
“Biar saya saja yang beli rumah ini!”.
Dengan kompak semua orang yang ada dalam ruang tamu menoleh ke sumber suara.
“Kamu siapa?”. tanya bude padanya.
“Saya Randi, saya ingin membeli rumah ini”. jawabnya dengan begitu tenang dan santai.
“Rumah ini sudah ada yang menawar dan ini tinggal pembayaran!”.
“Saya beli dengan harga tiga ratus juta”.
Mendengar kata tiga ratus juta, membuat mata bude langsung terbelalak dengan sempurna.
“Pak kasih saja sama orang ini, lumayan tiga ratus juta kalau sama pak Anto cuma dua ratus”. Bude berbisik pada sang suami yang kebetulan berada di sampingnya.
“Tapi bagaimana dengan pak Anto?”.
“Ya di batalin saja dong pak, gitu aja kok repot”. Mata bude memutar ke atas.
Pakde mulai berunding dengan paklek beserta dengan istri masing-masing, sementara ibu masih menatap bingung pada semua orang yang ada dalam ruangan tersebut.
“Begini pak Anto, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya tidak jadi menjual rumah ini pada bapak”.
“Tidak bisa begitu dong pak, kan saya yang lebih dulu memilih rumah ini”.
“Tapi pak, pak Randi memberikan tawaran harga yang lebih mahal dari yang bapak berikan pada kami, kami sebagai pemilik rumah berhak menentukan kepada siapa rumah ini kami jual”.
“Saya tidak terima semacam ini, ini seperti penghinaan buat saya, saya yang lebih dulu membeli rumah ini”.
“Tenang pak tenang, mari kita diskusikan dengan baik-baik semua ini dan mencari solusinya”. Pak lurah mencoba meminimalisir pertikaian dan menenangkan mereka yang sedang berdebat.
“Pak akad jual beli belum terlaksana, bapak juga belum memberikan DP sepeserpun pada kami sebagai tali, tadi hanya memegang saja uangnya sekedar untuk foto”. Kini bude angkat bicara, bude mana mau rugi.
“Saya tidak terima!”.
__ADS_1
“Jika bapak tidak terima, silahkan pergi dari rumah ini, pintu ada di sebelah kanan”. pakde mengarahkan tangannya menuju pintu keluar ruang tam rumah ini.
“Dasar mata duitan, kemarin memohon-mohon untuk di beli rumahnya sekarang seperti ini, dasar mata duitan”. pak Anto meninggalkan rumah tersebut dengan membawa uang yang akan di gunakan untuk membayar rumah tersebut, tak lupa pak Anto memaki-maki mereka sebelum kelar ruangan tersebut.
Ibu hanya menangis saja tak mampu berkata apa-apa, toh siapapun yang beli rumah ini akan menjadi milik orang lain, wajahnya kembali tertunduk.
“Bagaimana pak Randi, apakan anda benar-benar akan membeli rumah ini, saya sudah memilih anda sebagai pembeli saya”.
“Tentu”. Randi menyodorkan koper hitam yang berukuran tanggung pada bude dan pakde tepat di hadapannya.
Melihat sejumlah uang yang ada di depannya membuat mata bude seketika berbinar, tangannya tak kuasa terulur menyentuh uang tersebut.
“Tunggu!”.
“Jangan sentuh uang tersebut, sebelum kalian menandatangani semua surat-surat jual beli rumah ini”.
“Baik-baik pak, mohon maa atas kelancangan istri saya”,
Bude mengerucutkan bibirnya.
Pak sekretaris desa kembali mengambil foto prosesi tersebut, dan tibalah saat penandatangan surat-surat, semua lekas menandantangani surat jual beli tanah tersebut termasuk dengan ibu.
“Baik pak saya beserta yang lain undur diri dulu”. pamit dari pak Lurah beserta rombongan yang lainnya.
Rumah ibu masih rame, menyisakan pakde, paklek beserta pasangan masing-masing, begitu juga Randi yang masih tertinggal di situ enggan untuk beranjak.
