Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Tamparan


__ADS_3

Satu minggu sudah, Tari menjalani kehidupan barunya di desa yang jauh dari hiruk pikuk padatnya aktivitas kegiatan di kota. Bukan hal mudah baginya untuk bisa melangkah sejauh ini, mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Mengakhiri segala cerita cinta manis yang telah ia rajut sebelumnya.


Berkali-kali ia mencoba menyakinkan dirinya, bahwa ini adalah keputusan yang terbaik untuk semuanya. Untuk Randi yang dapat seutuhnya berbakti pada ibunya, untuk Mawar dan anaknya yang dapat memiliki keluarga lengkap dan untuknya yang tak kan tersakiti lagi dengan hadirnya orang ketiga dalam rumah tangganya. Berat, sangat berat kala harus menerima keadaan yang ada.


Begitulah hidup, terkadang tidak akan sesuai dengan kehendak kita.


Tangannya mulai gemetaran saat hendak menandatangani surat gugatan cerai yang sudah di siapkan oleh pengacara, surat cerai yang akan ia layangkan untuk Randi, pria yang mengisi hatinya selama beberapa tahun ini.


Ipul menatap iba pada mbaknya, sedang ibu yang duduk di sebelahnya tersenyum dengan mengelus lembut pundaknya. Kepalanya mengangguk beberapa kali sebagai isyarat untuk lekas tanda tangani surat itu.


Dan semua telah berakhir, berakhir dengan luka dan air mata. Cinta suci yang di binanya telah kandas di telan keadaan.


“Ya Allah, kuatkan aku. Aku memang sangat mencintainya, namun aku tak bisa jika harus berbagi dengan yang lainnya. Aku juga tak ingin menjadi penghalang untuknya berbakti pada orang tuanya. Untuk itu Ya Allah lapangkan hati kami semuanya”.


Tari mulai menggoreskan pena hitam di atas kertas putih yang ada di meja. Sejenak matanya memejam dan menghela nafas yang panjang.


Setelah menandatangi surat itu, Tari melangkahkan kakinya menuju pekarangan rumah yang terdapat banyak bunga hias di sana. Ia melangkah dengan hati yang hancur menjadi kepingan-kepingan kecil yang sulit untuk kembali.


Ibu dan Ipul sling berpandangan untuk sesaat,”biarlah saja mbakmu, biar tenang hatinya’.


Di kebun pekarangan rumah, Tari, menatap nanar cincin pernikahan mereka, cincin yang pertama kali Randi sematkan di jari manisnya. Ia tersenyum pilu melihatnya, sesekali ia tertawa ringan kala mengingat moment kebersamaannya dengan Randi.


Kini ia kembali memegangi dadanya, rasa gemuruh itu kembali datang dengan tiba-tiba tapa permisi, rasanya sangat sesak teramat sangat sesak luar biasa. Tari kembali menangis lagi.


Beberapa saat kemudian Tari, mengambil ponsel yang ada di saku celananya, ia membuka ponselnya untuk pertama kali setelah satu minggu lebih menonaktifkannya. Ratusan panggilan tak terjawab dari Randi dan ribuan pesan dari orang yang sama.


Tangannya kembali gemetar, kala membaca satu persatu pesan yang ada.


“Tidak, aku tidak boleh goyah pasti ini yang terbaik untuk semuanya”. Desisnya dalam hati, lekas mengambil sim card dan mengganti dengan nomor yang baru.


“Aku dan Mas Randi sudah selesai, iya kami sdah selesai. Aku akan menjadi janda”. Ringisnya dengan tersenyum kecut.

__ADS_1


“Akulah wanita yang di jandakan mertuaku sendiri’. Tari tersenyum sekilas, kemudian ia memegang dadanya yang terasa sangat sesak luar biasa.


Hiks...hiks...hiks...


Tangisnya kembali pecah.


“Kenapa Bunda, menangis?”. Risma yang sedang bermain di kebun samping rumah mulai terusik, ia datang mendekat pada Bundanya, mengelus lembut punggung Tari.


“Bunda tidak papa nak”.


“Bunda bercerai itu apa? Tadi Om Ipul dan om yang ada di sana sedang berbicara tentang perceraian Tari dan Randi?”. Risma menggaruk kepala seakan sedang berfikir, tentang apa yang ia dengar tadi.


