
“Oma....”. Risma berlari kecil dan merentangkan kedua tangannya menuju Bu Srining yang terlihat baru saja keluar dari kamar mandi.
Diam.
Bu Srining masih tidak sadar pandangannya beralih menatap Mawar yang sedang berhadapan dengan Tari, tak bisa di pungkiri rasa cemas seketika hadir.
“Oma...Oma....”. Kini tangan risma menarik-narik gamis yang di gunakan Bu Srining dan beberapa kali memanggil namanya.
“Oh iya nak, maaf-maaf Oma tidak dengar tadi”, jawabnya dengan menggandeng Risma dan membawanya menuju ruang khusus.
“Kalian ke sini kok tidak bilang-bilang dulu”. Wajah Bu Srining memandang Randi dengan tatapan sinis, ingin rasanya menjewer telinga anak itu. Bisa-bisanya dia membawa Tari ke sini sedang di sini ada Mawar. Apa ia sengaja melakukan ini untuk menyakiti hati Mawar. Sungguh Bu Srining begitu geram dengan putranya.
“Tidak papa Ma, hanya ingin berkunjung saja ke sini membagi kue untuk teman-teman yang bekerja di sini, sekalian mereka kenalan sama Risma”. Tari duduk di salah satu sofa dan memangku Risma.
“Sini kuenya biar Mama yang bagi ke mereka, ayo Risma ikut sama Oma kenalan sama tante-tante di sini”, Tangan Bu Srining terulur menarik Risma dan membawanya keluar rungan meninggalkan Tari dan Randi, dengan satu tangan lagi membawa beberapa kotak brownies dalam plastik merah besar.
Tari pun bangkit dari tepat duduknya ingin menyusul Bu Srining.
“Mau kemana?”, dengan sigap tangan Randi terulur menari satu tangan Tari hingga ia terjatuh dalam pelukannya.
“Mau ikut Mama bagi-bagi kue”.
“Tidak usah di sini saja temani aku”.
“Tapi Mas....”. Belum sempat Tari melanjutkan ucapannya Randi semakin mengencangkan pelukannya hingga ia tidak bisa bergerak sama sekali.
Berkali-kali Tari mencoba untuk kabur, hanya saja semakin ia mencoba untuk beranjak maka Randi semakin erat memeluknya.
Mereka berdua tertawa bersama, saling mencubit dengan gemas satu sama lian.
Tanpa mereka sadari di balik pintu, Mawar sedang membekap mulutnya dengan cukup kuat agar suara tangisnya tak terdengar oleh orang lain. Ia lekas mengusap air mata yang jatuh dengan ujung bajunya berharap tidak ada yang melihatnya menangis.
“Tega kamu mas, apa sih kurangnya aku di mata kamu jika di bandingkan mbak Tari?, aku bahkan lebih cantik darinya dan yang paling utama aku bisa memberikanmu masa depan!”.
Tak tahan dengan pemandangan yang ada Mawar memilih untuk pulang begitu saja tanpa berpamitan.
Mawar pulang dengan perasaan yang kalah, hatinya meringis menahan rasa sakit yang ada.
“Bodoh!!!”.
“Kenapa kamu harus menangis? Bukankah kamu sudah tahu resiko menjadi yang kedua itu seperti apa?”, ia merutuki dirinya sendiri sepanjang perjalanan. Memeluk perut ratanya seakan sedang bercerita pada sang anak yang ada di dalam rahimnya.
.
__ADS_1
.
.
.
“Mas sepertinya hari sudah mulai petang, sebaiknya kita pulang dulu yuk. Aku belum menyiapkan masakan untuk makan malam nanti”. Ajak Tari pada Randi ketika melihat jam pada layar ponselnya hampir menunjukan pukul lima sore.
“Siap nyonya mari kita pulang sekarang, kamu tida harus masak sayang. Jika capek kita beli saja makanan di luar dan bungkus buat Mama Papa”.
“Tidak mas aku ingin masak saja untuk mereka”.
