Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Arisan Keluarga


__ADS_3

Berpisah dengan Tari, membuat Randi seolah kehilangan arah, ia bersikap acuh pada siapa saja yang ia kehendaki. Randi menyadari sepenuhnya jika apa yang dilakukannya pada Mawar juga salah. Ia abai pada orang yang masih bergelar istri sahnya. Namun Randi sendiri bimbang, ia tidak tahu harus memperlakukan Mawar seperti apa.


Haruskah ia belajar menerima dan mencintai Mawar? Bagaimana bisa itu terjadi?, seluruh memory dalam otak dan hatinya sudah penuh’i akan keberadaan Tari. Tak ada sedikitpun ruang yang tersisa di sana.


Lantas seperti apa ia harus memperlakukan Mawar?.


Entahlah Randi sendiri tidak tahu, untuk saat ini ia memilih abai pada istri barunya. Ia akan bertanggung jawab penuh secara finansial tapi tidak dengan yang lainnya.


Semakin Randi mencoba untuk menerima kehadiran Mawar di dalam kehidupannya, saat itu juga bayang-bayang wajah Tari yang sedang menangis hingga pingsan terlihat jelas dalam memorinya. Randi mengutuk dirinya sendiri atas segala kebodohan dan keputusan yang ia ambil.


*****


Rumah Fitri


Siang itu di rumah Fitri sedang ada acara arisan keluarga yang rutin di lakukan setiap tiga bulan sekali. Acara arisan ini akan di gilir secara bergantian tempatnya. Kebetulan hari itu Fitri mendapat giliran.


 Semua keluarga sudah bersiap untuk datan ke sana. Termasuk Bu srining, ia akan membawa Mawar turut serta, meski ragu namun ia bisa apa. Rasanya tak tega jika harus meninggalkan Mawar sendiri di rumah. Bukankah sudah terlalu menyakitkan, ketika tidak di akui oleh suaminya, apa Bu Srining tega tak mengajaknya pula.


Mobil Bu Srining, mulai memasuki halaman pekarangan rumah Fitri, di sana suda banyak saudara yang datang. Mobil sudah berhenti dan kini terparkir tepat di samping rumah. Mawar masih berada dalam mobil, ia merasa takut untuk turun dan masuk ke rumah Fitri, mengingat Fitri adalah sahabat Tari. Namun Bu Srining terus memaksanya.


“Ayo nak kita turun, apa kamu tidak ingin kenalan dengan saudara Randi yang lain?”. Ucap Bu Srining, dengan menarik satu tangan Mawar.


“Ma, aku malu”. cicitnya membalas dengan pelan dan ragu.


“Kenapa harus malu, kamu istri sah Randi. Bahkan kamu saat ini sedang mengandung anaknya, mahakarya kalian berdua”. Bu Srining mencoba untuk menyakinkan, yang akhirnya membuat Mawar luluh.


Mawar datang menggunakan dress panjang hingga bawah lutut warna maron, seperti biasah rambutnya ia gerai dan menyematkan satu jepit rambut sebagai pemanis. Tak lupa ia meminjam tas Bu srining untuk menambah keanggunannya.

__ADS_1


Kedua wanita itu mulai memasuki rumah Fitri, seperti biasa para saudara terdekat akan bertugas menerima tamu dan mempersilahkan masuk. Fitri yang menyadari kehadiran Mawar, tampak menunjukan raut wajah tak suka, ia dengan sengaja menyalami dan mempersilahkan masuk semua tamu yang ada, namun ia melewati uluran tangan Mawar yang hendak bersalaman, tak lupa Fitri juga memalingkan wajahnya saat melewati Mawar berduri.


Semua keluarga sudah duduk di ruang tamu, ada beberapa juga yang ada di ruang keluarga. Seperti Mawar, ia memilih untuk duduk di ruang keluarga sedikit memisah dengan anggota keluarga yang lainnya. Fitri kembali menatap Mawar, dengan sinis kala membawa baki minuman. Ia dengan sengaja menunjukan secara jelas ketidaksukaannya pada Mawar, dan itu membuat Mawar merasa terintimidasi.


