Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Bagaimana Hasilnya?


__ADS_3

Apa selama ini kamu merindukanku Tar?


Satu kalimat yang ingin sekali Randi ucapkan namun tercetak di kerongkongan. Kecanggungan


kembali mengisi kekosongan dalam pertemuan mereka.Randi yang sibuk untuk merangkai kata dan Tari yang enggan untuk bertanya. Randi memandangi wajah Tari dengan lekat. Tak banyak perubahan yang terjadi pada wanita di sampingnya. Justru wanita itu terlihat lebih cantik dari sebelumnya.


“Tar....” Randi menjeda ucapannya.


“Iya” jawab Tari dengan melirik sekilas mantan suaminya.


“Apa kau sungguh bahagia selama ini?” Randi berkata dengan menatap nanar.


“Tentu saja” wanita itu memilih tersenyum, sekuat hati ia menahan suaranya agar tak terdengar bergetar. Bagaimanapun juga pertemuannya dengan Randi merupakan hal


yang tak biasa, mengingat keduanya pernah l menjalani mahligai pernikahan.


“Aku rasa harus masuk mas. Ini sudah malam, aku ingin istirahat”


Tari memilih untuk melenggang meninggalkan Randi, bahkan sebelum pria itu sempat untuk memberikan jawabannya. Ia melangkah dengan cepat menuju kamar rawat anaknya. Menutup dengan rapat pintu tersebut, ia kembali memegangi dadanya yang bergemuruh hebat. Antara perasaan kesal dan juga marah pada takdir.


****


“Selamat malam Dokter Rama, saya permisi pulang dulu” ujar salah satu perawat yang membantu dalam tindakan malam itu.


“Iya silahkan”


Rama mulai melepaskan baju kebesarannya, meletakan pada ruang penyimpanan yang ada di


ruangan pribadinya. Matanya melirik pada jam dinding yang bertengger di sisi almari putih. Jam menunjukan lebih dari pukul Sepuluh malam. Waktu sudah cukup larut untuk sekedar berkunjung pada pasien. Namun hatinya tidak tenang jika tak melihat Risma, terlebih saat pagi tadi sudah berjanji untuk datang menjenguknya.


Rama meraup wajahnya dengan kasar. Benar saja, hari ini pria itu sedang sibuk untuk menjalankan prosedur operasi. Sejak dari siang hari, ia di hadapkan pada beberapa kasus baru yang datang secara bersamaan. Baik Rama maupun tim medis lainnya begitu sibuk menangani pasiennya.


Ingin rasaya untuk melihat walau sekilas putri angkatnya, namun ia takut mengngangu


waktu istirahatnya. Bukan hanya waktu istirahat Risma, tapi ia juga tidak enak jika harus mengganggu waktu istirahat Tari. Ia meraih benda pipih yang ada di saku celananya. Berkali-kali melihat aplikasi hijau di sana. Berharap Tari sedang menunjukan waktu online, namun sayang harapannya sia-sia. Bahkan last


sint dari wanita itu sejak pukul 19.00 wib. Pada akhirnya Rama memutuskan untuk melewati kamar Risma, menatap dalam diam pintu putih yang ada di hadapannya. Sesekali kakinya melangkah untuk melirik di balik kaca kecil yang tertutup tirai coklat.


“Hem rupanya mereka sudah tertidur” guman Rama dalam hati, ketika menyadari lampu


dalam ruangan tak menyala semuanya. Sepertinya Tari mematikan beberapa lampu


dan hanya menyisakan satu lampu.

__ADS_1


Ia kembali melangkah meningalkan ruang rawat Risma, berjalan menelusuri koridor rumah sakit yang terlanjur sepi.


“Gak bosen apa sendiri terus?” suara seorang wanita tiba-tiba mengejutkan Rama. Ia


reflek menoleh ke arah sumber suara.


“Dokter Ratna? Kok belum pulang?” kening Rama berkerut ketika menyadari rekan sejawatnya belum pulang hingga saat ini, yang Rama tahu wanita itu memiliki jam praktik pagi tadi.


“Sengaja nunggu kamu” ia mengulum senyum dan mensejajarkan langkahnya agar bisa berjalan


beriringan dengan Rama.


“Hah, ngapain di tunggu, orang rumah kita juga tidak searah. Buang-buang waktu saja” elak Rama dengan bercanda.


