Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Rencana Bude


__ADS_3

“Pak bagaimana ini, hari persalinan Dewi sudah mendekati HPLnya?”. Bude Murni gelisah, ia duduk bersila di ruang tamu dengan memijat-mijat kepalnaya yang terasa sangat pening beberapa hari ini.


Dewi menantu kesayangannya, istri Udin akan melahirkan dalam minggu-minggu ini. Sudah tiga bulan lebih Udin tidak bekerja, begitu juga dengan Pakde Dar, keduanya sama-sama tidak berpenghasilan. Untuk saat ini mereka hanya mengandalkan sawah peninggalan mbah sebagai tumpuan untuk bertahan hidup, sialnya Tari dan juga Bu Marni menghilang entah kemana keberadaaanya.


“Pak!, jangan diam saja dong! Bantu mikir kenapa? Apa iya kita mau makan angin terus seperti ini? Tuh menantu juga tinggal menghitung hari anaknya lahir, mana baju-baju bayi aja belum ada”. Geram Bude Murni, kala berbicara dengan Pakde Dar, sedang Pakde Dar malah asyik bermain ponselnya.


“Kamu pikir aku juga tidak bingung, cari duit ke mana lagi setalah ini!”, serunya dengan mata melotot sejenak memandang istrinya yang memiliki badan besar.


“Gimana dong Pak? Mana keponakan kamu pakai acara minggat segala, mana emaknya juga ikut pula. Pak sampai kapan Marni akan pergi dari sini? Lihat nih tanganku sudah banyak yang luka kena sayatan pisau kalau masak!”. Bude Murni menunjukan jari-jari gendut dan pendeknya pada Pakde Dar, terdapat luka-luka kecil akibat goresan pisau.


“Ya mana bapak tahu!, sekarang dimana mereka saja Bapak tidak tahu”.


“Harusnya Tari kalau ada masalah itu ngomong dulu sama keluarga, biar bisa musyawarah cara penyelesainnya, jangan tinggal kabur seperti ini, kok enak banget lari dari masalah gitu aja”. Ucap Pade Dar dengan menggantikan aktivitasnya bermain ponsel dan menatap serius istrinya.


“Lha iya, kalau begini kan jadi kita yang rugi Pak, tidak dapat jatah bulanan dari Randi, tidak ada acara liburan keluarga, tida ada makan-makan besar ketika Randi berkunjung ke sini”. Bude mendongak menatap langit-langit ruang tamu rumahnya, ia teringat akan kebersamaan Randi dan Tari yang tentunya membawa serta keluarganya.


“Harusnya Tari itu terima saja kenyataan yang ada, jika memang ia mandul dan tidak bisa punya anak. Lalu ia menerima dengan suka rela kehadiran siapa wanita itu?”. Tanya Bude dengan mencondongkan wajahnya ke arah Pakde Dar.


“Mawar”.


“Iya, Mawar berduri, dasar sialan wanita murahan itu, bagaimana bisa dia menghancurkan rumah tangga Tari dan Randi!”. Gara-gara wanita sialan itu kita jadi susah seperti ini geramnya.


“Harusnya Tari terima saja kehadiran madunya, Tarikan bisa memilih untuk tinggal terpisah dengan istri keduanya, harusnya ia bisa menerima kenyataan atas kekurangan. Huft bodoh sekali mereka semua”.


“Harusnya mereka saling menerima semua! Harusnya tidak seperti ini. Harusnya Tari tetap ada di sini pak! Duh kalau Tari dan Marni tidak pulang-pulang bagiamana Pak? Uang kita sudah hampir habis untuk makan sehari-hari”. Geram Bude dengan frustasi, kala sumber penghasilan merea berkurang dengan kepergian Tari.


“Mana nomor Tari dan Marni tidak ada yang aktif pula, Ipul itu juga keponakan gak tau diri, sama saudara sendiri tidak mau kasih tahu keberadaan mbak dan ibunya”.


“Harusnya Tari, juga tidak perlu mengembalikan rumah itu pada Randi, kenapa rumah itu tidak di kasihkan ke kita saja. Bukankah kita saudara terdekat dan terbaiknya pak?”. Bude semakin frustasi dengan keadaan yang ada, ia menjambak lembut kepalanya yang sedang memakai rol di rambut.

