Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Sama-sama Terluka


__ADS_3

“Bunda....”. Suara lirih gadis kecil yang bersimpuh di sebelahnya membuyarkan lamunan Tari, ia menatap wajah tak berdosa Risma, dan mengangkat wajahnya. Mata mereka mengunci untuk beberapa saat.


“Bunda, kenapa? Jangan sedih aku sayang Bunda”. Jemarinya kembali terulur membelai lembut wajah sayu Bundanya.


“Maafkan Bunda ya nak, semua akan baik-baik saja. Risma jangan takut, Bunda tidak papa, hanya saja Bunda sedang ada sedikit sesuatu yang harus di luruskan”.


Tari mencoba untuk mengangkat sudut bibirnya, memberikan senyum termanis yang ia punya. Kini dua wanita beda generasi saling berpelukan dalam diam, seolah kehadiran Risma dapat menjadi tumpuan kakinya yang rapuh untuk berpijak.


***


Sementara itu di rumah sakit, Mawar dan Bu Srining hanya bisa saling diam, tak ada yang berani untuk mencoba membuka bibirnya. Apalagi Randi yang tak kunjung kembali setelah kepergiannya mengejar Tari.


Satu jam berlalu, keduanya masih sama-sama diam, dengan tatapan yang tak dapat di jelaskan. Hingga beberapa detik kemudian Bu Sringing mulai membuka keheningan di antara mereka.


“Sekarang semua kebenaran sudah terungkap, seharusnya ini menjadi awal yang bagus untuk kehidupan kalian setelah ini”. Tukas Bu Srining dengan datar tanpa melihat wajah Mawar.


Mawar, masih diam tak memberikan sebuah jawaban.


“Bethari mungkin saat ini sedang marah dan kecewa pada Randi, tapi Randi juga berhak bahagia dengan kehadiran seorang anak dalam hidupnya. Aku percaya lambat laun Tari, juga pasti akan menerima semua ini. Toh keluarga Tari, juga tak jauh dari kata benalu, yang hanya bisa menggerogoti anakku”. Bu Srining masih memberikan argumen-argumen dari sudut pandangnya, yang menurut beliau dengan menikahkan Randi dan Mawar, akan membawa keberkahan dan kebahagian tersendiri untuk anaknya.


“Aku tidak tahu Ma, apakah Mas Randi masih menerima aku atau tidak menjadi istrinya, setelah semua rahasia yang ada terbongkar dengan begitu saja”. Kini bibir Mawar yang terasa kelu, tak kuasa untuk tak menjawab harapan-harapan mertuanya.


“Aku yakin dia akan menerima, dia begitu menyayangi anaknya”. Jawab Bu Srining penuh penekanan.

__ADS_1


Sementara itu, Randi masih mengendarai mobil untuk mencari istrinya. Matanya dengan sangat jeli memindai setiap sudut jalanan kota Surabaya. Pikirannya kacau, hatinya pun rapuh, rambut dan bajunya lusuh seolah bukan Randi yang biasanya orang kenal.


Hari semakin petang, langit mulai berperang menurunkan pasukan hujannya, mengguyur padatnya kota Surabaya. Seolah alam turut menangis melihat dua insan yang saling mencintai sedang terluka.


Randi mengendarai mobilnya ke sembarang arah, hanya sebatas mengandalkan filing yang ada. Berharap sang pencipta tak murka padanya, karena telah melukai salah satu bidadari ciptaannya.


Ia mulai mencari di toko roti milik Tari, berharap di sana akan menemukan istrinya, namun sayang hasilnya nihil. Tari tak ada di sana, bahkan semua penjaga toko mengatakan jika sejak tadi pagi Tari tak kunjung datang ke sini.


Ia keluar Toko dengan frustasi, kini Randi memilih untuk pulang sejenak dengan harapan istri dan anaknya sudah ada di rumah. Randi menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh membelah padatnya jalanan yang di hiasi dengan rintihan hujan. Sesampainya di rumah ia memarkirkan mobilnya dengan asal di halaman pekarangan rumah, kakinya lekas melenggang masuk dan mencari keberadaan Tari.


