
Tak ada jawaban dari Randi.
Tari hanya menggelengkan kepalanya saja dan menatap Risma.
“Coba sekali lagi Bunda, barang kali tadi Ayah masih sibuk”.
“Baiklah nak, Bunda coba lagi ya, kala tidak di angkat Risma tidak boleh marah ya, kita makan berdua saja di sini”.
Gadis cilik itu pun menganggukkan kepalanya dengan perasaan yang harap-harap cemas, ia ingin sekali kehadiran Randi sore itu untuk merasakan indahnya jalan-jalan dengan keluarga lengkap.
Calling Mas Randi.....
***
Laundry Mama Randi Bu Srining
“Assalamualaikum sayang”, tak berselang lama Randi menjawab panggilan masuk itu, suaranya serak seperti sedang dalam amarah.
“Waalaikumsalam Mas, Mas Randi di mana?”. Suara Tari yang begitu lemah lembut dan mendayu-dayu seakan menjadi obat bagi hati Randi yang memanas sejak tadi.
“Aku sedang di laundry Mama sayang, ada apa?”.
“Mas, aku dan Risma sedang jalan-jalan di Royal Plaza, apa Mas Randi bisa ke sini sebentar? Risma ingin jalan-jalan dengan ayahnya”.
“Baik sayang aku akan ke sana sekarang, tunggu ya di situ aku langsung berangkat”.
Mawar yang mendengar setiap kata yang terlontar dari mulut Randi untuk Tari tersenyum masam, bagaimana bisa jika dengan Tari ia akan luluh dan berkata lemah lembut, sedangkan dengan dirinya ia akan berapi-api layaknya orang yang sedang kesetanan.
“Ah slalu saja begitu sikap Mas Randi padaku, semua ini masih tentang Tari, padahal aku sudah memberikan masa depan untuk Mas Randi, namun nyatanya semua itu tak bisa merebut sedikit saja perhatian Mas Randi untukku”
Tanpa permisi Randi meninggalkan Mawar begitu saja yang masih tertegun di depan pintu.
Mawar kembali menatap nanar punggung suaminya.
“Mas Randi....” lisannya berucap lirih.
__ADS_1
***
Royal Plaza Surabaya
Tak butuh waktu yang lama Randi sudah berada di Royal Plaza Surabaya, ia lekas mencari keberadaan anak dan istrinya yang sudah menunggu untuk makan bersama.
Sementara Tari dan juga Risma sudah memesan beberapa menu makanan untuk makan mereka, Tari juga membelikan Risma ice cream.
“Ayah....”. Teriak gadis kecil itu dan lekas berlari menuju Randi.
Randi merentangkan tangannya bersiap untuk menggendong Risma yang tak lagi kecil tubuhnya.
Tari tersenyum melihat pemandangan indah di depan matanya.
“Mas mari makan, sudah aku pesankan makanan untuk kita semua”. Tangan Tari terulur memberikan satu porsi makanan untuk suaminya.
Randi memandang Tari tanpa berkedip dan juga tanpa memberikan jawaban.
“Mas kenapa?”. tangan lembut itu menyentuh lengan suaminya.
“Apakah ada sesuatu yang terjadi mas?”,
Tari dengan cukup pelan bertanya seperti itu pada Randi, takut menyinggung perasaan sang suami. Bukan tanpa alasan Tari bertanya hal semacam itu, menurut Tari beberapa akhir ini sikap Randi sedikit berubah padanya. Randi semakin manis dan protektif padanya.
“Menurut kamu sayang?”.
Kini Randi bertanya kembali pada Tari, ingin mencoba mengetahui seberapa besar Tari bisa merasakan sikapnya yang berubah.
“Aku rasa ada yang sedang terjadi padamu Mas, hanya saja aku menahan diri untuk tidak bertanya sampai kamu memberi tahu sendiri apa yang sedang terjadi padamu”. Kini Tari memberanikan menatap mata Randi selah sedang mencari kejujuran dan jawaban di sana.
“Aku akan memberi tahumu nanti sayang, jika waktunya sudah tepat”. Randi kembali membelai lembut kepala istrinya.
