Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Anisa Fatin Fauziah


__ADS_3

“Silahkan Pak, bayinya ada di ruang NICU sebelah sana”. Tunjuk Dokter, mengarahkan tangannya menuju ruang perawatan bayi.


Randi dengan segenap tenaganya lekas berlari menuju ruang NICU yang telah di tunjuk Dokter. Ia mulai mengganti bajunya, dengan baju khusus yang telah di siapkan rumah sakit sebelum masuk ke dalam ruangan. Mendadak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Perlahan tangannya membuka handle pintu, meminta izin pada penjaga ruangan untuk masuk ke dalam.


Randi tak bisa membendung air matanya, entah itu air mata bahagia dan juga kesedihan. Semua melebur menjadi satu. Ada rasa penyesalan akan takdir, ada pula rasa bersalah pada bayi tak berdosa di depannya. Ia menatap lekat wajah putri kecilnya.


“Terimakasih kamu sudah lahir di dunia ini, menjadikan aku seorang ayah. Laki-laki yang sempurna. Maafkan ayah, atas segala kesalahan yang pernah ku perbuat padamu. Bertahanlah untuk tetap hidup. Ada pengorbanan besar yang sudah aku lakukan demi kelahiranmu”. Ia tertunduk, air matanya mengalir begitu saja. Melihat sosok bayi kecil yang sedang tak berdaya di dalam boks, dengan berbagai macam alat bantu yang melekat pada tubuhnya.


Tangannya terulur membelai lembut pucuk kepala sang bayi, kemudian melafalkan azan di sisi telinganya. “Terimakasih, kamu sudah lahir”. Ucapnya kembali.


Bayi itu masih terdiam, memejamkan matanya dengan cukup erat, tak ada pergerakan di sana. Hanya helaan nafas dari dadanya yang naik turun. Seakan tidak merespon kehadiran Randi.


“Kamu cantik sekali nak. Aku akan memberimu nama Anisa Fatin Fauziah”. Ucap Randi kembali


“Assalamualaikum Fatin”. Sapanya kembali, lagi-lagi tak ada respon dari sang bayi.


“Semoga di manapun kamu berpijak, Allah akan slalu melimpahkan kasih sayangnya padamu. Menjadikanmu wanita yang mulia di cintai banyak orang”.


Kini tibalah giliran Bu Srining, yang datang menemui cucu pertamanya. Tak bisa dipungkiri ada rasa sedih yang bercampur haru, ketika melihat mahkluk kecil yang berwarna merah tersebut.


Ia bersedih melihat kondisi sang bayi yang sangat lemah. Bahkan kemunginan untuk hidup tidak lebih dari lima puluh persen. Mengingat bayi itu lahir belum pada waktunya. Meskipun kelahirannya sangat di tunggu-tunggu. Ia juga bahagia, akhirnya semua harapannya telah terwujud. Ia sudah menjadi seorang nenek yang sesungguhnya. Cucu dari garis keturunannya sendiri.


“Assalamualaikum Fatin”. Sapanya pada bayi merah yang hanya diam dan menutup mata.


“Apa kamu lapar nak? Ini nenek nak. Nenek sangat sayang sama kamu, kamu baik-baik ya nak. Cepatlah membaik dan ayo kita pulang. Nenek akan menyiapkan kamar dan membeli banyak mainan untukmu. Bertahanlah untuk tetap hidup, menemani sisa-sisa usia nenek”. Ia tersenyum melihat bayi kecil itu, beberapa detik kemudian ia menangis. Jemari tangannya terulur menyeka air mata yang jatuh di pipinya.


Sementara Bu Srining masih di kamar bayi, Randi pergi melihat kondisi Mawar, yang sudah di pindahkan di ruang rawat. Tubuhnya masih lemah, bahkan untuk bangkit duduk saja ia belum bisa. Hanya saja saat ini Mawar sudah sadarkan diri dari pengaruh obat bius pasca operasi.


“Mas...”. Dengan suaranya yang lemah, ia memanggil Randi yang masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


“Bagaimana kondisimu?”. Tanyanya dengan menggeser satu kursi yang ada di sebelah ranjang pasien.