Kini tangan Randi kembali terulur menarik pinggang istrinya, seolah tak rela jika ia berjalan berjarak dengannya. Randi ingin menunjukan pada semua yang ada jika Tari miliknya dan hanya miliknya, hanya Tari saja tidak ada yang lainnya!.
“Ma Pa kita pulang dulu ya, jangan cepek-capek lekas tutup saja jangan malam-malam”.
“Hem”.
Tak ada jawaban dari Mama hanya sebuah deheman saja dengan satu kaki menginjak Randi serta mata melotot. Bu Srining seakan menunjukan pada Randi jika ia kesal sekali dengan ulahnya hari ini.
Mobil Randi dan Tari lekas meninggalkan laundry dengan Risma yang melambai-lambai pada semua yang masih tersisa di sana.
***
Rumah Mawar.
“Pasti anak itu sedang tidak baik-baik saja melewati hari ini”, tukas Bu Srining kala tadi sempat melihat Mawar sedang menangis di belakang pintu.
Ia lekas menuju rumah Mawar dengan membawa banyak sekali makanan berat dan juga aneka cemilan. Tak lupa Bu Srining juga membawa beberapa buah untuk menantu keduanya itu. Ia ingin memastikan jika Mawar baik-baik saja.
Tok...tok...tko...
Suara ketukan pintu terdengar berkali-kali, hanya saja sang pemilik rumah enggan untuk beranjak dari kasurnya.
Benar saja Mawar lebih memilih meringkuk di atas ranjangnya dengan air mata yang sudah membanjiri bantalnya.
Tok...tok...tok..
Tangan Bu Srining kembali terulur untuk mengetuk pintu itu, lagi-lagi tak ada jawaban.
Merasa khawatir dengan keadaan yang ada, akhirnya Bu Srining mengambil kunci serep yang tersimpan dalam tas. Masuk sendiri tanpa di persilahkan tuan rumahnya.
Kakinya melangkah dengan was-was mencari keberadaan Mawar. Ia lekas berjalan cepat menuju kamar Mawar.
__ADS_1
“Mawar”. serunya dengan menghampiri Mawar yang menangis di atas kasur.
“Mama....”, ucapnya lirih dengan rambut yang berantakan.
“Ma kapan mas Randi ke sini?, Ma kapan mas Randi cinta sama aku seperti cinta sama Tari?”.
“Ya Allah nak kamu yang sabar ya”. tangan Bu Srining terulur membenarkan rambut mawar yang berantakan.
“Kamu sudah makan?”.
Mawar hanya menggelengkan kepalnya saja.
“Makanlah nak, kasian anak kamu kalau tidak makan seperti ini”.
Kini Bu Srining sibuk menata makanan yang ia bawa meletakkan di depan Mawar.
“Tapi Bapaknya tidak pernah kasian sama kami Ma”.
“Sudah-sudah jangan di pikirkan, nanti Mama akan membujuk Randi untuk ke sini, sekarang makan dulu kasian cucuku”.
“Janji ya Ma bawa Mas Randi ke sini, anak ini kangen Bapaknya”. Sorot mata Mawar memelas dengan tangan mengelus lembut perutnya.
Bu Srining hanya menganggukkan kepalanya saja.
***
Rumah Randi.
Makan malam di mulai tanpa kehadiran Mama mertuanya di sana, padahal hari ini Tari masak spesial untuk makan malam mereka. Papa berusaha menghidupkan suasana dengan bercengkrama bersama Risma. Tari dan Randi larut dalam suasana yang di ciptakan Papa mereka berempat makan dengan nikmat meskipun tak ada Mama.
Setelah makan selesai, Papa membawa Risma ke ruang keluarga untuk mengajarinya menggambar. Kali ini Risma ingin belajar menggambar gunung katanya.
Sedang Tari beranjak membereskan sisa-sisa makan malam itu. Tari juga menyisakan sebagian makanan tadi untuk Mama mertuanya.
“Mas kok akhir-akhir ini Mama sering pergi ya?”.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like komen subscribe ya teman-teman, vote juga 😊