
“Mas, permisi bisa minta tolong fotoin kami?” ucap Rama pada seseorang yang sedang
duduk di sudut kursi yang ada di depan taman. Ia sedang menemani seorang wanita
paruh baya, yang duduk di atas kursi roda.
“Permisi Pak, ini ada beberapa obat yang tidak ada di rumah sakit ini. Silahkan Bapak
mencari di apotik yang ada di bagian ujung jalan sana” terang seorang perawat
yang datang menghampiri Randi.
Benar saja, pria itu adalah Randi, dia sedang duduk membelakangi Rama dan juga Tari.
Ia sedang mengajak Bu Srining keluar dari kamarnya untuk menikmati hawa dingin
di pagi hari. Belum sempat Randi, menoleh saat namanya di panggil seorang lelaki, ia sudah beranjak menuju perawat yang baru saja datang.
“Mama di sini sebentar ya, biar aku panggil Papa untuk nemenin Mama. Aku mau ke apotik dulu ambil obat” pamit Randi, ia meningalkan Bu Srining seorang diri di depan taman tersebut, dan beranjak melangkah memanggil Papanya yang sedang membersihkan diri di ruang rawat Bu Srining.
“Yah, orangnya malah kabur” ucap Rama dengan resah ketika seseorang yang hendak di minta tolong tidak menghiraukan tetapi malah pergi meningalkan.
“Kita coba lagi saja foto bertiganya. Sini biar Bunda yang mengatur tata letak ponselnya” Tangan Tari terulur, meminta izin pada Rama, untuk meminjam ponselnya.
Rama membalas dengan senyuman, ia menyerahkan ponsel tersebut pada Tari.
“Kita siap-siap dulu ya” Tari mulai meletakan ponsel tersebut tepat di hadapan mereka. Ia memberi alas tas yang di pakainya, sebagai ganjalan agar ponsel dapat berdiri dan mampu menangkap gambar mereka secara menyeluruh. Ia memasang timer dalam kurun waktu yang lama. Tak lupa ia juga mensetting bidikan dalam jumlah banyak, sehingga ia tidak perlu repot-repot berlari untuk mengambil ponselnya.
Satu
Dua
Tiga
Cis...Cis...Cis...
berbagai gaya di lakukan oleh ketiganya. Mereka bergaya sesuai permintaan Risma, dari mulai tersenyum, bersedih, manyun hingga gaya alai. Semuanya ada dalam bingkai galeri di ponsel Rama.
“Risma udah yuk, Bunda capek senyum terus dari tadi” Tari memijit-mijit pipinya yang sudah merasa kaku. Tak terhitung berapa kali mereka mengambil gambar pagi itu.
“Lagi, aku mau lagi. Dikit lagi Bun. Kita belum coba gaya yang seperti ini” tangan Risma terulur untuk memberikan contoh gaya yang di inginkan. Gaya tersebut menyatukan dua tangan antara Tari dan Rama yang membentuk love, sementara wajah Risma berada di bagian tengah-tengahnya.
“Hah, gaya apa itu?” tanya Tari memandang aneh. Putri satu-satunya ini benar-benar membuat dia dan Rama mati gaya di tempat.
“Ayolah Bun, Ayah mau kan?”
“Mau dong, buat Risma apa sih yang tidak” Rama tersenyum, dan mengelus lembut rambut Risma. Jawaban Rama seakan membawa angin segar bagi Risma.
__ADS_1
“Ok kita mulai lagi”
Cekrek
Cekrek
Ketiganya sedang asyik menikmati suasana pagi itu. Saling bercanda dan juga tertawa. Tak jarang dalam beberapa kesempatan Rama, juga memberikan sedikit pujian-pujian dan motivasi pada Tari. Ia tak ingin bertindak yang berlebih, walau dala hatinya begitu menginginkan. Ia tak ingin membuat Tari, merasa risih akan kehadirannya.
“Bunda, Ayah, taukah kalian? Jika rasanya sakit seperti ini. Aku lebih memilih untuk sakit” celoteh Risma di sela-sela canda tawa mereka.
“Kok Risma ngomongnya gitu sih nak?” Tari menatap sendu sang anak.
“Aku senang kalau sakit. Aku seneng karena saat aku sakit seperti ini, aku punya keluarga yang lengkap. Aku punya Ayah dan Bunda yang slalu sayang sama aku” jawabnya dengan tersenyum.
“Princess” panggilan baru yang di sematkan Rama untuk Risma.
“Kamu tidak perlu sakit. Ayah dan Bunda akan slalu menyayangimu, Bukankah begitu Bundanya Risma”
Tari mengangukan kepalanya atas respon dari apa yang di katakan Rama.
