Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Mari Kita Bercerai


__ADS_3

Tak banyak interaksi yang di lakukan Tari dan Randi, keduanya lekas menuju kamar untuk beristirahat setelah menikmati makan malam Meraka. Rasa kenyang mendominasi segalanya membuat Randi dapat tertidur dengan sangat mudah. Selain itu keberadaan Tari di sisinya membuat pria itu dapat dengan mudah untuk terlelap pergi ke alam mimpinya.


***


Rumah Mawar


Pagi telah tiba, sang Surya mulai menyapa dunia. Cahaya matahari mulai memasuki celah jendela yang ada di kamar Mawar. Pagi ini ia harus menelan kecewa untuk kesekian kali ketika mendapati ranjang di sisinya kosong.


Sudah menjadi hal yang lumrah bagi Randi untuk datang sekilas dan kembali pergi meninggalkan istri mudanya. Membiarkan wanita itu meringkuk dalam menghabiskan malamnya.


Untuk pulang kembali ke rumah istrinya.


Ya Randi slalu seperti itu akan kembali ke rumah istri pertamanya.


Mawar menangis sesenggukan menjambak-jambak dengan asal rambutnya. Pagi itu ia begitu kesal dan emosi. Entah karena pengaruh hormon kehamilan atau ia mulai jengah dengan sikap Randi yang sangat acuh padanya


“Kamu slalu saja seperti ini mas, datang di waktu yang cukup malam dan kembali tanpa sebuah kata pamit padaku”.


“Aku juga istrimu”. Teriaknya dari dalam kamar dengan penuh emosi.


***


Rumah Randi.


Pagi itu seluruh keluarga sedang sarapan bersama seperti biasanya, semua duduk menempati posisi masing-masing. Tak ada senyuman di raut wajah Mama kala mendapati Randi turut serta sarapan dalam meja yang sama dengan mereka.


Randi mencoba untuk bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa malam kemarin.


“Ran Mama mau minta tolong, nanti selepas kerja kamu mampir ke laundry Mama, ada hal yang ingin Mama sampaikan”. Ucapnya dengan dingin dan mengaduk-aduk sarapan yang ada di depannya.


“Tapi Randi jemput Tari dulu ya Mas”, jawab Randi tanpa melihat sang Mama dan memasukan setu sendok soto di mulutnya pagi itu.


“Sendiri saja Ran”.


“Tapi Randi jemput Tari dulu”.


“Tidak usah Mas biar Tari pulang sendiri saja, nanti rencananya setelah dari toko Tari ingin berjalan-jalan sebentar mencari keperluan untuk sekolah Risma”,tangannya terulur membelai rambut Risma yang di kuncir kuda.


“Baiklah kalau begitu sayang”.


Semuanya kembali untuk bersarapan pagi itu.

__ADS_1


***


Dengan langkah yang begitu tergesa-gesa pagi itu, Mawar menuju laundry milik Bu Srining orang tua Randi, untuk mengadukan semua kelakuan anak mereka pada orang tuanya.


“Nak kamu kenapa pagi-pagi sekali sudah ke sini? Bukankah harusnya kamu istirahat saja di rumah?”, Bu Srining memegang tangan Mawar dan mempersilahkan untuk masuk ke ruangan khsus yang di sediakan hanya untuk istirahat keluarga.


“Ma Mas Randi....”. Matanya sudah berkaca-kaca.


Bu Srining mencoba menenangkan menantu pilihannya itu.


“Iya nak ada apa katakanlah?”.


“Mas Randi kembali meninggalkan aku ketika sudah terlelap Ma. Dia slalu saja seperti itu tak pernah menghiraukan ku. Sementara aku juga istri sahnya"


“Ma aku lagi hamil, aku juga butuh perhatian khusus dari Mas Randi, aku punya hak yang sama dengan mbak Tari atas Mas Randi’, ucapnya dengan berderai-derai air matanya.


Mama begitu geram mendengar penuturan menantunya tersebut, meskipun sebenarnya ia juga tahu tanpa Mawar mengadu padanya jika Randi tak pernah menginap di rumah Mawar.