“Aku jauh lebih baik, bagaimana keadaan anak kita?”. Entah mengapa ketika mendengar nama anak kita, rasanya ada sesuatu yang tak bisa di jelaskan. Antara bahagia dan juga sedih. Sungguh jauh dari lubuk yang terdalam Randi sangat sedih. Bukan Mawar, wanita yang ia inginkan menjadi seorang Ibu dari anaknya. Andai saja bisa meminta, ia ingin hidup bersama anaknya saat ini, namun dengan beribu Tari.


Egois?


Pasti, tapi begitulah sifat manusia.


“Dia ada di NICU, untuk saat ini kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya. Apa kamu lapar?”.


Tak ingin menyianyiakan tawaran Randi, Mawar menganggukkan kepalanya. Kini Randi, sedang menyuapi Mawar. Bu Srining, yang hendak masuk ke dalam kamar tersebut mengurungkan niatnya. Ia memilih untuk duduk di depan, sengaja ingin memberikan ruang untuk anak dan menantunya.


*****


“Bunda, kapan ayah pulang?. Kenapa sekarang Ayah tidak pernah datang menjenguk Risma?”. Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Risma, saat ia bersiap untuk tidur.


Tari terdiam beberapa saat, ia sedang berusaha untuk merangkai kata, menjelaskan pada sang anak.


“Ayah kan sedang sibuk nak, ayah bekerja di kota”. Jawabnya dengan menarik selimut dan menggenakan pada Risma.


“Tapi....tapi, kata teman-teman aku tak punya Ayah. Kata ibu-ibu yang ada di sana tadi bilang, Bunda dan Ayah sudah bercarai. Bunda bercerai itu apa?”. Wajah polosnya mendongak, menatap ke atas memandang wajah sang Bunda, berharap akan menjelaskan keadaan yang saat ini terjadi.


“Bercerai itu Ayah dan Bunda tidak tinggal satu rumah sayang”. Begitulah ia menjelaskan.


“Tapi kenapa Bun?”.


“Nanti kalau Risma, sudah dewasa Bunda janji akan menjelaskan semuanya. Sekarang kamu tidur dulu ya sayang. Bunda akan bacakan cerita untukmu”.


“Kalau tidak ada ayah Randi di sini, apa boleh aku menganggap om Rama ayah Risma?”.

__ADS_1


“Jangan dong sayang, itu kan Om Dokter”.


Raut wajah Risma mengkerut, ia bersedih. Baru saja bisa merasakan kasih sayang yang sempurna dari sebuah keluarga, sekarang harus kehilangan kembali kasih sayang tersebut.


****


Kembali ke Surabaya.


Satu minggu sudah sejak kelahiran Fatin. Mawar sudah di persilahkan untuk pulang, tapi tidak dengan bayinya. Bayi itu masih tertinggal di rumah sakit. Kondisinya masih belum membaik. Bahkan beberapa waktu yang lalu ia sempat mengalami kritis kembali. Berkali-kali bayi kecil itu mengeluarkan cairan dari mulutnya.


Randi, Mawar dan Bu Srining berikut Pak Nario saling bergantian menjenguk cucu mereka. Bahkan sudah di buatkan jadwal khusus oleh Bu Srining waktu bergiliran menjenguknya.


Hari-hari yang di lakukan Bu Srining, adalah mempersiapkan kepulangan Fatin. Ia begitu bersemangat untuk membeli berbagai macam kebutuhan cucunya. Membeli baju, popok, bedong berikut aksesoris yang di butuhkan untuk bayi.


Tak tanggung-tanggung Bu Srining, hampir memborong seluruh isi toko demi untuk cucunya. Bu Srining, juga menyiapkan kamar khusus untuk bayi di lantai satu dekat dengan kamar Mawar, namun sayangnya Mawar, tidak mau.


Mawar memiliki permintaan khusus untuk kamar bayi Fatin, ia meminta Fatin, menempati kamar Risma saja, selain tidak perlu mendekor ulang, jika menempati kamar Risma maka akan bersebelahan dengan kamar Randi.


Mawar juga meminta untuk mengadakan pesta syukuran kepulangan Fatin nanti. Tentu saja permintaan itu di sambut hangat oleh Bu Srining, ia ingin menunjukan pada semua orang jika akhirnya ia dapat menimang cucu.


Randi memilih untuk acuh, ia tak tahu harus berbuat apa. Melarang sang Mama?, rasanya ia sudah tak bertenaga. Memperjuangkan Tari kembali?


.


.


.


.

__ADS_1


Please biarkan Mawar bahagia untuk beberapa waktu ini pemirsah.


__ADS_2