Kini ketiganya sedang menikmati makan bersama layaknya keluarga yang bahagia utuh tanpa celah, sesekali Tari menyuapi Randi dan juga Risma secara bergantian.
***
__ADS_1
Ruma Mawar
Sementara itu di rumah Mawar ia kembali menangis dengan menjerit-jerit mengingat segala perkataan kasar yang terlontar dari mulut Randi. Mawar memang mencintai Randi sejak mereka pertama kali bertemu di laundry dulu.
Kala itu Randi dan Mawar masih SMA, hampir setiap hari Randi berkunjung ke sana sepulang sekolah untuk membantu orang tuanya sedang Mawar seorang anak yatim piatu yang harus bertahan hidup dengan mencukupi kebutuhan diri sendiri.
Rasa iba dari Bu Srining dan Pak Nario padanya membuat keduanya mempersilahkan Mawar untuk turut bekerja di sana selama sepulang sekolah, kala itu Mawar masih bekerja part time, setelah Mawar lulus SMA ia baru bekerja full di laundry itu. Tak ada perlakukan khusus yang di berikan oleh Bu Srining padanya dulu.
Tak ada interaksi juga anta Randi dan Mawar, Mawar hanya mengagumi Randi dalam hatinya saja selama ini. Sementara Randi hanya mengaggap Mawar sebagai karyawan biasah saja di laundry miliknya.
Tahun berganti tahun, Randi tumbuh menjadi peria dewasa yang ganteng dan juga mapan, Mawar semakin tertarik dan ingi memilikinya, namun sayangnya Randi sama sekali tak melirik kehadirannya sama sekali. Hingga saat itu Randi akan menikah dengan salah satu wanita pilihannya.
Mawar begitu hancur.
Tak berselang lama terkuak kabar jika calon pengantin Randi menghilang saat acara akad pernikahannya. Hal ini membawa angin segar bagi Mawar, ia kembali mencoba mendekati Randi dan menarik hatinya.
Tak mudah jalan Mawar untuk meluluhkan hari Randi, nyatanya bertahun-tahun memberikan perhatian dan perlakuan khusus pada Randi tak membaut Randi memilihnya.
Lagi-lagi Mawar harus kecewa.
Randi tak bergeming bahkan tak merasa sama sekali. Randi lebih memilih Tari untuk menjadi pendamping hidupnya, wanita yang baru ia kenal beberapa bulan di tempat kerjanya.
Kecewa dan sedih begitulah yang di rasakan Mawar, kala Randi dan Tari benar-benar menikah dan hidup bahagia. Mawar masih enggan untuk keluar dari laundry tersebut ia masih berharap suatu keajaiban yang membuatnya dan Randi bisa bersatu.
Hingga suatu waktu ia mendengar penuturan Bu Srining ketika sedang bercerita dengan salah satu temannya. Bu Srining menceritakan kondisi Tari pada sahabatnya dan ingin mencoba mencarikan istri lagi untuk Randi.
Hanya saja Bu Srining mengatakan jika berkali-kali ia memilihkan wanita untuk menjadi menantu keduanya, namun sayangnya Randi slalu menolak. Sahabat Bu Srining menyarankan untuk mengikuti bayi tabung saja.
Lagi-lagi Bu Srining bekeluh jika Tari wanita mandul dan tak bisa memiliki anak sebesar apapun usaha mereka nanti.
Sahabat Bu Srining hanya menepuk-nepuk pundaknya, mencoba menguatkan tanpa memberi saran yang lain takut terlalu dalam mencampuri urusan keluarga rang lain.
Sepertinya takdir tak akan membawa Randi jauh dari Mawar. Tak berselang lama Mawar memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan khusus tersebut setelah kepergian sahabat Bu Srining. Mawar mengungkapkan segala rasa yang ada pada Randi selama bertahun-tahun ini. Mawar juga bersedia untuk menawarkan diri menjadi istri kedua Randi tanpa menuntut apapun darinya nanti.
Ia hanya ingin membantu Randi dan juga keluarganya untuk mewujudkan sebuah harapan besar keluarga itu yakni seorang keturunan.
__ADS_1
Bu Srining terharu mendengar penuturan Mawar.s