Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Randi dan Mawar


__ADS_3

“Kamu?”


Ucap keduanya dengan kompak.


Mata Randi melirik wanita yang tak asing di hadapannya. Aura kebencian masih begitu


jelas di sana. Ia bahkan mengepalkan salah satu tangannya ketika melihat wanita itu.


Mawar.


Benar saja, wanita itu adalah Mawar. Saat malam tiba, ia akan mencari sisa-sia makanan yang ada. Mawar belum memiliki tempat tinggal dan kehidupan yang jelas hingga saat ini. Wanita itu masih luntang-lantung di jalanan.


“Mas Randi”


“Mas, maafkan aku” Desisnya dengan lirih dan mencoba untuk mengikis jarak mendekat pada laki-laki yang pernah menjadi suaminya itu.


Randi menatap jijik pada wanita yang ada di hadapannya, penampilan Mawar yang jauh


berubah dari dulu. Mawar tak lagi modis. Mawar tak lagi terlihat bersih. Wanita itu cenderung terlihat kusam dengan baju seadanya yang membalut tubuhnya.


“Mas maafkan aku. Maafkan atas segala yang telah terjadi”


Mawar yang tadinya berniat untuk marah-marah sekarang berubah arah. Ia bahkan rela bersimpuh pada orang yang telah melemparinya degan keleng kosong.


Randi tak bergeming, ia diam seribu bahasa. Matanya hanya melirik sekilas pada wanita


penghancur hidupnya. Wanita yang membawa hidupnya dalam kegelapan dan tenggelam


hingga saat ini.


“Pergi kau dari hadapanku. Bukankah tempatmu di penjara bukan di sini”


“Aku sudah bebeas mas, aku sudah mempertanggung jawabkan semua yang telah aku lakukan dulu. Aku sudah menebusnya”


Cih..


Desis Randi. Ia tersenyum kecut melihat wanita di hadapannya.


“Kau pikir setelah kau keluar dari tahanan kamu bisa membuat hidupku kembali normal? Kamu bisa mengembalikan hidupku yang sempurna dulu?”


“Tidak bodoh!” Randi berteriak dengan kencang di hadapan wajah Mawar. Matanya melirik terlihat sangat menakutkan.


“Jangan hanya menyalahkan diriku saja. Lihat pula dirimu. Betapa bodohnya dirimu sebagai lelaki yang dapat dengan mudah menerima bujuk rayuku”


“Semua aku lakukan atas perintah ibuku!” sentak Randi yang semakin terpancing emosi.


“Jangan lupa, sekalipun itu atas perintah ibumu, kau pun pernah meniduri ku!” ejek Mawar kemudian.


“Kau juga pernah menikmati malam denganku. Tak terima dengan ucapanku? Heh!. Tapi itulah


kenyataan yang ada. Kau memang sudah mengkhianati mantan istrimu dengan

__ADS_1


menyentuhku di malam itu”


“Tutup mulutmu!”


“Jangan kau pikir hanya kamu saja yang menderita dalam kisah ini. Aku pun menderita,


aku harus kehilangan anakku dan terpisah darinya, bahkan sebelum aku puas untuk


menggendongnya”


“Itu memang hukuman yang terbaik untukmu”


“Hah, sudahlah sesama pendosa dan penghianat. Bagaimana kalau kita kembali membuka lembaran baru. Menutup segala luka yang pernah terjadi di masa lalu dan memulai dengan kehidupan yang baru” tawar Mawar pada Randi. Ia menatap lekat lelaki yang ada di hadapannya saat ini.


“Kau gila!”


Randi memilih utuk meninggalkan Mawar yang masih berdiri mematung di sana. Ia kembali


berjalan menyusuri malam. Malam dan kegelapan seakan sama-sama berlomba untuk


menelannya dalam kenangan.


****


“Assalamualaikum” suara yang berasal dari rombongan keluarga terdengar menguar di luar sana. Ia mengucapkan salam dengan sangat keras dan langsung masuk begitu saja ke dalam rumah.


“Waalaikumsalam” jawab Bu Marni dan Tari secara kompak. Mereka lekas berlari ke ruang tamu untuk menyambut tamunya.


Rombongan yang datang adalah keluarga Bude Murni dan Pakde Dar. Benar saja, Bu Marni


memang mengundang satu-satunya saudara yang tersisa. Ia kembali mengundang keluarga ajaib itu untuk datang ke rumahnya, merayakan pernikahan Tari yang akan di laksanakan esok hari.