“Kalau kalian slalu menyayangiku, kenapa Ayah dan bunda tidak tinggal bersama saja?
Bukankah kita bisa menjadi keluarga yang sesungguhnya” ucapnya dengan polos.
Ia memandang wajah Rama dan Tari secara bergantian.
Deg...
prediksi BMKG.
Diam.
Tak ada yang berani menjawab pertanyaan Risma, keduanya memilih untuk diam tak ingin mengeluarkan sebuah kata atau kalimat yang nantinya dapat membuat salah satu ada yang merasa tersinggung atau tidak enak. Mereka memilih untuk membuang pandangan pada sembarang arah.
“Ayah. Bunda, jangan diam saja” lagi-lagi Risma, gadis menuju delapan tahun itu menuntut sebuah jawaban.
Huft..
Tari menghembuskan nafasnya dengan panjang, hal yang sama juga di lakukan oleh Rama. Keduanya kemudian saling berpandangan untuk sesaat, seakan sedang berdiskusi untuk merangkai jawaban atas pertanyaan yang di berikan Risma.
Tanpa mereka sadari, di bagian sebrang taman ada seseorang yang diam-diam mengamati
setiap apa yang mereka lakukan. Wanita itu menatap dari jarak jauh. Keningnya saling berkerut dan wajah yang mencondongkan ke dapan. Ia sedang memastikan apa yang di lihatnya.
Tari?
Apa benar itu Tari?
__ADS_1
Dan gadis kecil itu, dia Risma?
Bu Srining duduk dalam diam. Pandangannya matanya tak bisa lepas dari objek yang ada
di depan mata. Ia benar-benar melihat dengan seksama, memastikan jika apa yang di lihatnya tidaklah salah. Terlebih gaya berpakaian maupun gestur tubuhnya begitu sama dengan mantan menantunya.
Iya itu Tari. Tapi siapa laki-laki yang ada di sampingnya. Kenapa mereka ada di sini?
Bu Srining mengamati dalam diam. Ia ingin berteriak untuk memanggil Tari, ia ingin berlari berhamburan ke sana. Ia ingin meminta maaf atas segala apa yang telah terjadi di masa lalu. Namun sayang kemampuannya untuk melakukan itu semua tidak ada. Ia tidak mampu berucap walau hanya sekedar memanggil nama manatan
menantunya.
Lidahnya sangat kelu. Begitu juga dengan bagian tubuh yang lainnya. Ia tidak berfungsi
sebagaimana mestinya seperti dahulu.
“Uhuhhh huhuh” teriaknya sekuat tenaga.
“Ri..ri..ri..” tangannya mencoba untuk melambai memanggil si pemilik nama. Namun sayang
suaranya kalah dengan kebisingan dan keriuhan aktivitas rumah sakit saat pagi. Maklum pagi di rumah sakit begitu sibuk. Mulai dari beberapa petugas yang membersihkan kamar, mengganti seprei berikut sarung bantal juga ada beberapa yang bertugas untuk mengantarkan makanan.
Tak berselang lama, Pak Nario berlari kecil untuk datang pada istrinya, ketika ia mendengar suara sang istri. Ia duduk berjongkok di sebelah kursi roda.
“Ada apa?” tanyanya dengan sabar.
Tangan Bu Srining terulur untuk menunjukan ke arah apa yang di lihatnya tadi. Ia juga mencoba untuk berbicara sebisa yang dia mampu.
“Ada apa Ma? Kamu melihat apa?”
“Ri ri ri.....” jawabnya dengan terbata.
“Apa Ma?” Pak Nario turut melihat arah yang di tunjukan istrinya.
“Ri ri ri...” ucapnya kembali.
“Tari?” Pak Nario mulai menangkap apa yang di katakan istrinya. Bu srining memang kerap
kali memanggil nama mantan menantunya tersebut. Mungkin rasa bersalah yang ada
pada dirinya, membuat wanita itu mengingat satu nama.
“Sudahlah Ma, jangan seperti ini terus. Tari tidak ada di sini”
“Ri ri ri” Ia masih saja menggaungkan satu nama yang sama.
“Ma, sudah ya. Jangan seperti ini terus. Kamu fokus untuk penyembuhan kamu saja. Biarlah Tari juga hidup bahagia dengan kehidupannya yang sekarang”
__ADS_1
Pak Nario memilih untuk mendorong kursi roda Bu Srining, memutar arah menuju tempat
rawatnya. Sementara Bu Srining, matanya berair, entah mengapa perasaannya menjadi sangat sedih saat itu.