Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Arti Sahabat


__ADS_3

Dua hari sudah, sejak Mawar tinggal di sana. Randi masih setia mengurung dirinya di kamar. Ia enggan untuk keluar kamar, walau hanya sekedar makan dan menemui Mawar. Ia benar-benar bagaikan mayat hidup, sama sekali tak punya semangat. Pegangannya sudah hilang, mutiara sebagai Perisai dalam dirinya sudah pergi, seakan tak ada gunanya lagi untuk hidup. Jiwanya benar-benar rapuh tak berdaya.


Randi juga tidak berangkat bekerja, ia meninggalkan segala tanggung jawab begitu saja. Mawar hampir putus asa, ia sudah kehilangan cara untuk meluluhkan hati suaminya. Segala macam cara sudah ia lakukan demi menarik perhatian Randi, namun lagi -lagi Mawar harus menelan kecewa, Randi benar-benar tidak bisa berpaling dari istri pertamanya.


Bu Srining, semakin risau dengan keadaan yang ada. Ia benar-benar tak tega dengan kondisi Randi saat ini. Ia juga tidak tahu harus berbuat apa untuk membantu Randi. Nyatanya nasi sudah menjadi bubur, terkadang sekelebat penyesalan akan keputusan sepihak yang ia ambil,melintas di kepalanya kala melihat sang putra terpuruk tak berdaya.


***


Toko Roti Tari.


Suara kicauan burung yang riuh mulai terdengar, sayup-sayup kicauan itu menenangkan bagi jiwa yang terombang. Bau embun di rerumputan sudah tercium, dari balik jendela kecil yang ada di kamarnya, ia dapat melihat jika matahari sudah muncul. Keresahan hati yang mendera Tari, membuatnya tak memiliki jadwal tidur yang teratur, akhir-akhir ini, ia sering tertidur setelah subuh dan akan terjaga sepanjang malam.


Tari melihat anak kecil di sebelahnya, ia masih tertidur dengan sangat pulas, hingga membuatnya tak tega untuk membangunkannya.


Tari melangkahkan kakinya keluar kamar, rupanya di luar sudah banyak aktivitas yang di kerjakan. Ia datang menghampiri beberapa karyawan yang bertugas untuk membuat kue, dan menyapa mereka. Beberapa hari tinggal terpisah dengan Randi sedikit banyak membuat hatinya jauh lebih baik. Meskipun tidak bisa di pungkiri, kala malam datang akan menjadi hari yang panjang bagi Tari.


Dinginnya malam seakan membawa kembali ingatannya pada sosok Randi Yulidar, pria yang sudah enam tahun menjadi bagian dari hidupnya. Sesekali ia tersenyum kecut kala teringat penghianatan yang di lakukan mereka.


.


.


.


“Bu Tari, ada tamu yang ingin bertemu”. Ucap salah satu pelayan yang datang membuyarkan lamunanku di tengah hiruk pikuk orang membuat kue pagi itu.


“Siapa?”, dahinya berkerut, hatinya berdebar takut yang datang adalah Randi ataupun keluarganya. Meski tidak dapat di pungkiri terkadang rasa harap kehadiran suaminya masih ada.

__ADS_1


“Perempuan Bu, sepertinya teman Bu Tari, tapi saya lupa namanya”.


Baiklah suruh dia masuk”.


Pagi itu, Fitri datang berkunjung ke toko roti, setelah Arsya kondisinya sudah membaik. Fitri kembali menemui sahabatnya, ia ingin memberikan dukungan atas segala apa yang sudah menimpa sahabatnya.


“Kamu yang sabar ya Tar, aku yakin kamu kuat dengan semua ini”. kata Fitri dengan menepuk-nepuk punggung sahabatnya.


“Aku ngak nyangka, ternyata kalian sudah tahu semuanya, semua orang kompak menipuku habis-habisan”, jawabnya lirih, sungguh hati Tari masih terasa sakit akan penghianatan dan kebohongan yang sudah di lakukan orang-orang di sekitarnya.


