Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Jadi Kapan?


__ADS_3

“Ah iya sayang maaf. Ada apa?”


“Kenapa kalian berdua senyum-senyum seperti itu?”


Wajah Risma menatap Ayah dan Bundanya secara bergantian dengan heran. Ia bahkan


meraba-raba wajah orang dewasa yang ada di depannya.


“Astaga, aku hampir lupa jika ada Risma di antara kita” desis Rama dengan resah.


“Ayah dan Bunda lagi bahagia nak. Risma mau apa? Sudah mainnya sama nenek” terang


Tari, yang berharap anaknya tak bertanya hal lebih tentang mereka berdua.


“Aku ingin berenang Bun. Aku mau berenang sama kalian berdua. Boleh ya, boleh?”


Wajah Risma penuh harap. Tangan mungilnya menangkup di dada dengan mata yang mengiba.


“Sama Ayah saja ya? Bunda tidak baa baju ganti”


“Tapi aku maunya sama kalian berdua”


“Ayolah Tar, sesekali kita berenang bersama sekalian merayakan hari jadi kita hari ini?”


“Hari jadi itu apa Bun? Kenapa kalian banyak sekali berbicara yang aku tidak mengerti?” lagi-lagi gadis kecil itu menatap dua orang dewasa di sebelahnya. Selayaknya satpol PP yang sedang mengintrogasi tangkapannya.


“Hari jadi itu hari bahagia sayang”


“Kalau gitu ayo kita berenang. Lihat aku sudah pakai baju renang. Nenek sudah belikan


sebelum aku ke sini”


Benar saja, Bu Rahma memang membelikan segala pernak-pernik kebutuhan Risma. Bahkan jauh sebelum bertemu cucunya. Ketika kabar tentang anak Rama telah di temukan, ia


lekas mempersiapkan semuanya. Mulai dari kamar, baju-baju, mukena, hijab dan beberapa mainan lainnya. Begitu melihat foto Risma Bu Rahma sudah dapat memprediksi kebutuhan cucunya.


“Tapi sayang, Bunda tidak baa baju. Nanti bagaimana kalau pulang”


“Kamu bisa memakai baju Mama dulu sementara, nanti aku belikan”


“Tuh kan, denger kata Ayah. Sekarang ayo kita berenang bersama”


Tanpa pikir panjang dan banyak drama. Risma lekas menarik paksa tangan Bundanya. Membawa wanita itu untuk masuk ke dalam kolam. Ketiganya larut dalam suka cita main


bersama. Hingga suara tawa mereka dapat menguar mengisi kekosongan rumah yang


telah lama sunyi tanpa canda tawa.


“Ayah aku takut” teriak Risma ketika Rama mengajarkan cara berenang yang benar.


“Ayo kamu pasti bisa sayang. Ayah akan memegang kakimu di bagian belakang”


“Ayo Risma, semangat kamu pasti bisa. Bunda menunggu di sini” Tari berada di


depanmu.


Adegan mahal nan indah, yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Rama sedang


memegangi Risma untuk berenang dan Tari berada di bagian sisi depan untuk meraih


tangan anaknya.


Di balik jendela besar, yang memisahkan antara kolam renang dan ruang keluarga. Bu

__ADS_1


Rahma berikut suaminya sedang tersenyum damai. Mereka begitu terharu dengan


pemandangan yang ada. Mereka masih tak menyangka dengan apa yang di lihatnya.


“Aku harap mereka berjodoh” Satu do’a ibu yang tulus untuk putranya.


“Aku telah lama tak melihat Rama, tersenyum dengan begitu riangnya. Aku rasa dia


telah menemukan kembali semangat untuk hidup setelah ini”


“Semoga saja, aku pun berharap demikian untuk mereka”


Keduanya saling tersenyum lega, dan memilih untuk mengabadikan moment di depan mata


melalui jarak aman. Bu Rahma membidik beberapa foto kebersamaan mereka saat


itu.


“Aku mau menyiapkan makan siang untuk mereka. Pasti mereka akan lapor setelah


berenang”.


.


.


.


“Bunda pegangin tanganku. Aku takut, aku takut” teriak Risma di sela-sela aktivitas belajar berenangnya.


“Takut kenapa?”


“Aku takut tenggelam”


“Kamu tidak akan tenggelam princes. Ada dua tangan yang akan mengantarkan mu hingga


Tari tersenyum mendengar ucapan Rama.


Benar, sungguh aku tak meragu lagi. Aku harus mencoba untuk bangkit dan mulai membuka


lembaran baru. Bukankah hadirnya Risma sudah membuatku menjadi wanita yang sempurna. Sungguh aku sudah menjadi Ibu, untuk dia.


Tari terdiam untuk sesaat di tepian kolam. Ia mulai memeluk dirinya sendiri yang sudah mulai kedinginan. Hatinya sibuk berbicara menyakinkan sebuah keputusan besar yang telah di pilih.


