Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Pasar Malam


__ADS_3

Rama mulai berjalan menghampiri Tari dan Ibunya. Tangan kanannya mulai terulur hendak bersalaman mencium dengan sopan tangan Ibu. Bu Marni tersenyum menyapa. Tari pun demikian, ia mempersilahkan duduk Rama.


“Ayo nek aku mau ke sana, aku mau lihat topeng monyet”. Rengeknya untuk kesekian kali.


“Iya sabar sebentar lagi ya”.


“Tidak mau”.


Saat Risma, sedang merengek, penjual nasi pecel mengantarkan dua porsi makanan. “Nak Rama sudah makan?”.


“Belum Bu”. Jawabnya dengan santun.


“Makanlah dulu nak, Ibu mau menemani Risma melihat topeng monyet, kasian dari tadi merengek terus”. Minta ibu, dengan menggandeng Risma, dan membawanya pergi.


Kini dalam meja itu hanya ada Tari dan Rama, mendadak suasana menjadi kikuk bingung mau berbuat apa?. Sekilas mereka saling melempar senyum.


“Suka makan nasi pecel”. ucap Rama, yang mulai mencairkan suasana yang mendadak menjadi tegang setelah kepergian Risma dan Bu Murni.


Tari tak menjawab dengan kata-kata, ia hanya menganggukkan kepalanya saja.


“Silahkan Dokter”. tawarnya dengan menunjuk sepiring nasi pecel yang terhidang di depannya.


“Jangan panggil Dokter, bukankah kamu tidak sedang sakit. Cukup panggil mas saja”.


Diam...


Tari tak menangapi ucapan Rama, ia lebih fokus menikmati sepiring nasi pecel yang ada di depannya.


“Aku melihat sebuah kesedihan di raut wajahmu?”. Rama, berucap di sela-sela makannya.


“Patah hati? Di selingkuhi”. Tebak Rama. “Sudah jangan bersedih, terkadang memang hidup tak sesuai dengan keinginan kita. Hidup kadang gak memang gak melulu bahagia. Sedikit rasa getir juga di butuhkan agar tak terasa bosan dengan hidup. Biar lebih ada warna gak monoton”.


Tari hanya mendongak menatap sekilas, lalu melanjutkan makannya. Tak jarang beberapa kali suap nasi yang masuk dalam mulutnya, akan di ikuti dengan air yang ada di dalam gelasnya.


“Tak baik makan sambil minum, habiskan dulu makananmu barulah minum”. Ucapnya kembali, yang hanya di tanggapi Tari, dengan sekilas senyuman. Tari, bingung harus berbuat apa pada Dokter yang sok tau tentang kehidupannya.


“Nah itu baru bagus, makan yang banyak. Sepertinya tubuhmu kurang asupan gizi dan kasih sayang”. Ucapnya kembali dengan santai, dan memasukan satu rempeyek ke dalam mulutnya.


Astaga ini dokter kenapa sok tau sekali sih.


“Apa kamu masih bersedih? Jika bersedih, berjalanlah di ujung jalan depan desa ini. Kamu akan mendapati hamparan sawah yang sangat luas sekali. Pejamkan matamu, rentangkan kedua tangan dan rasakan hembusan angin yg menyapa tubuhmu”.

__ADS_1


Tari mengangkat kepalanya, ia merasa Dokter Rama terlalu dalam mencampuri urusan pribadinya.


“Ah Dokter, saya rasa saya sedang baik-baik saja. Saya tidak lagi bersedih atau pun terluka”.


“Hahaha begitukah? Bagus dong kalau begitu”.


.


.


.


Risma kembali datang menghampiri Tari.


“Bunda aku mau naik biang lala”. Rengeknya kembali, ketika melihat biang lala besar di tengah-tengah lapangan.


“Nenek tidak berani naik, ayo Bun kita naik. Nanti bisa lihat bintang dari atas sana”. Mintanya dengan menarik-narik baju Tari.


“Sayang itu tinggi sekali, nanti kalau macet di tengah-tengah gimana? Bunda takut ah”.


“Aku mau naik itu Bun, aku mau ambil bulan di sana untuk Bunda, biar Bunda tidak nangis lagi kalau malam”. Tuturnya mengiba.


