Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Tiga Insan Yang terluka


__ADS_3

Malam semakin larut, namun ia tak kan pernah benar-benar hening, bagi mereka yang sedang di pisahkan. Seperti malam ini, langit menangis dengan begitu lebatnya. Guntur bergemuruh saling bersautan, seakan sedang menemani sekeping hati yang sunyi. Jam sudah menunjukan pukul satu malam, namun Tari tak kunjung dapat menutup matanya.


Setiap ia mencoba untuk menutup mata, maka sekelebat bayang-bayang wajah Randi dan Mawar, yang sedang memadu kasih begitu nyata di pikirannya. Ia akan kembali menangis. Dadanya terasa begitu sesak kala mengingat kenyataan yang ada. Terkadang Tari masih berharap ini semua hanyalah sebuah mimpi belaka. Hingga membuatnya ingin lekas terbangun dari mimpi itu.


Tari melirik Risma, yang kini sedang tertidur dengan cukup pulas. Dengkuran halus mulai terdengar, ia membelai lembut rambut dan wajah Risma. Kharisma Nur Laila, trimakasih kehadiranmu membawa cahaya bagi Bunda yang sedang tersesat dalam kegelapan seperti ini.


Ah semua itu hanya bualan semata, mereka dengan sengaja bersandiwara dengan cukup epik di depanku. Tari kembali mengusap lembut sudut matanya yang basah.


Kini tangan Tari terulur memeluk lembut sang anak, mencoba mencari ketenangan di sana. Bibirnya tak henti-henti bertasbih pada sang Pencipta memohon sebuah kekuatan dari-Nya.


Ia mencoba beberapa kali memejamkan matanya, berharap malam dapat memberikan ketenangan bagi hati yang sedang riuh porak poranda.


***


Sementara itu, masih di dalam dunia yang sama, kini Randi sedang meringkuk di atas kasurnya. Jika bisanya kamar adalah tempat favorit untuk melepas lelah baginya, namun tidak dengan sekarang. Kamar itu menjadi dingin seakan tak ada kehidupan lagi di sana.


Ia berkali-kali mencoba memejamkan matanya, namun sayang matanya enggan untuk terpejam. Semakin ia mencoba maka bayang-bayang wajah Tari yang sedang menangis karena perbuatannya terpampang sempurna pada ingatannya.


Randi frustasi, ia menjambak-jambak rambutnya dengan kasar. Ia tak lagi menemukan kedamaian di kamarnya.


Tangan Randi terulur, meraih bantal yang ada di sebelahnya. Kini ia memeluk bantal itu, bantal yang masih menyisakan harum dari istrinya, ia menghirup dalam-dalam bantal tersebut, membayangkan seakan sedang memeluk Tari.


Ya Allah aku sangat mencintainya, aku tahu aku telah lalai menjadi suami yang buruk untuknya, untuk itu Ya Allah aku terima apapun hukuman yang engkau berikan padaku. Namun satu Ya Allah jangan pisahkan aku dengan dia, wanita yang sangat aku sayangi.


***


Rumah Sakit.


Lima hari sudah Mawar Mawangi di rawat di rumah sakit, seperti malam-malam sebelumnya. Malamnya akan terasa dingin dan kelam. Tak ada suami yang ia cintai di sisinya, tak ada sanak saudara yang menemaninya.


Ia menghabiskan malam dengan meringkuk di atas ranjang rumah sakit, memeluk anaknya yang masih dalam kandungan. Ia merintih menahan gejolak hati yang begitu sakit. Matanya sulit terpejam sekaan sedang memikul beban yang teramat besar.

__ADS_1


Beberapa kali ia mencoba untuk tertidur, namun bayang-bayang wajah Randi yang menangis, kala Tari mengetahui segalanya tetang kebenaran yang ada begitu berseliweran tanpa permisi di ingatannya. Randi yang sangat mencintai istri pertamanya dan Randi yang begitu acuh dengan istri keduanya.


Mawar memilih untuk bangkit dari pembaringannya, menatap langit yang bertabur bintang, cahayanya yang berkelip seolah memberi sedikit ketenangan untuknya. Namun tetap saja hati dan jiwanya begitu terkyak berada dalam posisi seperti ini.


