Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Mobil Baru Udin


__ADS_3

Rumah bude Murni.


Kini di kediaman bude Murni selepas acara pembagian unag hasil penjulan rumah tersebut, kelarga masih berkumpul, mereka makan bersama dengan menu yang luar biasa banyaknya.


Bude memesan satu ayam panggang utuh lenggkap dengan srundeng, urap-urap serta lalapan. Aneka macam ikan beserta jajarannya. Sedangkan bulek memesan piza, donat, dan beberapa minuman kekinian untuk mereka.


Ya kini dua keluarga besar tersebut sedang berpesta menikmati harta yang konon peninggalan dari mbah.


Kalian tanya ibu dimana?.


Ibu masih nangis di pojokan rumahnya, mengingat betapa teganya sadara-saudaranya bersikap seperti itu padanya.


Mereka saling bercanda dan bercerita banyak hal dalam ruang tamu yang cukup luas untuk ukuran rumah orang desa. Tak lupa Udin juga membeli beberapa buah dan aneka jajanan untuk adik-adiknya dan sepupu yang ada di rumahnya.


Seperti biasa mereka akan bersila membentuk lingkaran, dengan berbagai hidangan makanan tepat di tengah-tenga mereka. Memakan dengan cukup rakus semua maknan yang ada di depanya hingga tak berisa selain tulang dan bungkusnya.


Kenyang dengan segenap hidangan yang ada di depannya, mereka kembali membuka obrolan saling bercerita akan masa depan yang mereka ambil dengan uang itu.


Pakde mengatakan akan membeli mobil seperti yang di harapkan bude, agar mas Udin tidak kehujanan ketika berangkat dan pulang kerja, maklum sekarang musim hujan. Sisanya akan bde gunakan untuk menambah koleksi perhiasannya.


Sementara paklek Wanto, mengatakan jika akan menggunakan uang tersebut untuk memperbesar usahanya. Paklek Wanto akan membeli mesin untuk proses daur ulang sampahnya.


Sore menjelang, keluarga paklek Wanto kembali ke Suranya, tak ada obrolan sama sekali yang di ucapkan pada ibu. Paklek Wanto melewati ibu begitu saja saat hendak pulang tanpa berpamitan.


Sementara itu bulek, menyempatkan diri untuk datang ke rumah ibu, memeluk sejenak saudara iparnya tersebut, bulek jga memberikan amplop kecil pada ibu berisi satu lembar uang seratus ribu.


“Mbak kami pulang dulu ya, trimakasih untuk semnya”. bulek melangkah dengan melempar senyum pada ibu.


Sedang ibu menatap nanar kepergian sang adik.


***


Keesokan harinya.


Pagi itu bude sedang berbelanja keperluan dapur untuk yang pertama kalinya setalah sekian lama mengandalkan ibu untuk memasak. Bude kira ibu sudah pergi dari rumah tersebut sehingga membuatnya harus belanja pagi itu.


“Ya kala tahu kamu masih di sini kenapa aku harus belanja seperti ini”. sesal bude dengan menenteng kantong plastik belanjaanya.


Sesampainya di rumah bude lekas memberi tahu pakde jika Marni masih di rumah sebelah mereka hingga kini.

__ADS_1


“Masak apa bu?, aku sudah lapar sekali?”. Tanya pakde dengan mengels-elus perutnya yang berbnyi berkali-kali sejak tadi pagi.


“Mas gak usah masak ya? Kita makan saja di rumah Marni seperti biasanya”. Usul bude pada sang suami.


“Memangnya Marni masih di sini?”. tanya pakde dengan mengekertkan keningnya.


“Iya mas masih, ayo kita kesana saja”.


Satu rombongan penjajah tersebut, datang menuju rumah ibu Tari untuk meminta sarapan seperti biasanya.


“Assalamualaikum’. seru pakde Dar dengan begitu kerasnya dengan lekas masuk rumah tersebut.


“Waalaikumsalam”. jawab ibu dengan singkat dan dingin.


“Masak apa Mar?”. Kini pakde membuka tudung saji seperti biasa yang dia lakkan.


