Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Keputusan


__ADS_3

“Kenapa? Kalian diam saja tak meninggalkan toko ini!"


Diam


Tak ada yang beranjak dari sana.Hanya Tari yang sudah berlalu lebih dulu meninggalkan mereka.


Sementara Bu Marni, hanya bisa menangis saja, ia tak menyangka jika anaknya menderita seperti ini, ia pikir keluarga Tari dan Randi adalah keluarga yang sempurna meski tanpa kehadiran anak di antara mereka berdua.


“Tari sayang, aku sungguh tak mau kehilangan kamu”, rintih Randi dengan memelas.


“Aku tidak bisa”, Jawab Tari dengan cepat, tanpa berani melihat wajah suaminya, ia menatap langit-langit untuk menahan air matanya. Tak kuasa menahan segala rasa yang ada. Ia berlari dengan jawabannya.


"Ma lakukan sesuatu, aku tidak mau kehilangan istrimu"


"Ibu maafkan aku, bagaimana aku bisa menebus segala kesalahan yang telah aku perbuat Bu?"


"Ibu tolong bujuk istriku untuk kembali padaku, sungguh aku sangat menyayanginya"


Randi bersujud di hadapan kami Bu Marni memohon pengampunan atas kesalahan yang telah ia perbuat.


Bu Marni diam tak bereaksi. Hatinya terlalu sakit akan hal ini.


“Silahkan kalian semua pulang dulu, dan tunggu surat cerai dari mbak Tari”. Tukas Ipul dengan menunjukan arah pintu keluar Toko, tangannya mengibas-ibaskan, menyuruh mereka untuk lekas pulang.


Bu Srining, menarik lengan Randi dengan pelan, membujuk sang anak untuk bangkit dari tempat duduknya. Ia menarik lembut tangan anaknya yang sedang duduk tersungkur di bawah lantai.


“Ibu maafkan aku, atas segala kebodohan dan kekeliruan yang telah aku ambil. Mohon ampun Bu, ampuni aku”.


Randi kembali memohon dan merintih berharap belas asih dadi Bu Marni wanita yang sudah di anggap seperti ibu kandungnya sendiri.


Diam.


Bu Marni, hanya diam saja, ia tak dapat mengucapkan satu kata pun, hatinya terlanjur sakit dengan perlakuan keluarga Randi.

__ADS_1


“Ibu mohon ampun, tolong Randi bantu bujuk Tari agar menarik semua kata-katanya”. Ia kembali mengiba dan memohon ampun.


Bu Marni masih diam saja, ia kehabisan kata-kata. Suaranya tercekat di tenggorokan. Ia pun lantas memilih untuk bangkit dari tempat duduknya dan menyusul Tari untuk kemar.


“PULANG!’. Teriak Ipul kembali dengan lantang tepat di hadapan wajah mereka berdua.


Semua karyawan yang ada di toko memperhatikan semua kejadian yang ada. Mereka saling berbisik membicarakan atasan mereka.


“Aku pikir keluarga Bu Tari, keluarga yang paling sempurna, ternyata....”,suara bisik-bisik dari beberapa karyawan yang ada.


“Padahal Bu Tari, cantik ya, ia juga baik dan ramah”.


“Padahal mereka berdua pasangan yang serasi ya”, dan masih banyak lagi bisik-bisik yang di ucapkan karyawan Toko di sana.


*****


Rumah Randi.


“Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran Mama, bisa-bisanya Mama memberikan pilihan seperti itu pada Tari, sedangkan aku, saat ini berjuang mati-matian membawanya kembali untuk pulang!”. ucap Randi, dengan emosi, ia melempar kunci mobil yang ia pegang.


“Trimakasih Ma, sudah memberikanku kehidupan dan terimakasih juga sudah membunuh kehidupanku!’, ia menatap Nanar Bu Srining.


“Sebegitu sempurnanya kah Mawar di mata Mama? Hingga segala kebaikan yang telah Tari lakukan pada keluarga kita harus sirna dengan mudahnya?!”.


