
“Tari sayang, dengarkan penjelasanku dulu. Aku minta maaf untuk semuanya, aku mohon mengertilah, dengarkan dulu penjelasanku”. Kini Randi semakin mempercepat langkahnya untuk mengejar Tari yang sudah berada di parkiran.
Tari masih tetap berlari dengan menggendong Risma yang turut menangis ketakutan, melihat orang tuanya yang sedang bertengkar. Tangisan Istri dan anaknya semain membuat hati Randi pilu tiada terkira.
“Sayang aku mohon”, suaranya semakin serak dan tak bertenaga.
Tari menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu parkiran, kini ia menatap Randi dengan sangat tajam dan berteriak cukup keras di depan wajah Randi.
“Apa lagi heh?"
“Apa?”. Ucapnya kembali dengan lantang penuh penekanan di depan wajah Randi, dan menatap matanya.
“Apa yang akan kamu minta dariku mas? Menerima segala kelakuan yang telah kamu perbuat? menerima penghianatan mu? atau bahkan menerima anakmu dari wanita lain begitu heh!”.
“Jangan harap, lebih baik aku menjadi janda”, tukasnya dengan sangat lantang dan meninggalkan Randi tanpa memberinya kesempatan untuk mengucapakan sebuah kata.
“Aku tidak bermaksud untuk mengkhianatimu sayang...”, desisnya lirih,
“Tapi kamu melakukannya Mas, hingga dia hamil. Hamil anakmu!”. Tari tertawa, menertawakan hidupnya yang malang.
“Bodoh, aku memang wanita paling bodoh sedunia”.
“Sekarang kembalilah pada istri dan anakmu, berbaktilah pada orang tuamu, karena aku dan Risma bukan lagi milikmu!”. ia memalingkan wajahnya tak ingin menatap wajah Randi kembali. Langkah kakinya semakin cepat menuju parkiran, ia mengendarai mobilnya dengan cukup cepat.
Randi pun hancur, ia tersungkur ke tanah. Kakinya mendadak lemas, kehilangan tumpuan untuk berpijak. Belahan jiwanya telah pergi meninggalkannya, atas kesalahannya sendiri yang mengatasnamakan bakti pada orang tua.
****
Sepanjang perjalanan Tari menangis sesenggukan, tak ada kata yang terlontar dari mulut indahnya. Ia bungkam tapi suara tangisan menggema memenuhi seluruh ruang. Risma begitu ketakutan dengan keadaan yang ada. Ia turut menangis melihat sang Bunda bersedih.
“Bunda, jangan nangis Risma takut”. Wajah cantik nan lugu itu mendongak menatap Bundanya yang sedang fokus mengemudi, jemari kecilnya terulur mengambil sebuah tisu dan mengusap air mata Bundanya.
Tari sedikit menurunkan laju mobilnya, ia mencoba memberikan sedikit senyuman pada sang anak, namun sayangnya gagal. Sedetik kemudian ia kembali menangis sejadi-jadinya. Memukul dadanya, yang terasa begitu sesak tak tertahankan. Berharap semu ini hanyalah sebuah mimpi dan lekas terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
“Ya Allah sakit sekali”. Satu tangannya menekan dada, mencoba memberikan kekuatan pada diri sendiri yang saat itu benar-benar rapuh tak berdaya.
Kini ia kembali menjalankan mobilnya ke sembarang arah, membelah padatan jalanan di pagi hari. Bunyi klakson dan riuh padatnya jalanan sekaan tak berdampak bagi Tari, seketika hatinya terasa hampa dan merana.
Pantas saja selama ini mas Randi tidak pernah mempermasalahkan, jika sampai saat ini aku belum hamil. Mas Randi juga tidak pernah menyuruhku untuk berobat atau melakukan pemeriksaan kembali sebagai ikhtiar untuk memiliki momongan. Pantas saja akhir-akhir ini ia bersikap begitu lembut dengan ku.
Pantas saja beberapa waktu terakhir ini Mama, sering pulang malam dan berangkat keluar dari rumah lebih pagi dari biasanya. Pantas saja mereka tak mempermasalahkan jika aku mengadopsi Risma dan membawanya untuk tinggal bersama. Jeritan hatinya begitu meluap-luap.
Tega.
Mengapa mereka semua tega sekali denganku?, mengapa mereka berbuat baik di depanku, seolah tidak terjadi apa-apa?.
Tari begitu sakit hati, ia kembali memukul-mukul dadanya dengan cukup keras.
