
Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat. Kini aku lah seorang janda, sebuah fakta yang tak dapat di tampik kebenarannya. Aku janda terhormat yang mempertahankan harga diriku. Aku lebih memilih untuk menjadi janda jika di bandingkan dengan memilik madu.
Madu yang konon rasanya manis, tapi sungguh aku yakin di belahan dunia manapun tempat semua manusia berpijak, aku rasa tak ada orang yang bisa merasakan manisnya madu yang satu ini. Terkecuali orang-orang pilihan saja.
Konon menurut ibu mertuaku, madu ini bisa membawaku menuju jalan pintas menuju surgaNya yang kuasa, tapi aku rasa, aku tak akan sanggup melewati masa-masa ujian masuk surga dengan jalur itu. Aku lebih memilih untuk mundur dan mencari jalan lain menuju surgaNya.
Bukankah hidup hanya sekali, namun perjalanan dan ceritanya masih panjang, seolah tak berujung kecuali saat kematian menjemput. Layaknya kisah dalam novel. Hidup harus terus berjalan ber bab-bab untuk menghasilkan sebuah alur cerita yang menarik.
Aku belajar tentang kehidupan, ada beberapa yang berjalan mulus, ada kalanya sandungan datang menghalangi jalan. Aku rasa ini adalah sandungan terbesar dalam fase kehidupan yang telah aku lewati.
Ia menghembuskan nafas dalam dan kasar, seperti biasah Tari, memilih duduk di kursi usang yang terbuat dari anyaman bambu. Tubuhnya akan menyandar di pohon mangga. Pohon yang ia gunakan sebagai sandaran sekaligus tempat untuk berteduh. Berlindung dari balik sinar mentari yang terik kala siang dan dari rintikan hujan kecil yang datang saat gerimis mulai datang.
Bukankah hidup slalu penuh dengan warna, tak slalu cerah, namun juga tak slalu mendung. Terkadang ia begitu abu-abu di antara mendung mendung dan cerah.
Tak ada yang abadi dalam hidup. Terkadang ada bawang secukupnya yang membuat perih, terkadang ada sedikit kopi untuk menambah rasa pahit, namun terkadang ada gula yang membuat kehidupan menjadi berdesir lebih indah dari biasanya.
Bukankah hidup tak slalu seperti kisah di negri dongeng, di mana di akhir cerita pemeran utama akan bersanding dengan pujaan hatinya, setalah melewati halangan, rintangan yang menghadang.
Tari menutup matanya, membiarkan jilbabnya berkibar di terpa hembusan angin, yang melalui tubuhnya.
Desas-desus akan statusnya yang janda mulai berhembus di tengah warga, kala mereka tak pernah mendapati kehadiran sosok laki-laki di rumah itu. Hanya saja mereka tak mengerti apakah Tari janda cerai, ataukah janda di tinggal mati.
Ia lebih memilih untuk bungkam tentang kehidupan masa lalunya. Ia membisu benar-benar tak ingin membagi dengan orang lain tentang kisah pahitnya. Cukup pada Allah dan gelaran sajadah sebagai saksinya betapa pilu kisah yang ia lalui.
Tari membiarkan semua orang berasumsi tentang statusnya, tanpa ingin menjelaskan dan melakukan pembelaan. Ia hanya menginginkan ketengan dalam hidupnya.
.
__ADS_1
.
.
Setelah sidang keputusan selesai, Randi dan Tari resmi bercerai. Jika kini Tari merasakan menjadi seorang janda, namun tidak dengan Randi, ia tidak merasakan status sebagai duda. Sebab ia masih beristrikan Mawar.
Randi masih belum putus asa akan takdir yang Allah gariskan padanya. Pagi itu, ia memilih untuk pergi ke desa tempat tinggal ibu Tari. Ia berharap akan menemukan setitik harapan di sana.
Bukankah beberapa waktu yang lalu, bude juga sempat memberikan kabar padanya akan keberadaan Tari, dan mengirimkan sejumlah uang untuknya. Ia berharap akan mendapat informasi keberadaan Tari.