“Mawar wanita yang terbaik untukmu Ran, dia bisa memberikan cucu, keturunan penerus keluarga kita”. Kini suara Bu Srining semakin meninggi, ia emosi dengan segala perkataan yang terlontar dari mulut putranya.


“Tapi bagiku yang terbaik untukku hanyalah Bethari Ambarwati”. Randi mencela ucapan Mamanya.


“Jika seperti itu maumu, silahkan saja kamu ceraikan Mawar, silahkan Ran, silahkan....”. Bu Srining berteriak dengan keras.


“Satu lagi, saat kamu sudah menceraikan Mawar, anggap saja Mamamu ini sudah mati!”. Tukasnya dan pergi meninggalkan Randi, yang masih berdiri di ruang tamu.


***

__ADS_1


Keheningan mulai menyelimuti bumi. Tinggal suara daun jatuh yang mengisi ruang gelap. Ada perasan rindu di separuh malam yang sepi, saat semua orang sedang asyik terlelap dalam mimpi. Bukan malam yang membawa sunyi tapi hati yang sudah terlanjur sepi.


Tari bangkit dari tempat tidurnya, ia tak menemukan kantuk hingga sepertiga malam. Matanya melirik gadis kecil yang terlelap dengan begitu damainya. Ia sedikit tersenyum.


Kini pandangannya beralih pada wanita paruh baya yang tidur di sebelah putrinya. Guratan keriput yang terpancar di waja Ibu. Wajah Ibu tak ubahnya dengan Tari, sembab setelah seharian mereka menangis bersama, menangisi keadaan yang ada.


Ia bangkit dari ranjangnya, melirik jam di layar ponselnya, kini ia menghela nafas berat. “Ya Allah sampai kapan hatiku akan seperti ini”. Kini kakinya mulai melangkah, ia memilih untuk mengadu pada sang pencipta dengan semua keadaan yang ada.


Tangannya kembali mengarah ke atas, memohon pada sang kuasa untuk di berikan kekuatan menjalani semua ini. Tari tak lagi memohon untuk di persatukan dengan Randi, ia benar-benar sudah mengikhlaskan Randi dengan madunya.


“Ya Allah, ya Rab wahai zat yang maha mengetahui segala yang tak ku ketahui. Teguhkan pendirianku. Semoga apa yang aku pilih adalah kebaikan untuk hidupku dan semuanya di masa yang akan datang" Rintih Tari di sepertiga malamnya.


Perlahan Tari membuka matanya.


“Ibu....”.


“Maafkan aku yang tertidur di sini Bu”. Tari bangkit dari tidurnya di atas sajadah, ia memeluk Ibunya, seolah mendapat kekuatan lebih saat berada dalam pelukan sang Ibu.


Bu Marni mengelus lembut punggung putrinya, “tidurlah di sini nak”. Ia menepuk lembut pahanya sebagai tempat bersandar putrinya.


"Apa kamu mengantuk? "


"Sampai kapanpun kamu akan tetap.menjadi putri kecil ibu, menangislah jika menangis. Tersenyumlah jika mau sedang bahagia. Jadikan Ibu sebagai temanmu untuk berkeluh kesah setelah Rab Mu"


“Sudah jangan sedih lagi, apapun keputusan kamu, Ibu akan mendukungnya”.


“Semuanya akan berlalu nak, rasa sakit mu akan berangsur membaik. Percayalah Allah akan lekas mengganti segala kesedihanmu menjadi keindahan yang tak pernah kamu sangka”.


“Bu aku ingin pergi dari sini, aku ingin menjauh dari hiruk pikuk yang ada. Aku ingin mengubur segala kenangan yang ada di kepala dan hatiku”. Tari menatap sang Ibu penuh harap.


“Baik nak, apapun itu Ibu akan mengikuti. Biar Ipul yang mengurus perceraian kalian”.


“Sekarang ayo kita ke kamar dulu, esok matahari akan datang dengan sinarnya, ia akan memberikan harapan baru untukmu”.

__ADS_1


Tari mencoba tersenyum, ia melipat kembali mukenanya dan meletakkan di dalam laci, sementara Bu Marni menarik lembut tangan putrinya membawanya ke dalam kamar. Mereka lantas tertidur bersama.


__ADS_2