“Hiks hiks hiks, Bunda jangan seperti ini. Bunda jangan sedih, jangan nangis. Aku takut”. Kini tangan mungil Risma menanti sudut jilbab Tari berkali-kali, gadis kecil itu bingung bagaimana menenangkan Bundanya.
“Sayang, maafkan Bunda. Jawabnya lirih, satu tangannya terangkat memegang lembut pipi Risma.
“Kuat Ya Allah....kuat”. Dengan sekuat tenaga Tari berusaha untuk menghentikan tangisnya, menenangkan pikiran dan hatinya yang sedang bergejolak.
Ia kembali menjalankan mobilnya, kali ini dengan kecepatan sedang, Tari menyadari perbuatannya baru saja membuat Risma, ketakutan hingga wajah bocah kecil itu tampak pucat.
Tangannya meraih botol mineral yang ada di jok belakang, meneguk hingga habis isi dalam botol tersebut. Mencoba menghirup udara sebanyak yang ia bisa dan menghembuskan secara perlahan.
Sudut bibirnya sedikit tertarik membuat lengkung ke atas, dan menatap sang anak.
“Risma jangan takut ya, Risma harus janji sama Bunda”.
“Janji apa Bunda?”, wajah polosnya mendongak pelan menatap mata nanar sang Bunda.
“Risma harus janji, slalu ada bersama Bunda, Risma tidak boleh meninggalkan bunda ya?”. Pintanya dengan kembali menahan air mata yang hampir jatuh. Ia menatap ke langit-langit mobil, membendung aliran bening yang hampir saja luruh.
“Iya Risma janji, tapi Bunda jangan bersedih ya”. Satu tangannya terangkat dan menunjukan jari kelingkingnya pada Tari.
__ADS_1
Keduanya saling berpandangan dan tersenyum.
Kini mobilnya kembali melaju tak memiliki arah tujuan, layaknya hidupnya yang tiba-tiba kehilangan tumpuan.
“Bunda kita mau kemana? Ini bukan jalan pulang?”, suara itu kembali membuyarkan lamunan Tari, tak dapat di pungkiri rasa sesak begitu nyata, hingga membuatnya bingung mau kemana.
“Kita jalan-jalan dulu ya sayang”.
Mobil kembali berjalan menyusuri padatan lalu lintas Surabaya di pagi hari. Mata Tari terhenti saat melihat ke arah jendela.
Masjid Al-Akbar Surabaya.
Deg.
Hatinya kembali berdenyut, ia memutar jalur kembali menuju masjid terbesar di Surabaya.
Sesampainya di halaman masjid, ia langsung memarkirkan mobilnya, mengandeng tangan mungil Risma dan membawanya masuk ke dalam Masjid.
Tari meminta Risma untuk duduk sebentar, sementara ia melangkah mengambil air wudhu.
Keduanya kembali melangkah menuju bagian dalam masjid, hawa dingin penuh ketenangan mulai ia rasakan, kala kakinya menyentuh marmer masjid.
Ia mengambil mukena yang berada di sudut masjid, menggelar sajadah tepat di barisan paling depan. Ia bersimpuh menghadap Sang Pencipta. Tari melakukan sholat untuk menenangkan hatinya.
Allah Huakabar...Air matanya kembali menetes begitu saja. Bibirnya bergetar kala melafalkan ayat-ayat Allah. Mukena dan sajadah yang ia gunakan basah oleh tangisnya, seakan sebagai saksi bisu betapa pilu hatinya.
Ia bersujud cukup lama, menikmati rasa yang tak berjarak dengan sang pencipta. Menumpahkan segala rasa yang mendera. Hatinya terkoyak, jiwanya merapuh, ini pertama kalinya ia menangis dalam sholat atas sakit hati dan kecewa pada sesama hamba.
Tari kembali bangkit dari sujudnya, ia duduk bersimpuh di depan Sang Pencipta, matanya memandang nanar mimbar di depannya. Tangannya terangkat ke atas kembali berseru dan memanggil Penciptanya.
“Ya Allah, aku menghadapmu, aku kembali bersimpuh padamu, memohon kekuatan dan pertolonganmu. Ya Allah aku sedang terluka, oleh seseorang yang sangat aku cintai. Aku mencari Mu Ya Allah karena aku sangat hancur”.
Hiks...hiks...hiks.... tangisnya kembali menggema. Kepiluan begitu terasa dari getar suaranya.
__ADS_1