“Aku harus percaya pada siapa lagi sekarang?”, tatapan mata Tari kosong, punggungnya bersandar di kursi yang terbuat dari kayu berbentuk bulat. Jemari-jemarinya saling beradu membentuk remasan-remasan kecil.


“Bukan seperti itu Tar, aku sama sekali tak ingin menipumu, aku ingin memberitahumu. Sungguh!, aku juga sangat marah pada Masa Randi dan Bude, kala mengetahui fakta yang ada. Aku menganggap kamu sudah seperti saudara kandungku sendiri. Kita saling mengenal sejak kecil. Tapi apa hakku untuk memberi tahumu?. Aku bukan siapa-siapa dalam rumah tangga kalia, itu juga bukan kapasitasku untuk menjelaskan”. Fitri mengatakan dengan pelan, dadanya turut sakit merasakan penderitaan sahabatnya.


Kini Tari semakin menyandarkan punggungnya, ia terduduk tapi hampir rebahan. Ia menghela nafas berat, karena yang Fitri katakan memang benar adanya.


"Salahkah aku jika berharap semua ini hanya sebuah mimpi buruk Fit, namun mengapa semuanya terlibat nyata. Atau memang ini benar nyata menimpaku? sakit, sungguh Fit"


Tangan Fitri terulur untuk memeluk sahabatnya, kini dua wanita satu usia sedang menangis bersama, meratapi segala asa yang ada.


“Sekali lagi maafkan aku Tar, atas semua yang sudah ada. Maafkan aku yang telah mengenalkanmu pada Mas Randi”. Fitrilah yang memberikan jalan kebahagiannya dengan bertemu dengan Randi, tapi Randi juga yang telah merenggut paksa kebahagiannya.


“Aku tidak tahu Fit harus berbuat apa? Semuanya terjadi begitu saja, Mas Randi orang yang paling aku percaya,  nyatanya mampu untuk berdusta”.


“Apapun keputusan yang akan kamu ambil aku akan slalu mendukungmu Tar”.


“Untuk saat ini, keputusanku masih sama, aku enggan untuk berbagi. Aku enggan untuk di madu, aku akan mundur dari kisah ini Fit. Tolong bantu aku untuk lekas keluar dari masalah ini”.

__ADS_1


“Aku hanya ingin menjadi satu-satunya Ratu dalam istanaku Fit”.


Fitri menganggukkan kepalnya, ia tak berani menyarankan diri untuk tetap bertahan degan Randi, setelah apa yang terjadi di antara mereka.


***


Rumah Randi.


Pagi itu keluarga sudah berkumpul untuk sarapan, kini posisi tempat duduk Tari di ganti oleh Mawar. Bu Srining, Pak Nario dan juga Mawar sudah bersiap untuk sarapan bersama. Mereka tak lagi menunggu kehadiran Randi untuk sarapan.


Mawar sudah meraih piring di hadapannya, ia mulai mengisi dengan nasi dan sayuran yang ada. Tangannya saling beradu untuk memegang sendok dan garpu. Tidak ada obrolan yang berarti dalam meja makan, hanya dentingan sendok dan piring yang saling bersentuhan mengisi keheningan sarapan. Sesekali Bu Srining, mengingatkan pada Mawar, untuk menambah sayuran dan perbanyak minum air putih sesuai dengan anjuran dokter.


Pak Nario, hanya diam saja memperhatikan interaksi yang ada. Hatinya juga terasa berat melepas Tari dari keluarganya, tidak dapat di pungkiri kehadiran Tari dalam keluarnya mampu memberikan warna yang berbeda.


Sesekali ia menatap Mawar dan perut buncitnya, entah mengapa hatinya tak tersentuh dengan pesona sang Mawar, namun apa daya Pak Nario sendiri tak kuasa jika harus menentang kehendak Bu Srining.


.


.


.


‘Ada hal yang ingin aku bicarakan!”, satu kalimat yang dapat menghentikan segala aktivitas yang ada di meja makan. Semua terperangah, kala Randi berdiri di sebelah tempat duduk Mamanya.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, komen dan jadikan favorit ya teman-teman vote juga 😊


__ADS_2