“Ma aku harus apa? Anakku butuh perhatian ayahnya?” Kini tangis Mawar semakin menjadi-jadi dan Bu Sringing memeluk menantunya tersebut.


“Sabarlah nak, mama akan mencoba untuk menasehati Randi, jangan bersedih kasian cucu oma yang disini saat ini”.


Randi memang bukan suami yang baik, ia tak dapat berlaku adil pada istrinya. Ia memang memberikan nafkah lahir tapi tidak dengan nafkah batinnya. Randi terlalu berat untuk menjalankan itu semuanya.Hatinya tak mampu untuk terbagi.


Keberadaan Mawar dari pagi hingga sore yang berada di ruang khusus di laundry itu, menimbulkan banyak pertanyaan bagi karyawan yang lain. Yang mereka tahu Mawar sudah tidak bekerja lagi di sana karena sedang hamil, namun semua karyawan di sana tak ada yang tahu jika suami Mawar adalah pemilik laundry tempat mereka bekerja.


***


Sore harinya Randi menepati janjinya pada Mama untuk berkunjung ke laundry miliknya. Langkahnya langsung tertuju di ruang khusus yang biasanya di gunakan untu menerima tamu keluarga tersebut.


“Assalamualaikum”. sapanya ketika memasuki ruang tersebut.


“Waalaikumsalam”, jawab serentak dua wanita yang ada dalam ruangan itu.


Senyum Randi berubah menjadi kecut kala melihat kehadiran Mawar di sana. Ingin sekali ia urungkan langkah kakinya untuk masuk tapi sayangnya Mama dengan sengaja menarik tangan Randi untuk kembali masuk.


“Mama tinggal dulu keluar”. ucapnya dengan beranjak meninggalkan anak dan menantunya.


Keduanya saling berhadapan.


Randi lekas menutup rapat pintu itu.

__ADS_1


“Ada yang ingin aku bicarakan mas!”.


“Katakanlah”. jawabnya dengan dingin.


“Mas aku menutut hakku sebagai seorang istri, aku menuntut waktu dan perhatian kamu, sekali lagi aku tegaskan aku dan anak kita juga butuh kamu”. ucap Mawar dengan emosi yang sudah ia tahan sejak tadi pagi.


“Aku ingin kamu berlaku adil pada ku dan mbak Tari, dalam membagi waktu dan perhatian”.


Randi terdiam tak bergeming mendengar setiap kata yang di ucapkan Mawar.


“Bagaimana mas?”.


“Apa yang kau katakan, jangan pernah bermimpi untuk itu”, ucap Randi dan mulai mendekat pada Mawar.


“Bukankah dulu kamu mengatakan jika tidak akan menuntut apapun dari aku termasuk soal waktu”.


“Aku tahu itu mas, tapi aku sekarang sedang hamil anak kamu. Aku butuh perhatian lebih atas dirimu, jika kau tidak bisa berlaku adil padaku setidaknya kamu harus mempertimbangkan anak ini Mas. Dia sama sekali tak bersalah dalam kisah ini. Kamu yang salah, kumu yang tak bisa berlaku adil pada kami"


Mata Mawar berkaca-kaca dan mulai berdiri dari tempat duduknya.


Randi terdiam sejenak.


Kemudian ia mengikis jarak dan mulai mendekat pada Mawar.


“Aku tidak bisa Mawar. Aku lemah untuk urusan ini.Jangan paksakan aku untuk berbuat lebih padamu.Karena itu tidak akan mungkin dan hanya akan membuatmu semakin sakit"


Randi menjeda ucapannya menarik nafas dalam-dalam.


“Dalam pernikahan ini, aku sangat menyakitimu, oleh sebab mungkin akan lebih baik jika kita bercerai saja dari pada aku harus berlaku dzolim dan tidak pernah adil denganmu”.


DEG....


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Hay teman-tenan berhubung bulan ini adalah hari kelahiran Author maka aku minta kado dong dari kalian semua. Like, subscribe dan vote novel ini.Trimakasih semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah love kalian semuanya 😊🙏


__ADS_2