“Kalian ke mana saja? Kok tidak pernah memberi kabar lagi semenjak kejadian itu”


Bude Murni lekas berhamburan memeluk Ibu Marni dan juga Tari, ia menangis. Menitikkan


air mata kebahagian dan rasa rindu yang mendera tiada terkira. Ia banyak belajar selepas kepergian Tari sekeluarga dari jangkauannya. Ia menyadari jika hidup tak sepenuhnya harus bergantung pada orang lain. Kepergian Tari dan


keluarga dalam waktu yang lama membuatnya mulai terbiasa untuk hidup mandiri, tanpa menjadi benalu di kehidupan orang lain. Meski tak dapat di pungkiri beberapa waktu lalu, ia pernah memanfaatkan Randi demi persalinan menantunya.


“Hah, sudahlah Bude, banyak kisah yang terjadi di antara kami beberapa tahun terakhir ini”


“Yang terpenting kalian sehat-sehat semuanya. Adikku aku kangen sekali” pakde Dra tak kuasa menahan tangis keharuannya. Ia lekas memeluk Bu Marni dengan erat. Akhirnya Setelah sekian lama mereka kembali bertemu.


“Siapa calon suamimu yang sekarang Tar?”


“Dia serang Dokter” jawab Bu Marni dengan cepat.


“Wah Dokter, banyak uangnya dong” bude melirik dengan mengedipkan mata pada Tari. Tari yang menyadari tatapan itu lekas takut dan khawatir kejadian yang dulu akan terulang kembali di masa yang akan datang.


“Tenang saja. Bude sudah tobat” jawabnya dengan segera yang di susul dengan gelak tawa

__ADS_1


seluruh penghuni di rumah itu.


Malam itu di rumah Tari, orang-orang sedang sibuk untuk mempersiapkan acara pernikahan yang di selenggarakan besok. Di kediaman rumah Tari sudah di hias dengan sedemikian bagus. Terdapat banyak bunga-bunga hidup di semua bagian sisi rumahnya. Tenda-tenda mulai terpasang di bagian depan rumah. Ibu mengelar


hajatan layaknya orang desa pada umumnya dengan memasang tenda di area depan


rumahnya.


Aneka jajanan mulai di buat di sana. Tari secara khusus memboyong seluruh karyawan di


tokonya untuk membuat kue di sana. Beberapa tetangga juga sudah sibuk untuk memasak. Ada yang meracik bumbu. Membuat sayur dan juga menanak nasi. Ini memang pernikahan ke duanya. Tapi ini jauh lebih terkonsep dan mendebarkan dari sebelumnya. Tari terlibat secara langsung segala persiapan yang ada di sana.


Pelaminan dengan dekorasi nuansa putih sudah mulai terpasang di halaman depan rumahnya. Beberapa tulisan selamat datang dan juga happy wedding mulai di lukis. Ipul dengan sengaja mengambil alih tugas ini. Ia ingin memberikan kesan yang terbaik untuk para undangan nantinya.


Menjelang pukul sembilan malam, tukang hena sudah mulai merias tangan Tari, memberikan


sedikit sentuhan dan goresan-goresan indah di tangannya. Hal yang sama juga di lakukan Risma. Gadis kecil itu tidak mau kalah dengan Bundanya. Setiap prosesi yang di lakukan Tari, ia juga menginginkan hal yang sama. Tari dengan cukup


telaten memenuhi apa yang di inginkan anaknya.


Semakin malam, hati Tari semakin tak kunjung tenang. Jantungnya bekerja lebih cepat


dari biasanya. Antara cemas, resah, takut dan bahagia semuanya menjadi satu malam itu. Ia tak sabar menunggu hari esok. Dalam hati slalu berdoa akan kelancaran untuk segalanya dan semoga ada kebaikan setelah menjatuhkan pilihan ini.


Ia bahkan berjalan keluar masuk dari kamarnya menuju halaman depan. Memastikan jika


semua persiapan untuk besok telah benar-benar siap semuanya.


“Mbak tidurlah ini sudah malam. Biar besok pagi-pagi bisa langsung di rias” ucap Ipul


yang masing sibuk menata tulisan-tulisan selamat datang di dinding rumahnya.


“Aku belum mengantuk Pul”


“Ya harus di paksa untuk tidur mbak. Dari pada besok pagi gak bisa bangun”


“Hus, ngawur saja kalau bicara. Aku takut”


“Takut kenapa sih mbak? Orang juga tinggal menunggu besok”


“Entahlah Pul, tiba-tiba perasaanku menjadi resah seperti ini”


Tari kembali berjalan masuk dan keluar ke halaman rumah. Ia berkali-kali melakukan


hal itu dengan meremas ujung jilbabnya dengan resah. Setelah lelah berjalan ke sana dan kemari. Ia memilih untuk duduk di sebelah Ipul, menyandarkan punggungnya di sana dan memainkan ponselnya.


Beberapa menit kemudian.


Berdering


Rama.....

__ADS_1


__ADS_2