
Hari masih gelap, sayup-sayup lantunan suara sholawat mulai terdengar sebagai pembuka sebelum subuh datang. Tari, sudah terbiasa bangun lebih pagi dari yang lainnya. Seperti pagi ini, ia sudah terbangun bahkan sebelum azan subuh berkumandang.
Tari menerjapkan matanya dengan pelan, mencoba untuk membuka mata dan mengumpulkan seluruh nyawanya kembali. Pandangan matanya tertuju pada laki-laki yang ada di sampingnya. Wajah teduh Rama, yang sedang terpejam dengan damai.
Ia tersenyum menatap pria yang kini bergelar sebagai suaminya. Ada perasaan hangat
di sana dan tak rela untuk membangunkannya. Kendati demikian Tari tetap akan membangunkan suaminya setelah puas memandang wajah Rama.
Beruntungnya aku bisa menjadi bagian dalam hidupmu. Semoga cinta kita abadi sampai maut
memisahkan kita berdua.
Tari terdiam untuk beberapa saat. Matanya sama sekali tak berkedip menatap lekat wajah tampan yang ada di sampingnya dengan tersenyum. Tari memberanikan diri untuk menyentuh wajah suaminya dengan pelan. Ia memegang pipi dan hidung mancung Rama. Sejurus kemudian ia tersenyum dan mulai mengikis jarak di antara
keduanya.
Rama masih diam saja. Pria itu tak memberikan reaksi lebih. Ia masih setia untuk menutup matanya.
Kini tangan Tari, memberanikan diri untuk menyentuh rahang Rama yang tegas dan ia
kembali tersenyum melihat suaminya.
“Mau sampai kapan di lihatin terus?”ucap Rama dengan mata yang masih terpejam. Ia lantas
tersenyum.
Tari yang menyadari itu sontak terlonjak kaget. Ia lekas memalingkan wajahnya dan menarik tanga yang sedang menyentuh wajah suaminya.
“Sampai kapan Cuma di lihat saja?” kini Rama mulai membuka matanya dengan pelan dan
sedikit bangkit dari tidurnya. Ia berpegang pada satu tangannya sebagai tumpuan
kepala.
“Sejak kapan Mas Rama bangun?”
Tanya Tari dengan wajah yang sudah memerah padam menahan malu kerana ulahnya sendiri.
“Sejak kamu melihatku dengan penuh cinta”
Blus...
Tari tak kuasa untuk menahan rasa malu yang mendera hatinya. Berada di dekat Rama
lama-lama membuatnya melayang-layang.
“Mas...” ia bersuara dengan manja.
“Kenapa sayang? Coba lihat sini. Lihat kembali wajahku” desis Rama dengan pelan.
Tangannya meraih ajah Tari untuk bisa berhadapan langsung dengannya.
“Lama-lama aku bisa terkena diabet kalau dekat denganmu”
“Kenapa sayang?”
“Karena kamu gombal terus mas”
“Tenang saja, ada Dokter cinta yang siap menyembuhkan lukamu sayang”
“Morning kiss, sayang” Rama mengikis jarak dan semakin mendekat pada istrinya.
Blus
__ADS_1
Lagi-lagi wajah Tari kembali di buat memerah oleh suaminya.
Rama meraih tangan Tari dan menyentuhnya dengan lembut.
“Kita sholat dulu ya mas, aku mau bersih-bersih dulu”
Tari berusaha untuk bangkit dari ranjangnya. Namun ia urungkan, langkahnya terasa sukar untuk bergerak. Ketika mendapati rasa nyeri di pangkal paha miliknya. Rupanya rasanya masih sakit selayaknya waktu pertama kali melakukan, mungkin karena sudah terlalu lama tidak melakukan aktivitas tersebut.
“Aduh” rintihnya dengan lirih tak ingin menimbulkan suara yang lebih.
“Sakit ya? Biar ku bantu”
Tanpa banyak bicara dan menunggu persetujuan Tari, Rama lekas menggendong istrinya.
“Mas aku malu”
“Kenapa harus malu, aku suamimu sekarang”
Keduanya terlibat dalam adu kontak mata bahkan sebelum Fajar datang menyapa.
*****
Seluruh keluarga sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama, termasuk
keluarga Bude Murni dan Pakde Dar. Mereka memutuskan untuk menginap kembali di
rumah Tari untuk beberapa hari ke depan sekalian liburan.
Deretan hidangan makanan dengan berbagai menu mulai terlihat di atas meja. Menu pagi
ini di dominasi dengan lalapan. Sesuai dengan permintaan Bude Murni yang konon merasa bosan makan daging yang berkuah.
Sarapan pagi terasa berbeda dengan hadirnya banyak personil baru di sana. Dengan sigap
sana. Ia juga melakukan hal sama untuk mengambilkan Risma makanan.
“Terimakasih sayang” ucap Rama ketika menerima satu piring nasi lengkap dengan segala isinya dari Tari.
Wanita itu memilih untuk tersenyum sebagai jawabannya.
“Apa rencana kalian setelah ini?” Bu Murni membuka suaranya mengisi kehangatan
sarapan pagi tersebut.
