
“Temani Mawar, di sedang hamil muda dan butuh suami di sampingnya”.
Randi merotasi matanya menatap malas pada ponsel tersebut.
Ia membiarkan saja ponselnya tanpa berniat untuk membalas pesan sang Mama, Randi tak ingin hari libur bersama keluarga kecilnya terusik. Ia lebih memilih untuk menonaktifkan ponselnya.
Tak berselang lama Tari kembali dengan membawa satu cangkir coklat panas untuk Randi, ia juga membawa beberapa potong roti khusus yang ia bikin sendiri.
“Mas makanlah dulu, sebentar lagi aku sudah selesai”.
Randi hanya tersenyum dan mencomot satu potong brownies dengan isian coklat yang meleleh di tengahnya.
“Kue buatan kamu slalu enak sayang tak ada duanya, seperti kamu yang tak akan pernah ada duanya”.
Tari tak menanggapi ucapan suaminya ia lebih memilih fokus menatap layar komputer di depannya.
***
Laundry Bu Srining.
Hari minggu laundry Bu Srining tidak tutup, biasanya di hari minggu costumer akan meningkat dua kali lebih banyak. Kala itu laundry benar-benar rame hingga membuat Bu Srining turut serta turun untuk membantu karyawan lainnya. Kesibukannya yang padat membuat ia tak sempat untuk mengunjungi Mawar. Jika biasanya setiap pagi Bu Srining akan mengantarkan makanan untuk Mawar hari ini tidak. Oleh sebab itu Bu Srining meminta Randi untuk menemani Mawar.
Merasa ada yang berbeda tanpa kehadiran ibu mertuanya membuat Mawar merasa cemas. Ia berkali-kali masuk dan keluar menunggu kehadiran ibu mertuanya.
“Ini sudah lewat dari jam makan siang, tapi kenapa Mama tidak ke sini?”.
Karena merasa bosan tidak ada teman untuk bercerita, Mawar memutuskan untuk datang ke laundry saja ia berharap dengan datang ke sana akan bertemu dengan banyak orang dan juga bisa melakukan hal-hal kecil. Jika harus di rumah saja tanpa melakukan apa-apa membuat tubuhnya semakin kaku.
Tak butuh waktu yang lama, kini Mawar sudah sampai di laundry Bu Srining. Kehadirannya di sambut baik oleh Bu Srining. Beberapa perlakuan khusus pada Mawar membuat beberapa rekan-rekan kerjanya dulu tampak bingung mengartikan kedekatan mereka.
“Ngapain harus ke sini sih nak? Kandungan kamu bagaimana? Apa dia rewel hari ini?”, sambut Bu Srining dengan mengandeng menantu keduanya.
“Tidak ada masalah yang berati Bu, hanya saja aku sedang bosan di rumah”.
__ADS_1
Mawar mengikuti langkah Bu Srining yang membawanya ke ruang setrika, kebetulan beliau sedang membantu mengemas siang itu.
“Masih rame ya Bu?”. ucapnya dengan memandang sekitar ruangan yang penuh dengan tumpukan baju-baju.
Kali ini Mawar memanggil Bu Srining dengan sebutan Bu, seperti ketika masih bekerja di sana. Randi yang memintanya.
“Iya seperti yang kamu lihat, jika hari Minggu laundry memang rame”.
“Biar saya bantu Bu”. Tangan Mawar terulur dan langsung dengan lihai mengepak semua pakaian yang ada di depannya, memasukan ke dalam kantung plastik dan memberi label masing-masing pakaian sesuai dengan nama costumer.
“Kamu jangan capek-capek Mawar, kandungan kamu kan lemah, sebaiknya perbanyak saja istirahat dulu. Kata dokter kamu harus banyak-banyak istirahat”. Tukas Bu Srining yang memperhatikan Mawar dari tadi tak mau diam.
Sontak membuat karyawan yang lain semakin bertanya-tanya mengenai hubungan Mawar dengan Bu Srining, hingga pemilik laundry tersebut mengetahui keadaan kandungan Mawar yang lemah.
Mereka saling memandang satu sama lain dengan isi kepala yang sama.