“Sekarang rumah ini menjadi milikku, jadi silahkan kalian pergi”.
“Iya-iya pak, maaf kami akan lekas pergi dari sini, kami hanya mau menghitung uang saja”.
“Ayo ke rumahku saja, kita bagi di sana uangnya’. pakde bercap dengan senyum teramat sangat lebar di wajahnya. Langkahnya menuju rumah begitu ringan sesekali di iringi dengan nyanyian.
Begitu juga dengan paklek Wanto, yang turut serta mengikuti langkah pakde menuju rumahnya, kini kakak beradik tersebut sedang tertawa merayakan kemenangan akan warisan yang selama ini dia impi-impikan, sementara ibu hanya menangis di pojokan.
***
__ADS_1
Rumah bude Murni dan pak Dar.
Kini dua pasangan suami istri tersebut sedang duduk bersila di ruang tengah membentuk lingkaran dengan meletakkan uang dalam koper tersebut tepat di tengah-tengah mereka.
Senyum mereka terpancar dengan sempurna kala membuka isian koper tersebut, lembaran pemandangan warna merah menghiasi matanya. Semua orang dalam lingkaran tersebut menyentuh uang tersebut dengan begitu rakusnya.
Bude yang tak rela uang tersebut tersentuh oleh paklek Wanto, lekas menutup kembali untuk sementara koper tersebut.
“Bair aku saja yang membaginya”.
‘Mas Dar, kan anak tertua dalam keluarga ini, jadi sudah seharusnya mas Dar mendapat bagian yang lebih besar dari kamu dan Marni nanti”.
“Mana bisa seperti itu mbak?., dimana-mana kita harus membagi dengan adil uang tersebut”. Paklek mendengus kesal atas usulan yang di lontarkan bude, menurutnya itu tidak masuk akal.
“Mas Dar berhak mendapat bagian yang lebih besar, karena lebih dahulu mengalami penderitaan sebelum kamu dan Marni lahir”.
Kita sama-sama anak mbah, sama-sama pernah menderita akan hidup kita di masa lampau, jadi ayo bagi secara adil uang ini.
Paklek dan pakde saling berdebat memperebutkan jumlah harta warisan mereka tanpa memperdulikan ibu akan tinggal di mana setelah ini.
“Sudah To, kita bagi dua saja uang ini, aku 150 juta kamu 150 juta bagaimana?”.
“Lalu mbak Marni bagaimana?”.
“Halah Marni tidak usah di bagi juga tidak apa, bukankah dia sudah lama sekali menempati rumah itu tanpa membayar sedikitpun, lagian dia wanita jadi secara agama pembagian juga tidak harus adil dengannya”. Bude memberikan masukan yang teramat sangat salah kaprah dan sesat, entah agama mana yang mengajarkan hal seperti itu.
Mendapat saran seperti itu membuat paklek Wanto setuju, karena memang yang mereka lihat seperti itulah kenyataan yang ada, ibu tak membayar sewa dan hanya menikmati sendiri harta mbah sebelum di bagi saat ini. Dengan sigap mereka lekas menghitung uang yang ada dalam koper tersebut dan benar-benar membagi dua tanpa memikirkan nasih ibu.
***
Rumah Ibu.
Selepas kepergian dua saudaranya, ibu lekas melenggang masuk ke dalam kamar, tanpa mengucapkan satu katapun. Ibu teramat sangat kecewa dan sedih dengan apa yang menimpanya, kebingungan akan tempat tinggal setelah ini di mana dan bagaimana. Sementara ibu belum memberikan kabar ini pada sang anak Tari.
Tangannya mulai meraih tas besar yang ada di atas almari bajunya, memasukan satu persatu baju yang ada dalam lemari tersebut kedalam tas. Air matanya tak berhenti menetes, sesekali terdengar tangis sesenggukan yang begitu memilukan.
__ADS_1
“Tunggu ibu mau kemana?”. Randi memberanikan diri memasuki kamar wanita paruh baya tersebut.