__ADS_1


“Pak, ayo pak mikir! Mikir! Cari duit yang banyak sana, kita perlu banyak uang saat ini”.


“Ini juga lagi mikir Bu”.


“Bapak mikir doang, tidak gerak sama sekali. Emang uang bisa jatuh dari langit dengan bapak hanya mikir-mikir tanpa usaha yang jelas!”. Tukasnya dengan geram kala melihat suaminya hanya bertopang dagu menengadah ke atas.


“Terus aku harus gimana Bu? Pelihara tuyul? Atau jual saja emas-emas mu dulu, nanti kalau Marni dan Tari sudah kembali minta ganti sama mereka”.


“Sembarangan saja main jual-jual, iya kalau mereka kembali, kalau tidak?”. Bude melotot sempurna, hingga bola matanya hampir keluar dari lubangnya.


“Ya Ibu hubungi Randi saja, coba minta uang dia atas nama Tari. Gitu aja kok repot”, jawab Pakde dengan asal.


“Hah, tunggu...”.


“Tunggu....”. Tangan Bude menepuk-nepuk pundak suaminya.


“Benar juga apa kata bapak, kita harus memanfaatkan siapapun yang masih tersisa, termasuk Randi. Bukankah mereka berdua belum resmi bercerai. Kenapa tidak meminta uang saja dari Randi”. Seperti mendapat angin segar dalam padang pasir yang gersang.


“Baik Ibu akan coba hubungi Randi setelah ini”. Bude beranjak dari kursinya dengan susah, mengingat tubuhnya yang teramat sangat besar, sehingga membuat ruang geraknya menjadi terbatas.


******


Rumah Randi.


Malam bantu aku tuk luluhkan dia


Bintang bantu aku tenangan dia


Dari rasa cemburu dari rasa curiga

__ADS_1


Kerena hati ini ku simpan hanya untukmu


Tenangan dirimu kau terlalu jauh


Sebenarnya aku tak seburuk itu


Semua perjuanganku dibelakang dirimu


Semata karena aku tak mau berpisah


Hilangkan semua


Curiga yang membuat ita berjarak


Randi menikmati malamnya dengan mendengarkan lagu dan meletakkan foto Tari yang di balut pigura besar tepat di sampingnya. Benar saja, Randi sudah seperti orang gila semenjak kepergian Tari. Ia slalu membayangkan Tari ada di sisinya, menemani setiap aktivitasnya setelah lelah seharian di luar rumah.


Seperti malam itu, ia meletakan bingkai foto besar bersebelahan dengan kursi tempat ia duduk menikmati sebatang rokok dan secangkir kopi. Tubuhnya ada di sana, tapi tidak dengan hatinya. Bayang-bayang rasa bersalah dan kehilangan begitu mendalam di benaknya.


Sampai kapan akan seperti ini?.


Entah biarlah waktu dan Sang Maha pencipta yang mengetahui.


Apakah bisa sembuh?


Entahlah, rasa bersalah dan sesal itu terlanjur mendarah daging dalam dirinya, seandainya dengan bersujud di kaki Tari dapat membawanya kembali ke sini, tentu dengan senang hati akan Randi lakukan. Seandainya dengan menceraikan Mawar, dapat membuat Tari kembali pasti akan ia lakukan.


Namun sayang, Tari sama sekali menutup semua akses jalur komunikasi mereka.


“Hubungan kita berhasil dalam penantian anak, tapi gagal prihal keegoisan orang tua sayang”. Tangannya terulur membelai wajah dalam bingkai foto itu.

__ADS_1


“Sungguh apakah kita sudah gagal sayang? Atau kamu hanya pergi sebentar untuk menguatkan diri?”.


“Tolong, tolonglah pulang, aku rindu wajahmu, senyummu yang sudah hilang”. Ia meraih bingkai foto yang di letakan di sebelahnya, lalu mendekap dengan buliran air mata yang sudah jatuh tanpa sengaja.


__ADS_2