“Masak rendang daging”. Ibu kembali menjawab tanpa eksperi hatinya begitu sakit dengan perlakuan mereka.


“Wah enak nih, mana?”. pakde mearih piring yang ada di rak sedang bude membuka kulkas mencrai keberadaan buah.


“Sudah habis”.


“Aku hanya masak sedikit, untuk aku dan Ipul, aku tidak akan lagi masak dalam jumlah yang besar seperti biasanya!”. Ibu kembali berucap dengan begitu tenang dan dinginnya.


“Heh!!!”.


“Kenapa harus seperti itu? Kamu jangan pelit-pelit sama saudara sendiri lagian harta yang kamu....”.


“Kenapa? Harta yang mana lagi yang kalian tanyakan? Kalian makan di sini karena kalian mengira aku menikmati sendirikan harta mbah? Sekarang aku berbalik bertanya pada kalian siapa yang sudah menikmati harta mbah sendiri?”.


Ibu mengucapkan dengan mata yang berkaca-kaca, entah keberanian dari mana hingga mampu bersikap tegas dan mengucapkan kata-kata tersebut.


Tangannya bergetar menahan segala keekcewaan yang ada.


“Mulai sekarang jangan pernah makan lagi di sii, sudah tidak ada harta mbah yang tersisa untuk kunikmati”.


“Kamu berani ya sama masmu sendiri? kamu berani dengan saudara yang lebih tua?”.


Sejuurnya ibu tak sampai hati untuk mengucapkan hal itu, hanya saja sdah cukup rasanya kesabaran yang di berikan selama ini dalam menghadapi kelarga pakde Dar.

__ADS_1


“Aku minta uang perbaikan genting di kembalikan saja, rumah ini sudah terjual, aku tak ada kewajiban untuk memperbaiki rumah ini’. Ibu mengatakanya tanpa memandang wajah pakde.


Hatinya teramat sakit kala melihat sauudaranya tersebut.


“Uang itu sudah habis”. dengan begitu enteng pakde mengatakannya.


“Habi? Habis untuk apa?”, kini ibu sedkit berteriak meluapkan segala kesal dan kecewa dalam hatinya.


“Untuk biaya pemakaman mbah kemarin”. kali ini bude yang angkat bicara.


“Bagaimana bisa uang itu habis?sedang semua keperlan pemakaman Tari yang menangungnya. Dimana uang itu?, itu uang anakku hasil jerih payahnya selama bekerja tanpa henti”.


Air mata ibu meluncr begitu saja, kala meningat Tari yang slama ini berjuang mencukupi kebutuhan mereka.


“Aku bilang habis ya habis untuk keperlan pemakaman mbah”. Pakde Dar membanting piring yang ada di tangannya dan melangkah keluar di susul dengan bude Murni, tak lupa mereka membanting pintu rumah tamu sebagai salam keluar rumah.


“Bagaimana bisa dia minta uang itu kembali, uang itu sudah habis untuk jalan-jalan ke Malang beberapa waktu yang lalu”. ucap bude dalam hati.


***


Satu minggu kemudian.


Tin...tin...tin....


Suara klaskson begitu kerasnya terdengar dari luar pelantaran rumah.


Mas Udin pulang dengan membawa mobil apanza wana hitam dan di parkir tepat di depan rumah ibu.


“Bu ibu Udin sudah pulang”.


Tin...Tin....Tin....suara klakson kembali berkumandang berkali-kali sengaja agar semua tetangga yang ada di sekitar rumah mereka keluar.


“Wah anak gantengku sudah pulang”. Sambut bude dengan begitu meriahnya”. Dengan membawa satu ember air yang berisi bunga dan beberapa uang logam di dalamnya.


Seperti yang mereka harapkan, semua tetangga keluar dari rumah untuk melihat suara klakson mobil siapa yang begitu berisik.


“Maaf ya ibu-ibu, mobil baru suara klaksonnya masih sring”, sapa bude dengan senyum lebar di wajahnya


“Sini-sini bu, mari anak-anaknya di suruh keluar semua biar rebutan uang, mas Udin mau siraman mobil baru”.

__ADS_1


Tangan bude memasnggil semua tetangga yang keluar rumah tersebut.


__ADS_2