
“Berpikirlah dengan tenang Ran, kamu memang tidak menginginkan Mawar, tapi Papa mohon pikirkan juga akan nasib anak kalian. Dia sama sekali tak bersalah dan satu lagi yang harus kamu ingat, jika dia pantas untu bahagia”. Tukas Pak Nario dan lekas bangkit dari tempat duduknya meninggalkan Randi.
Randi tertunduk lesu akan takdir yang menimpa dirinya. Sungguh perpisahan bukanlah bagian dari cita-citanya.
“Ya Allah jangan hukum aku seperti ini”. Ia tersungkur berlutut di lantai dengan menangis.
“Perjuangkan cintamu jika itu bisa membuatmu kembali untuk hidup. Bawa kembali istrimu dalam istana yang telah kau bangun. Tapi sebelum itu selesaikan dulu masalahmu. Papa tahu kamu anak yang bertanggung jawab"
Pak Nario, kembali melintas di kamar Randi, dan mengucapkan semua itu dengan penuh penekanan.
Mendengar ucapan sang Papa, yang memang benar adanya membuat Randi bangkit, ia berdiri dan menyambar kunci mobilnya. Kini ia kembali berkelana mencari keberadaan istrinya.
Semua sudut kota ia datang’i termasuk tempat-tempat yang sering Tari kunjungi, namun sayangnya hasilnya nihil. Ia tidak menemukan keberadaan tari di sana. Randi bahkan mengecek hampir seluruh hotel yang ada di Surabaya untuk mencari tahu keberadaan istrinya, lagi-lagi ia harus menelan kecewa karena tak menemukan anak dan istrinya di sana.
Berkali-kali ia datang ke toko roti, namun semua karyawan dengan kompak mengatakan jika pemilik toko itu tidak berkunjung ke sana selama beberapa hari ini.
Randi lelah, namun ia tak putus asa.
Randi memarkirkan mobilnya jauh dari halam toko roti, namun ia masih dapat dengan jelas mengamati setiap pengunjung yang datang dan keluar ke toko itu.
Matanya memindai setiap orang yang hilir mudik singgah di sana. Hari mulai petang, terlihat dari hamparan warna jingga yang mulai mengisi langit cakrawala. Sholawat pengantar magrib mulai berkumandang, alunan menenangkan merasuk jiwa.
Astaghfirullh Robbal baroyaah, Astaghfirulloh minal khothoyah Rabbi zithni ilmannafii’aa wawaffiqni A’malaan sholikha.
Ya Roshullaloh salam munalaika Ya rofi’asyaniwaddaarojii. Athfatayajii rotal’alaamii. Ya uhailaljudiwalkaromi ya uuhailaljudiwalkaromi.
Ngawiti ingsun nglara syi’iran Kelawan muji pareng pengeran Kang paring rohmat lan kenikmatan Rino wengine tanpo pitungan Rino wengine tanpo pitungan
Duh bolo konco prio wanito Ojo mung ngaji syare’at bloko Gur pinter dongeng nulis lan moco Tembe mburine bakal sangsoro Tembe mburine bakal sangsoro.
Ia memejamkan matanya, menikmati setiap bait alunan sholawat yang menenangkan bagi setiap insan yang mendengarnya. Cukup tanang, hatinya mulai kembali tenang meski gemuruh masih begitu besarnya.
Randi kembali membuka mata, kala alunan sholawat itu berakhir, pandanganya matanya kembali tertuju pada toko roti yang ada di depannya, ia memindai kembali setiap orang yang keluar masuk ke sana.
Tari di mana kamu sayang, aku sangat merindukanmu, maafkan aku atas kekeliruan ini, mohon jangan hukum aku seperti ini.
Kini matanya kembali melihat banyaknya orang yang berkunjung di toko roi istrinya, ia mengamati setiap wanita yang singgah di sana.
__ADS_1
Mata Randi terbelalak sempurna.
“Wanita itu, bajunya. Kerudungnya sangat tidak asing”, ia keluar dari mobilnya untuk memperjelas pandangannya.
Dan...
Benar.
Wanita berkerudung army dengan balutan gamis hitam sederhana, dengan gaya jilbab yang sama.
Tari....istriku....