“Aku sehat kok Bu, lagian cuma masukin baju dalam plastik saja. Saya bosan bu di rumah setiap hari sendirian tidak ada yang menemani”, curhat sekilas Mawar pada mertuanya.
“Masak manten baru kesepian”, reflek salah satu teman Mawar yang menyetrika dalam ruangan tersebut ikut berbicara.
“Suamiku sibuk setiap hari bekerja pulang malam”, jawab Mawar tanpa ingin merusak dan menyebutkan nama suaminya.
Tiga jam berlalu sejak kedatangan Mawar ke laundry, ia masih enggan untuk beranjak meninggalkan tempat itu. Ia lebih memilih duduk dan menyaksikan beberapa teman-temannya bekerja setalah Bu Srining berkali-kali melarangnya untuk memegang sesuatu yang dapat membuatnya cepak.
Lima detik kemudian,
Mata Mawar di suguhkan dengan pemandangan yang membuat hatinya resah sekaligus panas.
Kehadiran Randi dengan Tari beserta anak angkatnya Risma, yang datang dengan begitu tiba-tiba ke laundry.
Tari yang meminta Randi untuk mengajaknya ke sana, ia ingin membagikan kue-kue pada karyawan laundry sekaligus ingin membagi kebahagian dengan hadirnya Risma di sisi mereka saat ini.
Semua di luar rencananya.
__ADS_1
Randi menggandeng anak dan istrinya dengan begitu posesif, seakan ingin menunjukan pada semua yang ada di sana jika keluarganya sedang berbahagia.
Kini Mawar melangkahkan kakinya menuju ke arah Randi yang mulai memasuki pintu, ia mencoba memasang wajah baik-baik saja meskipun hatinya sedang terbakar cemburu yang begitu hebatnya.
“Selamat sore bu Tari”, sapa Mawar dengan ramah pandangan matanya tak bisa terputus pada Randi yang berada di sebelah Tari.
Sementara Randi membuang muka, menghindari tatapan itu, ia lebih memilih melihat kepala istrinya dan mengelus lembut pucuk kepala itu.
Tiga detik
Cup.
Randi mencium kepala istinya dengan begitu lembut dan penuh cinta di depan Mawar.
Mawar mencoba baik-baik saja melihat pemandangan yang ada di depan mata, meskipun tangannya mengepal sempurna di bawah.
“Apa kamar mbak Mawar?”, sapa Tari dengan begitu ramah, satu tangannya terulur ke depan hendak bersalaman.
“Baik Bu. Wah bu Tari ini siapa cantik sekali?”. Kini Mawar sedang berjongkok di depan Risma membelai lembut rambut gadis kecil yang tergerai rapi.
“Ini anak kami Risma”, jawab Tari dengan penuh percaya diri dan memberikan senyuman termanisnya.
“Risma ya, kamu cantik sekali nak, kamu sudah sekolah?”.
“Iya dong Risma cantik kan aku anaknya Ayah dan bunda, aku sudah sekolah Tante”. Jawab Risma dengan memandang wajah Tari dan Randi dan memeluk Ayah Bundanya.
“Lho mbak Mawar bukannya sudah resign? Kok ada di sini lagi”. Tanya salah satu karyawan yang beru datang untuk pergantian shift.
“Lho resign kenapa?”,
“Tidak papa bu Tari, saya hanya butuh istirahat saja sejenak karena saya sedang.....”. Mawar melirik Randi berharap Randi akan meneruskan ucapannya atau sekedar untuk melihatnya walau sejenak saja. Namun sayangnya Mawar harus kembali menelan rasa kecewa karena Randi sama sekali tak melihatnya. Hal ini membuat Mawar semakin terbakar cemburu. Rasanya ia ingin mengambil alih Randi saat itu juga dari tangan Tari.
“Saya sering tidak enak badan Bu akhir-akhir ini”.
__ADS_1
“Kalau begitu sebaiknya mbak Mawar banyak-banyak istirahat dan makan yang banyak, satu lagi jangan terlalu banyak pikiran ya”, Tari menepuk-nepuk pundak Mawar dan lekas menuju ruang khusus di laundry tersebut.