Ia meraih benda pipih yang ada di meja kamarnya. Mawar mulai menyalakan Tv, berkali-kali ia mencoba menganti chanel yang ada. Namun tak ada satupun tayangan yang dapat mengalihkan pikirannya dari masalah ini. Ia lelah dan membiarkan tayangan tv itu berganti sesuai dengan kemauannya.


Sesekali Mawar melirik ponsel yang ada di genggamannya, berharap Randi menghubunginya. Namun sayang ia harus kembali menelan kecewa, jangankan pesan atau panggilan yang masuk. Wa yang sudah terkirim dari beberapa hari lalu saja tak ia buka.


Seperti Tari dan Randi, Mawar juga merasa tertekan dengan keadaan yang ada. Cintanya pada Randi rela membuatnya melakukan apapun demi bisa hidup bersama dengan pujaan hati.


Randi yang begitu mencintai Tari, rela berbuat apa saja termasuk menyembunyikan fakta yang ada, dan Mawar yang mencintai Randi rela mejadi yang kedua sepanjang hidupnya.


Begitulah ketiga insan yang di hadapkan dalam kondisi rumit, tenggelam dalam luka karena sebuah perasaan yang di atas namakan cinta.


***


Keesokan harinya, Randi masih setia untuk mengurung dirinya di dalam kamar. Ia enggan untuk keluar dari kamarnya. Randi masih hidup namun jiwanya telah mati. Kini ia bagaikan seonggok daging tanpa nyawa. Beberapa kali Bu Srining datang mengetuk pintu kamarnya, namun sayangnya ia tak bergeming. Enggan untuk membuka kamar atau hanya sekedar menjawab pertanyaan.


“Ran, ayo bangun dulu, Mama sudah siapkan sarapan untukmu”. Tangan Bu Srining terulur berkali-kali mengetuk pintu kamar anaknya.


Bu Srining begitu khawatir dengan keadaan Randi, ia berjalan mondar-mandir di depan kamar Randi, ingin memastikan tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan anaknya.


“Ran, buka pintu kamarnya nak, Mama ingin mengobati lukamu!”, seru Bu Srining dengan kembali menggedor-gedor pintu kamarnya.


Diam.


Randi enggan untuk menjawab. Ia memilih untuk diam saja menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan yang hampa dan merana, tangannya memeluk lembut bantal Tari.


.


.

__ADS_1


.


.


Rumah Sakit.


Menjelang pukul sepuluh pagi, Bu Srining berangkat menuju rumah sakit, ia hendak menjemput Mawar dan membawanya pulang ke rumahnya. Dengan harapan Bu Srining dapat mengontrol kondisi keduanya anak dan menantunya.


“Apa Mas Randi baik-baik saja Ma?, apa dia turut serta menjemput ku pulang pagi ini?’, Mawar menatap ke arah pintu masuk, berharap sosok Randi akan muncul di balik pintu.


“Maaf ya sayang, Randi sedang tidak enak badan nak. Beberapa hari yang lalau Ipul, adiknya Tari datang ke rumah, ia marah-marah dan memukul Randi hingga babak belur”, jawab Bu Srining dengan mulai merapikan barang-barang yang akan di bawa pulan.


“Hah? Bagaimana bisa Ma Ipul melakukan itu?”.


Bu Srining tak menjawab, ia lebih memilih untuk menggelengkan kepalanya saja.


“Mawar, mulai sekarang kamu ikut pulang ke rumah Mama saja ya nak, biar Mama lebih mudah memantau keadaan kamu”. Bu Srining masih sibuk merapikan barang-barang Mawar yang ada di laci rumah sakit.


Mata Mawar berbinar kala mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan oleh mertuanya. Mulai sekarang ia akan tinggal bersama dengan suaminya, akan menjadi ratu satu-satunya dalam istana Randi.


Ia tak menjawab dengan kata, hanya sebuah anggukan kecil dan senyum sempurna yang terpancar di wajahnya.


.


.


.


.


Jangan lupa like, komen dan subscribe ya kak, ikuti terus cerita mereka bertiga 😊

__ADS_1


__ADS_2