Randi menghubungi nomor bude sebelum mobilnya sampai di tanah kelahiran mantan istrinya. Beberapa kali ia mencoba untuk melakukan panggilan, namun sayangnya nomor tersebut sudah tidak aktif lagi.
Merasa kesal karena tak kunjung mendapat jawaban dari panggilannya, Randi semakin mempercepat laju kendaraannya. Roda mobil dan panasnya aspal saling beradu dengan kecepatan penuh. Ada harapan yang membuncah untuk bisa bertemu mantan istrinya di sana.
Dua jam perjalanan, mobil Randi telah tina di depan pekarangan ruma mantan mertuanya. Kondisi rumah sepi seperti sudah tak berpenghuni lama. Daun-daun berserakan jatuh di halaman rumah. Lampu teras masih menyala kala itu masih siang hari. Debu-debu mulai menyelimuti dinding dan lantai keramik teras tersebut. Beberapa tanaman hias dalam pot yang biasanya menunjukan keindahannya kini layu, bahkan beberapa di antaranya sudah mati.
Randi mengintip jendela rumah itu, ia berputar dari depan menuju kebelakang. Semuanya tertutup tanpa celah. Ia tak bisa melihat kondisi di dalam sana. Kini kakinya melesat ke samping rumah.
Ia mengambil meja tersebut, mencoba untuk naik dengan penuh hati-hati, berharap menemukan sebuah kehidupan di dalam sana. Mata Randi fokus memindai, seisi ruangan yang dapat terjangkau dari balik ventilasi tersebut.
Kosong.
Kini matanya mencoba mengarah pada kamar Tari, kamar itu masih tertutup rapat, begitu juga jendela pada sisi kanan bangunan. Semua tertutup, guratan rasa kecewa singgah di hatinya.
“Dimana kamu berada sayang?”. Rintihnya dalam hati, ia terduduk di samping pekarangan dengan tubuh yang bersandar pada tembok berlumut. Bajunya yang muti mencetak jelas gambar lumut di sana. Ia termenung, tertunduk untuk beberapa waktu, sekilas memejamkan matanya. Mengingat segelintir kenangan yang ada di rumah ini.
Saat ia meminang Tari, saat ia menghalalkan Tari dan saat pertengkaran itu.
__ADS_1
Randi meremas rambutnya frustasi.
“Mas Randi ya? Sedang apa di situ?”. sapa salah satu tetangga yang kebetulan lewat samping rumah Tari.
“Bu, Bu Minah bukan?”, sapanya dengan senyum pada seseorang yang dulu menjadi perias akad nikahnya dengan Tari.
“Iya Mas, Mas Randi ngapain di situ?”. Kening Bu Minah mengkerut kala melihat baju Randi yang penuh dengan lumut di bagian sisi punggungnya.
“Bu, apakah ibu lihat istri saya beberapa waktu lalu di sini?”, tanyanya dengan antusias.
“Lh bukannya mbak Tari, tinggal di Surabaya ya Mas, kalau Bu Marni sudah lebih dari dua bulan ini tidak pulang. Katanya tinggal di rumah Tari, saya pikir ya di rumah Mas Randi juga”. Jawabnya yang membuat Randi, harus menelan ludahnya dengan kasar.
“Apa beberapa waktu yang lalu Ibu Mina melihat istri saya, mertua tau Ipul pulang ke ruma ini?”.
Bu Minah tak menjawab, ia menggelengkan kepalanya saja.
Randi kembali menunduk untuk beberapa saat. “Kalau Bude Murni di mana ya Bu?, sepertinya rumahnya juga sepi?”. Tanyanya kemudian kala, beberapa saat yang lalu mendatangi rumah Bude dan mendapat keadaan yang sepi di sana.
“Bu Murni...”. ia menjeda ucapannya sejenak kala mendapat pertanyaan tersebut.
“Bu Murni...
.
.
.
__ADS_1
.
Kak like, komen, subscribe dan kasih hadiah ya, sungguh semua itu membuat jemari semakin lincah 😊✌️