“Kamu mau naik itu nak? Bagaimana kalau naik sama Om saja, nanti kita ambil bulan di atas sana lalu kasih ke Bunda”. Rama berjongkok di hadapan Risma. Entah mengapa ia merasa tertarik dengan gadis kecil itu. Ia merasa ada ikatan yang harus memenuhi keinginan gadis kecil itu, yang tak sanggup Bundanya berikan.


“Yeye ayo Om kita naik dulu”. Risma berjoget-joget senang.


“Minta izin dulu ya sayang sama Bunda”.


“Bunda, boleh ya”. Rengeknya kembali dengan memelas, matanya berkaca-kaca dengan tangan yang menangkup di dada.


“Sudahlah Tar, biarkan saja Risma naik sama Rama”. Sela ibu kembali.


“Ya sudah, Risma hati-hati ya, jangan buat Om Rama repot’.


“Siap Bunda”. Kini keduanya sedang bergandengan tangan, melangkah menuju tengah lapangan. Risma berjalan dengan loncat-loncat, sementara Rama menggandeng satu tangannya.


“Tar, lihat sepertinya Risma senang sekali bermain dengan Rama. Mungkin dia merindukan sosok hadirnya Ayah”.


Tari diam saja enggan menanggapi ucapan Ibunya. Mesti dalam hati rasanya kasihan pada Risma, ia telah membawa Risma dalam hal ini, seharusnya mengadopsi Risma untuk membuat gadis kecil itu mendapat kasih sayang yang utuh, tapi nyatanya Tari tak mampu memberikan itu semua.


***

__ADS_1


Rumah Sakit.


Sudah enam puluh menit lebih, Mawar berada di ruang operasi, namun baik perawat maupun dokter belum ada yang keluar untuk memberikan kepastian keadaan Mawar di dalam.


Randi dan Bu Srining, kembali mondar-mandir di depan pintu ruang operasi. Wajah mereka sangat tidak biasah-biasah saja, apa lagi Bu Srining raut wajah khawatir dan sedih begitu mendominasi dalam guratan wajahnya.


Pak Nario, memilih untuk melipir sejenak. Ia berjalan ke arah minimarket yang berada di depan Rumah Sakit, berniat membeli minuman dan cemilan untuk anak dan istrinya.


Sepuluh menit kemudian.


Ceklek... pint terbuka.


“Bagaimana kondisi menantu saya sus?”.


“Tindakan operasi belum selesai di lakukan Bu, pasien kehilangan banyak darah”. Tukasnya dengan kembali berjalan meninggalkan Bu Srining, hendak mengambil darah.


“Usia kandungan Mawar masih berjalan delapan bulan, bayi itu tidak seharusnya lahir saat ini. Kalaupun dia slamat, dia akan lahir menjadi bayi prematur. Apa kamu sebagai Bapak, sudah puas nak dengan segala perbuatanmu sendiri?”. Sindir Bu Srining, yang kini sedang duduk di sebelah Randi.


“Ma, tolong tidak seperti itu yang aku”. Suaranya melemah.


“Heh, bukankah itu yang kamu harapkan? Ingin menyingkirkan Mawar dalam hidupmu dan membawa istri mandulmu kembali!”.


“Randi...Randi... samapi titik darah penghabisan Mama. Mama akan tetap mempertahankan ia dan cucu Mama!”. Tukasnya dingin dan meninggalkan Randi, ia berjalan mengintip kembali di balik kaca kecil proses persalinan menantunya.


.


.


.


Satu jam kemudian, dokter keluar dari ruang operasi, Bu Srining lekas datang menghampiri.


“Dokter bagaimana keadaan menantu dan cucu saya?”.


“Untuk saat ini pasien belum sadarkan diri, masih dalam pengaruh obat bius. Setelah ini akan di pindahkan di ruang perawatan”.


“Lantas bagaimana dengan cucu saya?”. Wajah bu Srining panik ketika Dokter melepas kacamatanya dengan raut wajah yang sedih.


“Sebaiknya Ibu dan Bapak, banyak berdoa. Bayi yang dilahirkan Bu Mawar dalam kondisi belum siap di lahir. Paru-paru dan jantungnya belum bekerja maksimal, ia terlahir prematur. Berat badannya hanya 1.7 kg. Untuk sementara waktu bayi ada di ruang NICU. Kami akan memantau terus perkembangannya”.


“Apakah saya boleh melihatnya dokter? Saya ayahnya?”. Untuk pertama kalinya Randi, mengakui anak Mawar adalah anaknya.

__ADS_1


__ADS_2