Deg


Hati Tari mencoles mendengar pertanyaan bocah lima tahun di hadapannya.


“Oh itu bukan apa-apa nak”.


“Kenapa Ayah tidak ikut ke sini?”. Serangkaian pertanyaan Risma, membuat Tari gelagapan menjawabnya.


“Risma sayang, kita sedang liburan di sini. Ayah sedang bekerja di kota, nanti kalau ada waktu ayah akan datang menjemput Risma’. Terangnya dengan menahan tangis yang hampir pecah kembali.


“Risma sini nak, nenek punya jajan untukmu”, teriak Bu Marni, menyelamatkan anaknya dari pertanyaan yang sulit untuk di jawab.


***


Surabaya


Satu minggu sudah Tari pergi dari kehidupan Randi, ia benar-benar seperti seonggok daging tanpa nyawa. Raganya masih hidup tapi tidak dengan hatinya. Hampir setiap hari tanpa jeda Randi berkunjung ke toko roti istrinya, berharap akan menemukan keberadaan Tari di sana, namun sayangnya Randi harus kecewa untuk kesekian kalinya.


“Mas Randi sampai kapan akan mengacuhkan ku seperti ini”. ucap Mawar dengan pelan, kala mendapati suaminya sedang duduk di taman belakang rumahnya.

__ADS_1


Randi masih diam, tenggelam dalam lamunan panjangnya.


“Mas Randi, sampai kapan kamu akan seperti ini”, desis Mawar untuk yang kedua kalinya, dan ia mengatakan dengan suara yang tak lagi lirih.


Sejenak Randi menoleh ke arah istri keduanya, ia menatap dalam wajah Mawar, yang kemudian di balas dengan sebuah senyuman merekah di bibir Mawar. Randi bangkit dari tempat duduknya, ia melangkah mendekat ke arah Mawar, yang semakin membuat Mawar tak berdaya.


Kini tubu Randi berhadapan dengan Mawar, jarak mereka tak lebih dari tiga cm. Randi semakin mencondongkan tubuhnya ke arah Mawar, reflek membuat Mawar memejamkan mata.


“Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?”. Desis Randi, tepat di hadapan Mawar.


“Tentu saja, aku sangat bahagia dengan pernikahan ini mas”, jawabnya dengan ceria.


“Aku berjanji akan berusaha menjadi istri yang terbaik untukmu Mas”.


Randi tersenyum kecut mendengar jawaban Mawar.


“Aku bahagia Mas, bahagia sekali malahan”, jawabnya dengan tersenyum ke arah Randi.


“Oh ya”, Tanya Randi dengan tersenyum menatap wanita di hadapannya.


“Silahkan saja bertindak sesuka hatimu, jangan sekali-kali kau berani menginjakan kakimu di kamarku dan Tari, jangan sekali-kali kamu merubah apapun yang sudah Tari tata di rumah ini”.


“Satu lagi jangan harap aku akan memberikanmu nafkah batin dalam pernikahan ini. Karena aku menikahi hanya demi seorang anak yang di inginkan Mamaku, dan sekarang anak itu sudah ada dalam kandunganmu. Tugasku sudah selesai untuk memenuhi keinginan Mamaku. Jadi apa kamu masih bahagia sekarang?”. Mawar tidak menjawab, namun matanya sudah berkaca-kaca menahan tangisnya.


“Aku menikahimu karena keadaan dan keterpaksaan. Jangan harap ada bahagia di dalam sana nantinya"


"Kau yang menginginkan ini semua, kau yang memilih untu masuk dalam pernikahan tanpa arti ini. Kau akan merasakan sakit jika bertahan dalam keadaan seperti ini"


“Seperti namamu, kamu akan memelihara duri sepanjang hidupmu!”.. Mawar tak kuasa untuk menahan tangisnya.


Menyadari sesuatu terjadi antara anak dan menantunya, membuat Bu Srining tak tahan dengan perlakuan anaknya pada Mawar. Ia datang mendekat dengan emosi yang sudah merasuk jiwanya.

__ADS_1


PLAK.


__ADS_2