
Kembali setelah acara aqiqah Fatin.
Selepas membawa Bu Srining ke rumah sakit, Randi melaporkan Mawar ke polisi dengan tuduhan pemalsuan data, perilaku tidak menyenangkan dan penipuan yang telah di rancang dengan rinci.
Malam itu selepas tragedi Ridho membeberkan segala kejahatan Mawar. Ridho lekas mengambil alih Fatin dari tangan Randi. Ia membawa Fatin lari keluar dari acara menuju tempat yang aman. Ia tak ingin Fatin berada di sisi Mawar.
Perhatian semua undangan tertuju pada Mawar, mereka mengerumuni Mawar secara bersamaan. Menghujat dan memaki-makinya. Fitri menghela nafas panjang. Ada rasa lega ketika mengetahui kebenaran yang ada dalam kisah ini. Tapi ada rasa sedih juga kala mengetahui keadaan sebenarnya jika Randi mandul.
Mawar berusaha melarikan diri dari gerombolan ibu-ibu yang melemparinya dengan kue-kue basah yang ada disekitar mereka. Rambutnya sudah sangat berantakan, bajunya basah terkena siraman minuman dari para undangan.
Mentalnya benar-benar hancur, ia di permalukan di depan umum. Mawar mencoba untuk kabur dari kerumunan ibu-ibu tersebut. Ia berlari dengan cukup keras membelah lautan ibu-ibu yang sedang mengamuk. Tak jarang dari mereka ada yang menjambaknya. Mereka semua kesal dengan segala tingkah Mawar. Seakan mereka sedang membalas rasa sakit hati yang di rasakan Tari.
Masih di tempat acara, Mawar kesulitan untuk meloloskan diri dari amukan undangan. Kakinya terkilir saat berusa untuk meninggalkan tempat acara. Fitri tak tega melihat keadaan yang ada. Ia masih memiliki hati nurani, meski dalam hati ia sangat kesal dengan kelakukan Mawar.
Fitri membantu menenangkan para undangan, agar tak bertindak lebih parah, tidak melukai Mawar secara fisik. “Saya sebagai perwakilan Tuan rumah, memohon para undangan untuk bubar. Mohn maaf atas ketidaknyamanan acara malam ini”. Suara Fitri lantang sekali.
Perlahan satu persatu para undangan pulang ke rumah masing-masing. Desas-desus dan hujatan masih terus mereka lemparkan untuk Mawar. Tak jarang ada beberapa undangan yang mengabadikan moment ini dan mengunggahnya ke sosial media hingga viral.
Selepas kepergian para undangan, Mawar mendekat ke arah Fitri. Tak ada kata terimakasih yang ia ucapkan di sana. “Puas kamu dengan semua ini?”. Matanya memerah, ucapannya penuh dengan penekanan.
“Ingat aku tidak akan membuat hidup kalian bahagia, suatu saat nanti aku akan kembali. Kalian harus membayar mahal apa yang sudah terjadi padaku malam ini”. Desisnya kembali dengan mata yang berapi-api menatap Fitri.
“Heh tolong, salah alamat. Kalau marah, marah sama mantan suami kamu. Dia yang membuka segala kebusukan mu. Bukannya terimakasih di tolongin malah marah-marah. Tau gitu ku biarkan saja tadi kamu di keroyok ibu-ibu’. Fitri berlalu meninggalkannya begitu saja.
.
.
.
Tak berselang lama, Randi dan polisi datang secara bersamaan.
“Itu Pak orangnya”. Tangannya menunjuk ke arah Mawar.
__ADS_1
Polisi lekas menuju ke arah Mawar. Mawar gelagapan dengan keadaan yang ada. Ia berlari menghindari kejaran polisi. Mawar berlari kencang menuju ke arah luar rumah. Ia tak ingin mendekam di penjara.
Lari...
Ia berlari cukup kencang, hingga beberapa polisi yang datang kewalahan untuk menangkapnya.
Lari...
Mawar berlari hingga sampai di depan gerbang utama, ita tak melihat arah jalan hingga membuatnya harus jatuh menabrak pagar besar yang ada di depan rumah utama. Kakinya terkilir, ia tak bisa jalan saat itu. Polisi semakin mendekat. Tak butuh waktu yang lama polisi sudah dapat menangkapnya. Kini Mawar sedang mempertanggung jawabkan segala kesalahan yang telah ia perbuat.