Deg..
Jantung Tari kembali berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Ia takut masa lalu kembali
terulang dengan adanya honeymoon berjamaah.
“Aku akan libur untuk beberapa hari ke depan” terang Tari dengan suara yang pelan. berharap Bude tidak menginginkan hal yang aneh-aneh.
“Kalau kamu Ram?” ia melirik sekilas laki-laki yang kini telah menjadi menantu dalam
keluarga itu.
“Saya sudah harus kembali bekerja. Ada beberapa pasien yang harus saya tangani untuk
perasi hari ini. Kemungkinan akan sampai sore nanti di rumah sakit” terang Rama merasa tak enak dengan yang lainnya.
“Tidak papa nak. Memang sudah menjadi tugasnya nak Rama demikian. Nak Rama yang sabar ya”
Ia menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
__ADS_1
“Aku masih libur hari ini. Bagaimana kalau kita jalan-jalan Bunda?”
“Iya sayang nanti kita akan jalan-jalan kalau Ayah juga sudah libur ya”
“Tapi kapan? Aku maunya sekarang”
“Iya, nanti kita cari waktu yang tepat ya nak”
“Berlibur lah kalian berdua setelah ini. Nikmati waktu kalian berdua. Risma biar di rumah dulu
sama aku” terang Bu Marni memotong percakapan mereka pagi itu.
“Mana ada, aku gak mau nek. Aku mau ikut Ayah dan Bunda. Dulu Bunda sudah berjanji mau mengajak jalan-jalan ke Malang katanya setelah acara ini” Risma memalingkan wajahnya dengan tatapan marah. Ia tak suka dengan usulan yang di berikan oleh neneknya.
“Anak kecil kamu di rumah saja sama Om, dari pada nanti ganggu aktivitas orang tuamu”
“Ayah Bunda. Apa aku akan menggangu kalian nantinya? Aku berjanji akan menjadi
anak yang baik dan tidak menyusahkan. Tapi tolonglah kasihani aku. Ajak aku untuk berlibur bersama kalian”
Tangan Risma menangkup d dada. Sorot matanya mengiba. Tari dan Rama tak kuasa untuk melihatnya, mereka terkekeh geli memandang sang anak.
“Tentu saja kamu ikut sayang”
Risma lekas menjulurkan lidahnya di hadapan ibu dan yang lainnya.
Tari dan Rama tidak mungkin untuk pergi berlibur bersenang-senang tanpa membawa anaknya. Meka berdua begitu sayang dengan Risma. Selepas sarpan bersama Tari lekas menyiapkan segala keperluan Rama untuk berangkat bekerja. Ini kali pertama ia menyiapkan keperluan Rama setelah sah menjadi pasangan suami istri.
“Sayang aku berangkat dulu ya, nanti aku usahakan untuk tidak sampai sore di rumah sakit
pamit Rama pada istrinya.
“Sebenarnya aku tidak ingin pergi ke rumah sakit. Aku ingin berlama-lama di rumah menghabiskan waktu denganmu. Tapi aku juga tidak mungkin untuk mengambil cuti banyak, nanti kasihan pasienku”
Rama sebenarnya sudah mengajukan cuti seminggu ke depan jauh-jauh sebelum acara
pernikahan di gelar. Namun di hari ketiga pengambilan cuti, ia harus di hadapkan dengan kondisi pasien yang kritis. Sebagai Dokter yang bertanggung jawab Rama tentu saja tidak bisa diam saja, ia harus berangkat untuk menolong
pasien nya.
Tari mengantarkan Rama hingga depan rumah. Selayaknya pasangan suami istri yang lainnya ia mencium tangan suaminya dengan takzim. Lantas Rama membalas dengan kecupan sayang di pipi kiri, kanan serta pucuk kepalanya. Bu Marni yang melihat interaksi anaknya di balik jendela tersenyum lega. Akhirnya ia kembali
menemukan senyum di raut wajah anaknya.
“Mas banyak sekali”
“Biar kangennya gak hilang sampai nanti sore”
Rama mulai memasuki mobil, membuka sedikit jendelanya dan melambaikan tangan pada
istrinya. Ia sebenarnya meragu untuk berangkat bekerja, rasanya tak rela harus meninggalkan istri tersayangnya. Namun lagi-lagi kerena tanggung jawab dan tugas yang ada.
Tari membalas dengan melambaikan tangan ke arah suaminya, tak lupa ia memberikan
senyum termanis yang dia punya. Tari pun sebenarnya merasakan hal yang sama. Ia
enggan untuk melepas Rama bekerja hari ini, ia ingin mengenal suaminya lebih dekat lagi. Wanita itu memilih untuk masih berdiri di ambang pintu hingga mobil sang suami hilang tak terlihat lagi.
Sementara Risma, gadis kecil itu memilih untuk kembali terlelap dalam tidurnya. Ia kecapekan
setelah heboh sendiri dalam acara pernikahan orang tuanya.
Sebenarnya ada episode sebelum ini teman-teman, tapi dari semalam aku up masih di review saja.
__ADS_1