Randi berharap bisa menemukan dan memeluk Istrinya di dalam sana. Langkahnya semakin cepat kala berada di ambang pintu rumahnya.


“Apa Tari sudah pulang?”. Tanyanya pada sang Papa yang sedang berdiri di ambang pintu.


Pak Nario hanya menggelengkan kepalanya.


“Ya Allah di mana istriku?”.


“Jangan hukum aku dengan harus kehilangan dia, aku sangat mencintainya Ya Rab”. Tangisnya semakin menjadi, Randi benar-benar rapuh tak berdaya. Ia yang menyakiti tapi ia juga tersakiti dengan keadaan seperti ini.


Bu Srining tak kuasa melihat anaknya yang sedang terluka seperti itu. Ia mengambil payung dan berjalan memayungi anaknya. Randi diam saja tak menghiraukan sang Mama, ia hanya menatap sekilas Bu Srining, kemudian ia kembali pergi sebelum Bu Srining sempat memberikan payung untuknya.


Kini Randi menjalankan mobilnya kembali ke rumah sakit, bukan untuk menjenguk Mawar dan anaknya. Randi akan mencari Tari di kamar rawat anak Fitri. Dalam lubuk hati yang terdalam Randi sangat berharap menemukan sosok Tari di sana.

__ADS_1


Ia memberanikan diri untuk mengetuk salah satu ruangan itu, menyadari kedatangan saudaranya Fitri bergegas menemui Randi dan meminta suaminya untuk menjaga Arsya.


“Fit, apa kamu tahu di mana keberadaan Tari dan Risma saat ini?”. Suara parau dan sedih begitu lekat terdengar dari nada bicara Randi.


“Aku tidak tahu Mas Randi, yang aku tahu tadi pagi Tari keluar dari rumah sakit ini dengan menangis. Aku tidak pernah melihat sahabatku sesedih ini sebelumnya. Hatiku teramat sangat sedih melihatnya harus menangis seperti tadi”.


Randi kemabli menunduk,


“Padahal Mas Randi dan Tari baru menikah enam tahun yang lalu, baru enam tahun ada beberapa teman dan orang yang aku kenal, mereka sudah lebih dari sepuluh tahun tidak menikah tapi masih tetap setia dengan pasangannya”.


“Tari wanita baik-baik, ia tak pernah menyakiti hati orang. Tapi kenapa Mas Randi tega menyakitinya seperti ini?, Tari tidak pernah bahagia dalam hidupnya, ia selalu menjadi tulang punggung keluarga dan di manfaatkan oleh keluarganya, setelah menikah dengan Mas Randi kehidupannya mulai berubah dan menjadi lebih baik. Ia mulai bahagia, tapi kenapa Mas Randi dengan tega menghancurkan kebahagiannya?”.


“Sungguh Fit, ini bukan harapanku, ini bukan inginku. Aku tak pernah menginginkan dalam posisi seperti ini. Aku sangat terpaksa”. Lirih Randi dengan rapuh.


“Kamu nangis Mas?”. Tanya Fitri yang mulai menatap wajah Randi, sejak tadi ia acuh enggan menatap wajah Randi. Bukan hanya Tari, Fitri juga kecewa dengan keputusan yang di pilih saudaranya.


Randi tidak menjawab, ia pergi begitu saja meninggalkan Fitri dengan banyak pertanyaan yang hinggap di kepalanya.


Kini Randi kembali menjalankan mobilnya, ia duduk di kursi pengemudi dan terdiam untuk beberapa saat.


“Ya Allah aku harus mencari dimana lagi keberadaan istriku?”.


“Apakah ia sedang di rumah Ibunya?”, suatu tempat yang hinggap di kepala Randi.

__ADS_1


Randi kembali meraih ponsel yang ada di saku celana dan menghubungi kembali istrinya. Namun sayang hasilnya masih sama. Ponsel Tari tak kunjung aktif sejak pagi tadi.


Kini ia kembali menjalankan mobilnya, Randi akan menuju rumah Ibu Tari, besar harapan untuk menemukannya di sana. Segala kemungkinan buruk sudah ia siapkan termasuk jika nanti Ibu mertuanya akan marah dan murka padanya.


__ADS_2