“Udah yuk, sudah dari tadi berenangnya. Nanti masuk angin” pinta Tari pada Rama dan Risma yang masih asyik bermain air.


“Masuk angin? Angin masuknya lewat mana Bun?” entahlah dari siapa Risma mewarisi gen


di otaknya. Anak itu kerap kali melayangkan pertanyaan yang di luar prediksi.


“Masuk angin sayang. Nanti kamu kedinginan terus sakit flu bagaimana? Yuk ah, udahan


kita berenangnya. Kapan-kapan lagi”


“Kapan-kapan lagi? Berarti aku boleh ke sini lagi dong Bun?” tanya Risma kembali.


“Princes Ayah yang cantik jelita. Kamu boleh kapan saja untuk main ke sini. Kamu juga


boleh untuk tinggal di sini”


“Tingga di sini? Apakah boleh Bun?”


Tari menganggukkan kepalanya dengan pelan.

__ADS_1


“Kata nenek Ayah dan Bunda tidak boleh tinggal bersama sebelum menikah. Apa kalian akan menikah?”


Risma, gadis yang cerdik, ia dapat dengan mudah merekam semua yang di dengar dan di lihatnya. Begitu juga dengan pembicaraan beberapa waktu yang lalu bersama Bu Marni.


“Tentu saja, Ayah dan Bunda akan menikah dan kita akan tinggal bersama selamanya” Rama


menjawab dengan begitu bangganya. Sementara Tari, wanita itu hanya tersenyum malu.


Dengan negoisasi yang lumayan alot, akhirnya Risma mau untuk mengakhiri acara berenangnya. Tari membantu membersihkan dan mengganti baju anaknya.


“Sini biar aku keringkan rambutnya. Kamu bisa ganti baju dulu. Mama sudah menyiapkan


baju ganti untukmu” terang Rama mempersilahkan Tari untuk berganti baju, ia melihat wanitanya sudah menggigil kedinginan.


Tak banyak bicara, Tari lekas menuruti instruksi yang di berikan Rama. Ia mulai mengikuti Bu Rahma yang menyusulnya di tepian kolam.


“Pakailah baju ini. Ibu rasa baju ini cocok untukmu” Ia menyerahkan satu gamis warna pink


ke tangan Tari. Gamis itu masih berlabel dan terkesan seperti untuk kaum muda.


“Maaf Bu, tapi ini terlalu bagus” Tari kembali mengembalikan baju itu, ketika menyadari


jika baju tersebut masih berlabel. Ia merasa tak enak dengan itu.


“Pakailah, ini Ibu beli khusus untuk calon menantu Ibu. Dulu ibu membelikan baju ini


ketika umroh. Ibu berdoa semoga Rama kembali bisa mendapatkan jodoh yang membersamainya hingga tua nanti”


Deg...


Hati Tari menghangat mendengar ucapan Bu Rahma. Sementara Bu Rahma, tersenyum dan


meningalkan Tari untuk berganti baju.


Lima belas menit berlalu. Seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan


untuk makan siang bersama. Siang itu Bu Rahma yang di bantu asisten rumah tangannya sengaja memasak dalam jumlah besar. Ia melakukan itu semua untuk menyambut tamu agungnya hari ini. Ada sayur asem dengan ikan bandeng nila


goreng. Rawon lengkap dengan daging empalnya. Soto ayam berikut telur dan lainnya. Beliau juga membuat bakso dan gado-gado saat itu.


“Bunda kemana Yah? Kok lama?”


“Bunda masih ganti baju” terang Rama sekilas.


Risma sudah duduk di meja makan. Matanya sibuk mengamati makanan yang tersaji di depannya. Pandangannya tertuju pada aneka kue berbentuk karakter yang sengaja Bu Rahma pesan untuk cucunya. Aneka es berikut dengan buahnya juga tersaji di atas meja makan sebagai pelengkap kebahagian mereka siang itu.


“Itu Bunda” ucap Bu Rahma menyambut kedatangan Tarim untuk turut bergabung bersama.


Lagi-lagi mata Rama tak berkedip melihat pemandangan di depannya. Ia terpesona dengan apa yang di pakai Tari.


“Wah ternyata bajunya pas ya. Kamu terlihat sangat cantik” puji Bu Rahma.


“Iya cantik sekali bahkan” jawab Rama tanpa sadar . sontak ucapan Rama mengundang


gelak tawa yang lainnya.


Acara makan siang di mulai dengan penuh kehangatan. Semua begitu menikmati moment


tersebut dengan suka cita. Tari begitu telaten melayani Risma yang duduk di sebelahnya. Berbagai canda tawa ringan mengiringi acara makan siang mereka saat itu.


“Oh ya, kapan kira-kira Ibu beserta keluarga boleh ke rumahmu? Kami ingin bersilaturahmi


kalau berkenan juga sekalian untuk melamar?”

__ADS_1


Uhuk....


Tari tersedak mendengar ucapan Bu Rahma.


__ADS_2