Begitu juga dengan anggota keluarga yang lainnya, merek menatap sinis pada Mawar,bisik-bisik mulai terdengar di anatar mereka.


“Katanya sih itu istri barunya Randi?”.


“Astaga udah bunting saja, padahal proses perceraian Randi dan Tari masih belum selesai”.


“Dengar-dengar sih Tari yang gugat cerai, mana ada sih Bu istri yang di poligami”.


“Duh gak tau malu ya, padahal jadi pelakor kok bisa datang dalam acar seperti ini, memalukan saja!”.


“Mana wajahnya lebih cantik Tari pula, itu sih di cuma menang susunya aja yang besar, kala di banding Tari”.


Desas-desus yang menyakitkan mulai terdengar di antara keluarga yang hadir. Mawar sekaan menjadi topik gibah dari mereka yang datang.


“Sudah jangan di pikirkan, biar mereka yang dapat dosanya sendiri, ngomong sesuatu yang belum tentu kebenarannya”. Desis Bu Srining berbisik, kala mendapati Mawar yang mulai gelisah.


Mawar hanya menganggukkan kepalanya saja.


“Seandainya saja, tidak sedang hamil ingin rasanya aku menghadang kakimu hingga terjungkal tepat di hadapan orang-orang”. Geram Fitri, kala melihat Mawar yang dengan santainya memperkenalkan diri pada anggota keluarga yang lain, jika ia adalah istri Randi.


*****


Desa Suka Maju

__ADS_1


Sementara itu dalam belahan dunia yang sama. Di Desa Suka Maju Tari sedang bersiap untuk mengantarkan pesanan kue donatnya ke rumah Bu RT. Acara akan di lakukan nanti selepas magrib, namun Tari memastikan sebelum pukul lima sore semua kue sudah selsai dan di antar ke sana.


Tari yang di bantu Bu Marni, dan juga Risma, sedang sibuk mengemas donat-donat itu, menata dan memasukan ke dalam kardus ukuran sedang yang telah di siapkan.


Terdapat sepuluh kantung plastik merah ukuran besar yang sudah siap di kirim, itu berarti ia harus bolak-balik sepuluh kali berjalan kaki dari rumah kontrakannya ke rumah Bu RT.


Tari mengantarkan sendiri kue-kue itu ke sana, sementara Ibu di rumah melanjutkan memberi toping dan mengemasnya. Ia berjalan dengan dengan cepat, sesekali ia berlari-lari kecil agar lekas sampai ke rumah Bu RT. Tak lupa Tari juga menyapa gerombolan Ibu-Ibu yang sedang duduk santai di depan pelantaran rumah meraka masing-masing. Ia menyapa dengan memberikan senyuman dan menggunakan tubuh hormat, sebagai tanda salam perkenalan.


“Wah mbak ini siapa seperti saya belum pernah lihat sebelumnya”. Sapa salah satu Ibu-ibu paruh baya, yang sedang menyuapi cucunya di pinggir jalan.


“Saya Tari Bu, yang mengontrak rumah di situ”. Tari menghentikan langkahnya sejenak, menjabat lembut tangan Ibu itu, ia menyempatkan diri untuk menyapa dan memperkenalkan diri.


“Pantesan kok saya belum pernah lihat sebelumnya, ini apa mbak Tari? Kok banyak sekali”. Tunjuknya dengan tangan yang mengarah pada kantung plastik berukuran besar, di kedua sisi tangannya.


“Ini donat Bu, pesanan dari Bu RT untuk acara mengaji selepas magrib nanti”.


“Wah Mbak Tari, jangan bawa berat-berat kalau lagi hamil seperti ini”, celetuknya dengan begitu saja kala melihat Tari, yang sedang membawa donat dalam kresek merah.


“Ini terlalu berat, tidak baik untuk ibu hamil bawa-bawa beban berat seperti ini”.


Deg


.


.


.

__ADS_1


Tari mengerutkan dahinya sejenak dan menatap ibu itu, lalu ia menoleh ke sisi kanan dan kiri, mencoba mencari keberadaan orang lain di situ. Kali aja ibu di depannya sedang berbicara dengan orang lain.


__ADS_2