Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Pertemuan Randi dan Tari 2


__ADS_3

“Assalamualaikum” suara seorang wanita yang lembut dan mendayu-dayu terdengar menggema mengisi ruangan. Ia lekas membuka pintu kamar Risma tanpa beban. Justru wajahnya


terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Ia masih belum menyadari jika dalam ruangan itu terdapat banyak orang.


Deg...


Jantung Tari terasa ingin berhenti saat itu juga. Bagaimanapun ia tak bisa membohongi


hatinya, jika ia masih begitu gugup dan kaget ketika harus berhadapan dengan sosok yang pernah membersamainya dulu.


“Waalaikumsalam” jawab seluruh orang yang ada dalam kamar itu.


Randi mengurungkan niatnya untuk melangkah. Tiba-tiba kakinya merasa kelu tak bertenaga. Matanya menatap pada sosok wanita yang telah lama tak terlihat. Wajah wanita yang sudah membuatnya menggila beberapa tahun ini. Hal yang sama juga di rasakan Bu Srining, ia menatap Tari tanpa berkedip. Kepalanya menunduk


berkali-kali, bibirnya bergerak-gerak seperti ada banyak hal yang akan di sampaikan.


Hening dan canggung kembali mengisi ruangan. Meskipun dalam ruangan tersebut terdapat


banyak orang, tapi entah mengapa rasanya menjadi sepi seperti tak berpenghuni. Semuanya memilih untuk bungkam dengan pikiran masing-masing.


“Tari” Ucap Randi tanpa suara. Keduanya masih kaget dengan pertemuan ini, meskipun keduanya juga tau jika dalam waktu dekat mereka pasti akan di pertemukan oleh keadaan.


Untuk beberapa saat, mereka saling berpandangan dalam diam. Setelah lebih dari tiga


tahun tidak berjumpa dan tidak berkabar. Akhirnya mereka kembali di pertemukan


dalam situasi semacam ini. Rasa rindu yang di rasakan Randi sudah menggunung, meluap dan siap untuk meledak. Perasaan keduanya campur aduk.


Sekuat tenaga Tari menahan kakinya, agar tak melemas saat itu. Ia mencoba untuk bersikap tenang walau dadanya bergemuruh hebat. Satu keluarga yang tak ingin ia temui, nyatanya kembali menunjukan keberadaanya.


Tiga tahun berpisah, tiga tahun mencoba untuk mencari kabarnya. Tiga tahun berusaha untuk menemukan kembali cintanya. Membuat Randi sama sekali tidak bisa move on. Benar saja, pria itu gagal move on dari mantan istrinya. Perempuan yang kini berada di hadapannya. Perpisahan karena di paksa keadaan, membuat cintanya tak pernah pudar walau termakan waktu dan usia.


Mulut mereka saling bergerak namun tak bersuara, berusaha untuk mengucapkan sebuah


kata walau terasa kelu. Hening, suasana masih sangat hening. Bahkan waktu terasa melambat. Tari yang masih berada di ambang pintu, sementara Randi masih berada di sisi ranjang Risma, namun sudah berdiri dan berhadapan dengan pintu keluar. Keduanya masih mematung enggan untuk saling melangkah.


“Sebaiknya antarkan Mamamu untuk istirahat dulu, dia butuh waktu untuk istirahat”  suara Bu Marni memecah keheningan di anatar mereka dalam ruangan itu. Ia berucap dengan nada yang dingin dan cenderung ketus. Tak bisa di bohongi, jika Bu Marni tidak menyukai kondisi dan situasi

__ADS_1


semacam ini.


Beberapa detik kemudian, Tari tersadar dalam lamunannya. Ia lekas menghampiri Bu Srining,


mencium tangan anita itu dengan penuh takzim. Seperti biasah Tari, tetap memperlakukannya dengan penuh hormat. Walau tak dapat di pungkiri nafasnya naik turun ketika harus berhadapan kembali degan seseorang yang telah


menyingkirkannya di kehidupan dulu.


“Apa kabarnya Ma?” ia bertanya seraya menunduk untuk mensejajarkan diri dengan laan


bicaranya.


Bu Srining tak dapat bersuara lebih, ia hanya menganggukkan kepalanya dan mengelus


lembut tangan mantan menantunya.


“Tar, biarkan Bu Srining kembali. Ia harus beristirahat sejak tadi sudah di sini. Kasihan


beliau pasti capek” titah Ibu kemudian. Sungguh ia tak ridho sang anak mencium kembali tangan mantan mertuanya, meski ia sendiri yang selama ini mengajarkan berbuat kebaikan pada sesama manusia.


Randi yang menyadari kehadirannya tidak di harapkan oleh Bu Marni lekas tersenyum.


“Saya permisi dulu, tapi saya akan kembali lagi ke sini nanti” izinnya yang kemudian tak mendapat balasan dari siapa pun yang ada di sana.


Randi dengan segenap perasaan yang bahagia bercampur sedih mulai meningalkan ruangan


rawat inap Risma untuk sesaat. Hatinya sibuk merangkai kata untuk berbincang dengan Tari setalah ini.


Tari mulai kembali melangkah memasuki kamar Risma, ia membawa Tote bag biru dan


beberapa bingkisan plastik di tangannya. Dengan tenang meletakan kantung plastik


tersebut di laci yang bersebelahan dengan kamar Risma. Sesuai pesanan sang anak


yang meminta untuk di bawakan camilan ringan kesukaannya. Ia juga membawa kopi untuk menghilangkan penat yang mendera.


“Bu ini sudah malam, sebaiknya Ibu istirahat dulu. Biar aku yang menjaga Risma di sini. Tadi aku sudah memesankan ojek, dan beliau sudah menunggu di depan” ia tersenyum menatap sang ibu. Seakan ingin mengatakan jika ia sedang baik-baik saja malam itu.

__ADS_1


“Tapi Tar?” Bu Marni meremas jemarinya dengan resah, ia adalah orang yang paling Khawatir dalam pertemuan mereka hari ini.


Tangan Tari, terulur menyentuh bahu Bu Marni, ia memeluk dari belakang dan menunjukan


rasa manja selayaknya anak pada umumnya.


“Bu, tenanglah aku sudah dewasa. Aku jauh lebih baik dari sebelumnya. Hatiku sudah


tak lagi serapuh dulu”


“Apa kamu yakin?”


Tari memilih untuk menganggukkan kepalanya saja.


“Pulang ya Bu istirahat, aku tak mau jika ibu juga turut sakit nantinya”


“Hah, baiklah. Berjanjilah satu hal jika mereka menyakitimu kembali kamu harus melawan”


“Siap”


Bu Marni lekas meninggalkan ruang rawat Risma, ia melangkah dengan keraguan dan


kecemasan.


“Hati-hati nek” Risma melambaikan tangan saat wanita paruh baya itu meninggalkan ruangan..


.


.


Tiga jam kemudian.


Waktu menunjukan pukul sembilan malam. Tari baru saja menutup lembar terakhir buku


cerita yang di bawaannya. Malam ini Risma menginginkan untuk di bacakan cerita Cinderella. Gadis kecil itu sudah menutup matanya. Dengan cukup telaten Tari membenarkan selimut sang anak. Mencium singkat keningnya sebelum membereskan beberapa buku yang berserakan di kasur anaknya.


“Boleh aku masuk?”

__ADS_1


Rasanya kata-kata itu ingin sekali meluncur dari mulutnya.


__ADS_2