Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Persiapan Lamaran


__ADS_3

Seminggu sudah sejak kejadian lamaran dadakan yang diadakan Randi ke rumah Tari, selama seminggu itu pula Tari dan Randi tidak berkomunikasi secara langsung mereka hanya saling mengirim pesan satu sama lain untuk penjajakan. Mereka saling bercerita tentang visi misi pernikahan serta langkah ke depan seperti apa yang di harapkan.


Secara garis besar Tari menemukan kenyamanan saat berkomunikasi, tutur katanya yang sopan serta sikapnya yang tidak berlebihan membuatnya tertarik untuk mengenal sosok Randi lebih dalam. Tak lupa Tari mencari tahu kehidupan Randi dari berbagai media sosial yang ada dan juga dari Fitri sahabatnya, bukan tak percaya hanya ingin memastikan kelak laki-laki yang bersanding dengannya adalah orang yang tepat.


Satu minggu berlalu, tibalah saat Tari untuk berkunjung ke rumah sang ibu, menjenguk dan ingin menyampaikan banyak hal tentang dia dan Randi. Tari ingin meminta pendapat dari sang ibu tentang laki-laki yang melamarnya beberapa hari yang lalu.


Tak lupa selain meminta pendapat ibu, Tari juga berdoa pada sang khalik untuk di berikan petunjuk dan kemudahan dalam urusan ini. Setiap malam tak henti-hentinya Tari memohon untuk di berikan kemantapan hati sebelum memilih.


“Apakah kamu sudah menemukan jawabannya nak?”


Tari menganggukkan kepalanya.


“Jadi bagaimana?”.


“Tari bersedia bu”.


“Alhamdulilah, ayo lekas kabari nak Randi sesegera mungkin”.


Tari tersenyum hangat dan lekas meraih ponselnya untuk menghubungi Randi, Tari menyerahkan ponselnya pada ibu untuk mengatakan jawabannya.


“Assalamualaikum, nak Randi apa kabar?”.


Tak butuh waktu yang lama panggilan sudah terhubung.


“Wassalamualaikum bu, alhamdulilah baik, ibu bagaimana?”.


“Alhamdulilah baik juga nak, nak ibu mau menyampaikan jawaban dari lamaran nak Randi tempo hari”.


Jantung Randi sudah berdetak tak normal, bergejolak takut untuk menerima penolakan hingga membuat perutnya mulas di tambah keringat dingin menyapa.


“Halo nak”.


“Iya bu, jadi bagaimana?”. suaranya bergetar menunggu jawaban.

__ADS_1


“Tari bersedia nak, silahkan bawa orang tua kamu kesini”.


“Alhamdulilah, ucapnya mengucap sukur akan lamarannya yang telah di terima”.


Degan sigap dan wajah yang merona bahagian, Randi lekas menuju ruang tengah untuk memberi tahu kabar bahagia ini pada orang tuanya.


“Bunda ayah lamaranku di terima”, dengan berlari dan bersorak bahagia,


“Alhamdulilah”, ucap kedua orang tua Randi secara bersamaan, mereka bahagia sekali akhirnya dapat melihat Randi kembali bisa tersenyum setelah beberapa tahun terakhir ini slalu murung dan bersikap dingin. Ini merupakan senyum lepas pertama yang di berikan Randi.


“Bun, aku mau acara lamaran dilakukan besok”.


“Iya nak bunda dan ayah siap”.


Diam-diam tanpa sepengetahuan Randi kedua orang tuanya sudah menyiapkan berbagai macam pernak-pernik untuk seserahan jika sewaktu-wakti Randi menemukan gadis pilihannya. Bunda membeli dari mulai tas, jam tangan dan beberapa perhiasan setiap kali sedang berjalan-jalan, maklum mereka tidak mempunyai anak perempuan, jadi suka berkhayal jika memiliki anak perempuan akan di perlakukan seperti ini.


Randi pun lekas memberi tahu kabar ini pada Bethari.


***


Tari yang mendapat kabar tersebut begitu terkejut, betapa tidak Tari berfikir tidak akan secepat ini. Tapi dia juga bahagia sekali, ini pertanda jika Randi memang benar-benar serius untuk menjadikannya istri.


Acara persiapan lamaran mulai dilakukan, meski sederhana tapi tetap saja dengan segala keriwehan yang ada. Beberapa saudara dan tetangga terdekat turut hadir di sana untuk membantu proses persiapan lamaran Tari tak terkecuali bude Murni dan pakde Dar.


