Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Do'a dan Harapan


__ADS_3

“Untuk apa kalian mengadopsi anak? apa lagi anak yang belum jelas asal usulnya dari mana?"


"Apa tujuan kalian untuk mengadopsi? siapa yang menginginkan ini semua?" tanya Mama Randi dengan menatap sinis ke dua anak dan menantunya.


“Sebenarnya yang ingin mengadopsi dan merawat Tari”, jawabnya dengan suara yang bergetar takut jika Mama mertuanya tak memberikan izin.


“Apa kamu bahagia dengan keputusanmu ini? apa ini tidak memberikanmu di kemudian hari Ran?"


"Tentu saja tidak Ma"


“Dia anak perempuan Ma, usianya kira-kira lima tahunan, sekarang sedang Tari titipkan dulu sama Ibu di rumah, lusa saat pernikahan mas Udin Tari akan ke sana untuk menjemput Risma”, Tari menjawab dengan penuh semangat dan bahagia sekali di beri kesempatan untuk merawat Risma oleh mertuanya.


“Baiklah nanti Mama akan ikut menjemput Risma sekalian datang ke acara nikahannya sepupu kamu”, Jawan Mama yang tak kalah antusiasnya membuat kedua wanita tersebut bahagia tiada terkira membayangkan akan hadirnya Risma di tengah-tengah keluarga mereka.


***


Malam harinya seperti biasa Tari akan terbangun dari tidurnya tepat di sepertiga malam untuk menggelar sajadah memohon dan meminta pada sang penciptanya. Tari akan menumpahkan segala rasa yang ada saat itu juga.


“Ya Allah’, Tari menadahkan tangannya ke langit dengan suara lirih dan memelas ia memohon pada sang pencipta di setiap sujudnya selama enam tahun menjalani pernikahan ini.


“Ya Allah sesungguhnya engkau adalah zat yang maha penguasa, yang maha menciptakan, yang maha pengasih lagi maha penyayang. Kini hamba hadir kembali memohon dan meminta pada-Mu kiranya engkau lapangkan hati ini dalam penantian dan kesabaran yang belum berujung”.


“Ya Rab sebarkanlah hamba dalam penantian akan hadirnya keturunan dalam keluarga kecil kami ini, karuniakanlah kepada kami keturunan yang Sholeh lagi Sholeha sebagai pelengkap kebahagian keluarga kecil kami. Ya Rab kami begitu merindukan kehadiran seorang anak”. Tak terasa air mata menetes begitu saja kala ia sedang bermunajat pada sang Kuasa.


“Aku memohon padamu Ya Allah dengan segala kerendahan dan kekurangan hamba kabulkanlah doa hamba ini Ya Allah. Meskipun hamba akan mengadopsi seorang anak, tapi hamba juga menginginkan seorang anak yang lahir dari rahim hamba, hamba ingin merasakan indahnya mengandung dan melahirkan seperti wanita pada umumnya”.


“Kabulkan Lah doa hambamu ini Ya Allah”.

__ADS_1


Tari yang masih bersimpuh dengan tangan yang menangkup di dada lekas mengusap wajahnya dengan tangan. menyembunyikan buliran air mata yang meluruh setiap kali ia merayu penciptanya.


Randi tak bergeming. Hati pria itu terasa sakit teriris-iris kala mendengar setiap lantunan bait-bait doa yang istrinya panjatkan, ada rasa bersalah yang tiada terkira pada dirinya. Tak jarang Randi juga turut menitikkan air mata, namun sebisa mungkin ia tutupi dengan pura-pura tidur.


Segala pemeriksaan dan terapi sudah di lakukan oleh Tari bahkan keduanya juga sempat memeriksakan kondisi mereka ke Jakarta bertemu dengan dokter senior yang ada. Hanya saja Randi sama sekali tak mau untuk di periksa. ia hanya mengantarkan istrinya saja.


Teruntuk pola hidup sehat jangan di tanya, baik Tari maupun Randi sudah dari dulu menerapkan pola hidup sehat, Randi juga bukan perokok keduanya bahkan aktif dalam kegiatan olah raga.


***


Pagi harinya seperti biasa Tari akan terbangun lebih pagi, dan menyajikan makanan untuk semua keluarga yang ada di bantu oleh mbak Art di rumah, pagi ini Tari hanya membuat nasi goreng saja dan bubur kacang hijau permintaan dari papa mertua, kebetulan sedang tidak enak badam.