“Bagiamana kalau kita menjadikan rumah kita searah saja”


Deg.


Suatu candaan yang cukup membuat jantung berdetak lebih keras dari biasanya. Sebagai


laki-laki normal Rama dapat merasakan jika rekannya ini menaruh hati padanya.


Dia adalah Ratna sosok Dokter kandungan yang bertugas di rumah sakit ini. Sudah lebih dari dua tahun yang lalu, wanita ini berjuang untuk menaklukkan hati rekannya. Namun sayang segala perhatian yang di berikannya tak mampu


menggoyangkan hati Rama dari mendiang istrinya dulu.


“Bagiamana kalau kamu antarkan saja aku. Kebetulan aku tidak membawa mobil malam ini” begitulah salah satu cara yang di lakukan Ratna, agar bisa pulang bersama Rama.


“Baiklah kalau begitu” tak ingin berdebat malam itu, Rama memilih untuk lekas mengantarkan Ratna pulang dan ingin segera sampai di rumahnya. Ia tak sabar untuk membaca hasil tes DNA yang di lakukan beberapa waktu yang lalu.


.


.


.


Sang waktu hampir menunjukan pukul satu dini hari. Rama baru saja menyelesaikan segala ritual malamnya, baik itu bersih-bersih rumah maupun badannya. Maklum tinggal sendiri membuatnya mau tak mau harus melakukan semuanya sendri. Ia melirik map coklat yang terletak di atas kasurnya.


Jantungnya kembali bekerja lebih keras dari bisanya. Tangannya bergetar hebat ketika mulai


meraih amplop coklat tersebut. Nafasnya pun demikian terasa sangat berat. Ada rasa takut akan kenyataan, ada pula segenggam harapan di dalam sana. Ia memilih untuk menutup mata sesaat ketika menarik lembar putih di dalamnya.


“Buka ngak ya?”

__ADS_1


“Ya Allah”


“Buka ngak ya surat ini?”


“Aku pasti bisa, aku pasti bisa” Rama bermonolog sendiri malam itu. Dengan pelan jemarinya mulai membuka amplop tersebut.


“Astaghfirullah halazim, aku takut bagaimana jika nanti hasilnya tak sesuai harapan” pria itu


meraup wajahnya dengan kasar. Ia menyandarkan punggungnya pada sisi ranjang.


“Haduh bagaimana ini Ya Allah”


“Aku sungguh takut, ini surat benar-benar bikin gak bisa tidur kalau tidak di buka, tapi kalau di buka hasilnya nanti bagaimana?”


Segenap ketakutan berperang dalam hati dan pikirannya.


“Haduh kalau tidak di buka penasaran sama isinya, haduh tapi aku tak berani untuk membukanya”


Rama kembali meletakan amplop tersebut di hadapannya. Tak terhitung berapa kali ia


meraup wajahnya dengan resah. Bahkan Rama berkali-kali mengubah posisi duduknya


mulai dari jongkong, bersila bahkan bersujud.


“Buka sekarang gak ya?”


“Rama ayo buka surat itu jangan diam saja. Berfikir-berfikir dan tenangkan hatimu”


“Ah aku rasa sholat saja dulu, siapa tahu Allah kasih jalan yang terbaik untuk ini semua”


Pada akhirnya pria itu memilih untuk menggelar sajadah, ia bersujud dalam waktu yang sangat lama. Merapalkan serangkaian doa pada yang maha kuasa.


Ya Allah hamba takut untuk membuka hasil tes DNAnya Ya Allah, hamba takut jika hasilnya negatif. Sementara hamba sudah terlanjur berharap jika hasilnya positif. Ya Allah, mohon kuatkan hamba apapun hasilnya nanti. Ridho dari Mu yang ku harap Ya Rab. Hamba mohon kebaikan untuk semua yang akan terjadi pada


kami nantinya.


Rama bermunajat dalam diam. Tangannya menangkup ke dada, matanya terpejam penuh


harap. Ia benar-benar memasrahkan segala yang akan terjadi pada yang Maha Kuasa apapun itu nantinya.


Tangan yang masih bergetar hebat kembali meraih amplop coklat yang kini berada tepat di


atas sajadahnya.

__ADS_1


Bismillahirrahmanirrahim.


Jeng jeng...


__ADS_2