Ya bude Murni dan pakde Dar turut andil untuk membantu proses persiapan lamaran Tari, meski beberapa waktu yang lalu mereka sempat bersi tegang namun ikatan darah saudara tak bisa luntur begitu saja. Lagi-lagi ibu Tari dapat dengan mudah memaafkan sikap mereka yang sudah-sudah atas dasar persaudaraan dan silaturahmi agar tetap terjaga.


Beberapa saudara ada yang bertugas untuk membuat kue, ada pula yang memasak makanan berat dan beberapa lainnya mendekor ruang tamu tersebut agar terlihat lebih indah dan menarik. Seperti biasa tugas bude Murni adalah mengincip-incip setiap makanan yang ada kemudian mengomentari dari kurang a hingga kurang z.


Seperti pagi itu, tetangga sedang membuat kue lapis dengan warna coklat dan putih, adonan sudah jadi dan tinggal di kukus.


“Ini adonan untuk apa?”, tanya bude dengan menunju satu baskom besar adonan kue lapis yang siap untuk di kukus.


“Ini untuk bahan kue lapis mbak Mur”. jawab tetangga dengan menuangkan sedikit demi sedikit adonan tersebut ke dalam cetakan yang ada.

__ADS_1


“Aduh lapis kenapa warna coklat dan putih seperti itu”. Tunjuk bude pada ember yang berisi adonan.


“Kenapa mbak?”.


“Harusnya warna, pink, hijau, putih biar lebih meriah, kalau putih dan coklat begini aduh pucat jadinya, udah minggir sana yang adonan ini, bikin lagi aja sekarang”.


“Sudah terlanjur mbak nanti sayang kalau harus dibuang”. Tetangga tersebut lekas memasukan adonan ke dalam kukusan.


Beberapa menit kemudian adonan sudah matang dan di keluarkan dari kukusan yang ada.


“Kan aku sudah bilang, ini nanti jadinya jelek tuh lihat saja, udah bikin lagi sana kasih warna hijau, pink sama putih”. Bude mengambil sekotak loyang kue lapis tersebut dan membawanya pulang ke rumah.


“Katanya jelek, pucat tapi kok di bawa’, gerutu tetangga yang membuat kue tersebut.


Sedang ibu yang mengamati hanya geleng-geleng kepal saja melihat perilaku saudaranya yang begitu ajaib.


Sedangkan di dalam kamar Tari tampak sedang mempersiapkan diri, memoles wajahnya dengan make up tipis natural biar terlihat lebih fresh, Tari memoles wajahnya sendiri karena acara dilakukan cukup mendadak hingga tak sempat untuk memanggil mua. Tari juga hanya menggunakan gamis putih dalam acara ini karena semua serda dadakan.


“Alhamdulilah mungkin ini jawaban dari setiap bait-bait doa yang ku panjatkan pada sang khalik di setiap malamnya”. Ucap Tari dalam hati dengan tersenyum simpul kala menatap cermin.


“Tar kamu sedang apa di dalam?”, ucap bude dengan mengetuk-ketuk pintu kamar Tari.


Sebenarnya Tari masih jengkel sekali dengan perilaku keluarga budenya yang bertindak seenaknya sendiri dengan menjual rumah ini dan menghabiskan uang untuk perbaikan genting.


Tari menarik nafas dalam-dalam mencoba bersabar, mencoba mengambil hikmah dari semua ini. Siapa sangka dengan kejadian beberapa waktu yang lalu akibat ulah budenya membuat Tari di pertemukan dengan jodoh yang tak pernah dia banyangkan.


“Slalu ada hikmah di balik setiap kejadian”.


Begitulah kata-kata yang tepat untuk mengurangi segala rasa sakit hati dan dengki dengan orang lain.


“Ada apa bude?. jawabnya dengan membuka pintu kamarnya.


“Minta uangnya buat beli buah, itu hidangan untuk menyambut tamu isinya kue semua belum ada buahnya sama sekali”. bude menyodorkan tangannya untuk meminta uang.

__ADS_1


Tari lekas mengambil beberapa lembar uang warna merah dan menyerahkan pada bude. Kali ini Tari tak memberinya lebih.


“Dikit banget ngasihnya, kamu pikir mobil bude bisa jalan sendiri tidak pakai bensin untuk ke sananya?”.


__ADS_2