Randi terisak, tanpa pikir panjang ia lekas datang menuju toko roti, tak peduli dengan haluan dari karyawan yang mencobanya untuk melarang masuk. Randi tetap kekeh untuk masuk dan menemui istrinya.
“Saya adalah suami dari pemilik toko ini, semoga kalian semua tidak lupa dengan hal itu!”, ucap Randi dengan kesal kala kehadirannya di halang oleh karyawan di sana.
Menyadari ada keributan di bawah, membuat Tari lekas turun dan membiarkan Risma, masih di atas untuk belajar.
“Mas Randi”, Ada rasa bahagia dan juga kecewa kala melihat kehadiran suaminya. Tari lekas mempercepat langkahnya menghampiri Randi, ia tak ingin ada keributan di tokonya.
Tari lekas memberi kode untuknya, agar turut mengikutinya ke taman belakang.
Randi dengan senang hati mengikuti perintah istrinya. Kini keduanya berada dalam taman belakang toko. Suasana begitu canggung, hingga helaan nafas masing-masing dapat terdengar dengan jelas.
“Sayang, aku mau kita seperti dulu lagi”. Randi membuka keheningan di antara mereka.
“Setelah apa yang kamu lakukan padaku?”.
“Maafkan aku, aku harus bagaimana agar membuatmu bisa memaafkan aku”.
“Sayangnya aku belum bisa memaafkan”. Tari enggan untuk menatap suaminya, ia begitu acuh.
“Aku akan menceraikan Mawar, aku ingin kita seperti sedia kala, berkumpul bersama. Aku sangat mencintaimu sayang. Aku sama sekali tidak mencintai Mawar, aku juga tidak menginginkan kehadirannya di tengah-tengah kita”.
“Itu tidak mungkin, kamu tidak perlu repot-repot menceraikan istri barumu. Keputusanku sudah bulat. Tolong hargai itu”.
Tari pergi begitu saja meninggalkan Randi, yang masih duduk di taman belakang toko. Lagi-lagi Randi harus kecewa dengan keadaan yang ada.
__ADS_1
***
Bu Srining, tidak tahan melihat kondisi Mawar, yang sejak kemarin enggan makan dan hanaya menangis saja di kamar. Ia begitu takut sesuatu hal buruk terjadi pada cucunya, oleh sebab itu Bu srining memberanikan diri untuk mendatangi Tari, meskipun awalnya ia ragu, namun demi kebaikan putra dan cucunya ia melangkah untuk menemui Tari.
Pagi-pagi sekali Bu Srining, sudah sampai di toko roti, ia dapat dengan mudah masuk ke sana, karena seluruh karyawan toko mengenal beliau. Meskipun awalnya malas untuk berjumpa, tapi Tari berusaha untuk menyambut kehadirannya dengan begitu baik.
Tari masih sama, ia mencium tangan wanita paruh baya itu, dan mempersilahkan untuk duduk. Tari juga meminta karyawannya untuk membuatkan minuman dan juga menghidangkan kue brownies kesukaan mertuanya.
Diam.
Bu srining, masih diam, ia belum berani mengucapkan satu katapun.
“Ada apa?’. Tari membuka percakapan dengan memandang dalam mata Bu Srining.
“Tari, Mama mau minta maaf atas segala yang sudah Mama lakukan padamu”. lirih suaranya begitu lirih hampir tak terdengar.
Diam
Tari enggan untuk menjawab pernyataan itu.
“Tar, kamu tau kan jika Randi adalah anak satu-satunya Mama. Mama begitu menyayanginya dan Mama....”. Bu Srining meremas tangannya.
“Dan Mama, menginginkan yang terbaik untuk anak Mama”, sahut Tari dengan begitu cepat dan dingin.
“Sat ini yang terbaik untuk Randi adalah Mawar”. Desis Bu srining lirih.
Tari tertawa kecut mendengar ucapan mertuanya.
“Kenapa? Apa karena aku tidak bisa hamil, sedang ia sedang mengandung anak Randi?”, jawab Tari kembali penuh penekanan.
“Lantas apa mau Mama?"
Bu Srining menunduk tak berani untuk menatap menantunya. Ia lantas berucap dengan lirih bahkan nyaris tak terdengar.
"Tinggalkan Randi Tar. Ia pantas bahagia dengan Mawar dan anaknya"
Deg...
__ADS_1