“Oh ya sayang nanti sepulang kerja aku jemput ya di Toko, terus kita mampir dulu ke loudry Papa kebetulan sekarang lagi awal bulan waktunya mereka gajian dan papa tidak bisa ke sana karena sakit”.


“Iya Tar, Mama minta tolong ya mampir dulu ke laundry sebentar, Mama tidak bisa ke sana kasian Papa nanti di rumah idak ada yang jaga”.


Ketiganya kembali menghabiskan sarapan pagi itu termasuk dengan Papa yang menikmati semangkuk bubur kacang hijau buatan menantunya.


***


Benar saja sore harinya, selepas pulang dari kantor Randi menjemput Tari ke toko, tak lupa mereka membawa beberapa kue yang ada di toko untuk semua karyawan laundry yang membantu di sana. Keduanya langsung melesat tak membutuhkan waktu yang lama lima belas menit perjalanan mereka sudah sampai di tempat usaha laundry Papa. Keduanya di sambut dengan ramah oleh karyawan di sana.


Tari lekas memberikan bingkisan kue tersebut pada mereka yang kebetulan sedang beristirahat hendak pulang. Usaha laundry ini memiliki banyak cabang yang tersebar di seluruh Kota Surabaya, namun untuk pusatnya berada tak jauh dari rumah Randi hal ini bertujuan untuk mempermudah Papa ketika akan mengontrol kinerja mereka.


Randi langsung ke ruangan kordinator yang bertugas untuk mengawasi dan membagi gaji mereka setiap bulannya. Randi menyelesaikan segala urusan yang diamanatkan oleh Papanya sore itu. Sementara Tari sedang ngobrol-ngobrol kecil dengan karyawan laundry yang lain.


“Mbak Mawar kenapa? Apa sedang tidak sehat?”, tanya Tari pada salah satu karyawan laundry yang bertugas sebagai penyetrika, Tari melihat wajahnya sedikit pucat.

__ADS_1


“Tidak papa bu Tari, mungkin hanya kecapean saja”. jawabnya tanpa berani menatap wajah Tari.


“Istirahat saja dulu mbak, biar nanti di bantu teman yang lainnya”. kini Tari menggandeng Mawar dan membawanya duduk untuk istirahat sejenak.


“Bukannya sekarang juga waktunya istirahat mbak, makanlah dulu mungkin mbak Mawar lapar”. Tawar Tari dengan menyodorkan sekotak kue dari tokonya.


Semua karyawan saling berbisik membicarakan Tari, tampak dari gelagatnya yang sesekali melihat wajah Tari.


Setelah semuanya selesai, Randi dan Tari berpamitan untuk pulang, keduanya saling bergandengan menuju mobilnya, semakin membuat iri semua pekerja yang melihatnya.


“Bu Tari beruntung sekali ya menjadi istri pak Randi sudah ganteng baik pula”.


“Bu Tari enak sekali ya meskipun sampai sekarang belum memiliki momongan tapi pak Randi masih setia padanya”.


Dan masih banyak lagi desas-desus yang membicarakan tentang Tari dan Randi.


***


Sesampainya di rumah keduanya lekas menuju kamar untuk membersihkan diri, waktu juga sudah hampir petang bersiap untuk melaksanakan sholat magrib.


Ponsel Randi bergetar, kemudian ia meraih ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya, kemudian Randi menolak panggilan itu. Hingga Randi mendapat pesan yang membuatnya tampak sangat terkejut dan membulatkan mata secara sempurna.


“Siapa sih Mas?”, Tanya Tari sangat penasaran melihat ekspresi suaminya tak seperti biasanya.


“Oh sayang, aku pergi sebentar ya, ada urusan yang harus aku selesaikan dulu sebentar saja. Kamu makan saja dulu sama Mama Papa jangan tunggu aku, nanti aku akan lekas pulang!, Jawab Randi dengan menyambar jaket yang ada di balik pintu kamarnya.


“Tapi mas....”.

__ADS_1


“Assalamualaikum”, jawab Randi dengan sekilas mencium keningnya yang berlalu meninggalkan istrinya yang masih mematung di dalam kamar.


__ADS_2