.
.
.
Sebulan Kemudian.
“Lihat Mamamu dia sedang sakit, apa kamu tak ingin membantu Papamu yang sudah renta ini untuk merawat Mamamu!”. Pak Nario berteriak keras, ia sudah kesal. Benar-benar kesal.
“Sampai kapan kamu akan seperti ini? Apa kamu pikir Tari akan mau kembali dengan laki-laki gila? Kalau kamu masih cinta perjuangkan cintanya. Raih kembali hatinya!”. Tukas Pak Nario menyadarkan anaknya, ia geram sekali melihat anaknya setiap hari hanya melamun sepanjang waktu. Sesekali akan berteriak sejadi-jadinya seperti orang yang kesetanan.
.
.
.
Randi terdiam untuk sesaat, ia membolak-balikkan hatinya yang telah rapuh. Ia berdiri dari duduknya memeluk sang Papa dengan menangis. Mencoba mencari sebuah kekutan di sana. Pak Nario menepuk-nepuk pundaknya.
“Bangun nak, raih hidupmu yang baru. Bangkitlah dari keterpurukan ini. Bantu Papa untuk merawat Mamamu”. Sudut mata Pak Nario berair, ini pertama kalinya ia menangis di depan Randi.
.
__ADS_1
.
.
Selepas kejadian itu, Randi mulai kembali bangkit dari keterpurukannya. Ia mulai membantu Pak Nario merawat Mamanya. Ia juga mulai kembali ke laundry untuk bekerja.
Kejadian beberapa waktu yang lalu membuat Bu Srining terguncang. Ia masih sama kemana-mana menggendong bonek. Ia memperlakukan boneka tersebut layaknya seperti cucunya. Memakaikan baju, menyuapi merawat layaknya manusia hidup.
Namun saat ia tersadar dengan fakta yang ada, Bu srining akan menangis kembali, ia melempar boneka tersebut ke segala arah. Ia juga sering meninggalkan rumah, berjalan tak tentu arah. Sudah beberapa kali satpam komplek tempat tinggal mereka mengantarkan pulang.
Terkadang Bu Srining mencari keberadaan Tari dalam rumahnya, Ia juga kerap kali memasak makanan kesukaan Tari dan membawanya ke kamar Randi. “Menantu Mama yang baik, kamu di mana nak?”. Begitulah setiap pagi kata yang di ucapkannya.
Ia mengendong boneka, berjalan keluar rumah, dan memberhentikan setiap orang yang lewat, hanya sekedar menanyakan keberadaan Tari.
.
.
.
Sementara itu di Desa Suka Maju, Tari mulai membuka Toko Roti baru, ia menyewa satu tempat yang ada di pinggir jalan raya. Sejak pagi tadi Ibu, Tari, Ipul dan Risma sudah mulai terlihat sibuk untuk acara pembukaan toko kuenya.
Tari mengudang beberapa pelanggannya untuk acara pembukaan toko ini, termasuk Rama yang turut hadir memeriahkan acara tersebut. Ia menyiapkan beberapa kue potong, yang akan di sajikan secara gratis untuk pengunjung yang datang hari ini.
Pada hari pembukaan toko barunya, Tari sedikit memoles wajahnya. Ia menambahkan riasan tipis natural yang menambah aura kecantikannya. Tari menggunakan dress warna pink yang di padukan dengan jilbab pasmina senada dengan bajunya. Sederhana tapi terlihat sangat elegan.
Janda muda itu tersenyum manis pada semua pengunjung yang hadir ke tokonya. Fitri pun turut datang ke acara tersebut, memberikan selamat dan meramaikan. Tak lupa ia mengunggah moment pertemuannya dengan Tari ke laman sosial media milinya.
“Sahabat sampai mati”. Begitulah caption yang tertulis di bawah unggahan foto tersebut.
Trimakasih teman-teman sudah mengikuti cerita ini, kisah Bethari di kehidupan barunya insyaallah akan hadir setelahnya nanti dengan judul yang baru. Apakah ia akan memilih bersama Randi atau Rama.
Author mau siap-siap mudik dulu. Selamat hari raya Idhul Fitri Mohon maaf lahir dan batin 😊
__ADS_1