi, namun enggan untuk keluar dari kamar. Ia mulai merasakan sendi dan tulang-tulangnya nyeri setelah bekerja seharian penuh, bahkan sampai pulang malam kemarin.
Risma mulai memasuki kamar sang Bunda. Ia masuk begitu saja tanpa permisi dengan wajah yang cemberut. Ia masih mengunakan piyama sama seperti semalam. Piyama motif barbie warna pink yang di belikan Fitri dua tahun yang lalu sebagai kado saat ulang tahunnya yang ke enam. Konon piyama itu kembaran dengan Arsy.
Gadis kecil itu memilih untuk duduk di tepi ranjang sang Bunda. Matanya menatap sang Bunda yang sedang mengoleskan beberapa minyak angin pada kaki dan tangannya. Melihat wajah Risma yang sedang menunduk ke bawah, membuat Tari menyadari jika sang anak sedang melayangkan protes padanya.
“Kenapa sayang? Anak Bunda kenapa kok manyun saja. Ini masih pagi sayang”
“Bunda, Bunda kenapa kemarin tidak pulang-pulang?”
“Bunda kan sudah janji untuk bantu ngerjain tugasku. Tapi kemaren Bunda tak pulang-pulang”
Jadi itu masalahnya Risma merajuk. Dipeluknya Risma dan di kecupan kening gadis itu dengan cukup lama sekali.
“Maaf ya sayang. Bunda minta maaf. Semalam Bunda banyak sekali orderan kuenya, motor Bunda juga mogok jadi Bunda harus telat pulangnya”
“Kalau saja Ayah ada, Bunda pasti tidak perlu bekerja keras seperti ini”
Seketika hati Tari merasa nyeri tiada terkira. Mendengar ucapan Risma seperti tertusuk pisau yang begitu tajam. Benar-benar nyeri namun tak berdarah. Sekuat tenaga ia menahan agar air matanya tak jatuh di depan sang anak.
Bagi Tari, pantang rasanya menangis di hadapan sang anak. Selama ini, ia akan berusaha untuk tegar dalam segala hal, ketika menghadapi hidup ini. Ia tak ingin terlalu lemah terlelap dalam kesedihan yang tak berujung.
“Bun, salah Risma apa ya sama Ayah? Kok sekarang Ayah tak pernah lagi datang untuk menemui aku. Apa aku anak yang nakal Bun?” Risma mendongak menatap sang Bunda, mata mereka saling bertemu saat itu. Meskipun semalam ia sudah mencoba untuk mencari jawaban dari neneknya, tapi rasanya tak cukup sebelum mendengar langsung dari mulut Bundanya.
Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut sang anak membuat hati Tari semakin berantakan. Tak hanya tubuhnya, hatinya pun terasa remuk redam. Kini Tari tak lagi mampu untuk menahan tangisnya. Dipeluknya gadis kecil itu dengan sangat erat, sekaligus untuk menyembunyikan linangan air mata yang membanjiri pelupuk matanya.
Diam.
__ADS_1
Kedua wanita beda generasi saling terdiam untuk beberapa saat. Seakan sedang menumpahkan segala rasa yang ada dalam hati mereka.
“Kalau Ayah sayang sama aku, kenapa Ayah tidak ke sini? Apa Ayah tidak rindu bermain denganku Bun?”
“Bunda menangis ya?” Tanyanya kemudian dengan mengusap sisa-sisa air mata yang melewati celah mata Bundanya.
Tari menangkup kedua pipi Risma dengan lembut. Ia menatap bola mata sang anak yang hitam pekat dan jernih “Ayah tidak jahat sayang, hanya saja ada sesuatu hal yang membuat Ayah harus bersikap seperti saat ini. Suatu saat nanti ketika kamu sudah besar, kamu akan mengerti dengan apa yang terjadi pada kami”
“Apa itu artinya kita tidak bisa lagi bertemu dengan Ayah Bun”
Tari menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Risma ingin bertemu dengan Ayah?”
Risma mengangguk dengan cepat, namun sejurus kemudian ia menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak mau ketemu lagi sama Ayah, jika itu hanya membuat Bunda menangis” Risma kembali memeluk sang Bunda. Pagi yang cerah berubah begitu saja menjadi mendung, semendung hati dua insan beda usia yang sedang merindukan satu orang yang sama.
Rindu?
Entahlah biarlah waktu yang menjawab semuanya, saat ini yang terpenting dalam hidupnya adalah Risma, Ibu dan juga Ipul.
“Bunda sedih karena teringat Ayah ya?”
“Maafkan Risma Bun, Risma janji setelah ini tidak akan lagi tanya-tanya tentang Ayah. Lihat ini Bun” Risma menunjukan gambar yang telah ia bikin sejak semalam.
“Ini keluarga kita, ada Bunda, Nenek dan aku. Kita bertiga tersenyum bahagia walau tanpa Ayah” gadis kecil itu mengelus pucuk kepala Bundanya dengan pelan. Sementara Tari, hatinya semakin hancur ketika melihat tingkah anaknya yang seperti ini.
Maaf nak, maafkan Bunda yang tidak bisa memberimu keluarga yang lengkap. Kebahagian yang utuh seperti kodrat seorang anak pada umumnya.
__ADS_1
***
Surabaya
Tiga hari sudah kondisi Bu Srining memburuk. Ia tak lagi bisa mencerna makanan dengan baik. Ia bertahan hidup dengan bantuan infus dan bubur yang di masukan dalam sebuah slang kecil. Bu Srining masih hidup, namun tak punya tenaga dan kekuatan sama sekali, ia terkapar tidur di atas ranjang kamarnya.
Randi dan Pak Nario saling bergantian untuk menjaga dan merawat Bu Srining, mengingat mereka harus tetap ke laundry demi untuk kestabilan keuangan kelurga.
“Ran, Papa rasa kita harus lekas membawa Mama ke rumah sakit. Atau setidaknya kamu carikan obat untuk Mama Ran. Papa benar-benar tak tega jika melihatnya harus seperti ini”
Pak Nario duduk di ranjang, ia duduk dengan gusar di sebelah istrinya. Matanya menatap nanar wanita yang dulu begitu garang dan memiliki banyak kekuataan. Sekarang semuanya telah sirna, bahkan untuk bangkit dari tempat tidurnya saja ia sudah tidak mampu. Beberapa kali Pak Nario membenarkan selimut yang di gunakan istrinya. Namun Bu Srining membuang selimut tersebut ke sembarang arah.
Enam bulan terakhir ini Randi tak lagi membawa Bu Srining untuk terapi ataupun berobat ke rumah sakit. Ia lebih memilih untuk memanggil Dokter dan melakukan perawatan di rumah. Jika dalam kondisi stabil Dokter akan atang seminggu sekali atau tiga hari sekali. Namun di saat kondisinya drop seperti ini, Dokter akan datang dua kali dalam sehari.
Randi terdiam, ia tampak berfikir dan mempertimbangkan ucapan Papanya.
“Cobalah baa Mamamu ke salah satu rumah sakit yang Papa tunjuk kemarin. Carilah Dokter itu siapa tahu jalan kesembuhan Mamamu ada di sana”
“Kalau sembuh, kalau tidak?” tiba-tiba kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Randi.
“Setidaknya kita sudah berusaha Ran”
“Jika kamu sudah lelah untuk membawa Mama berobat, tolong pergilah, cari Tari dan Risma. Bawa dia kemari, pertemukan Mamamu dengan dia”
Pak Nario mengiba, memohon pada anaknya berharap Randi mau mencari mantan istrinya.
“Kau tidak perlu memaksanya untuk hidup bersamamu atau tinggal di sini. Cukup bawa dia kemari dan pertemukan dengan Mamamu saja”
__ADS_1
“Papa pikir setelah apa yang terjadi pada keluarga kita, Tari masih mau kembali dan tinggal bersamaku?”
Jangan lupa dukungannya 😊