Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Honeymoon Berjamaah 3


__ADS_3

“Mbak Murni, jangan gitu lah, kita di sini kan numpang acara liburannya Tari, jadi biarlah Tari dan Randi yang menikmati liburan mereka toh mereka juga kan yang membayarnya. Kita yang sudah tua-tua ini patutnya mengalah dengan yang muda”.


Ibu memberanikan diri mengutarakan pendapatnya dengan nada yang ukup santun dan pelan.


“Sudah Tar bawa masuk tasmu nak”.


Ibu meraih tas bude dan meletakkan di kamar yang kedua.


Sore itu tidak ada aktivitas yang berarti yang mereka lakukan, bude dan keluarganya di sibukkan dengan acara ngemil yang tiada habisnya, sedang Tari dan Randi berjalan-jalan di sekeliling vila menikmati masa-masa pengantin baru mereka.


Sedang ibu di berkutat di dapur untuk membuat masakan makan malam mereka nanti. Ibu dengan sengaja membawa bahan mentah dari rumah dan lekas memasaknya agar tidak ada alasan bagi bude dan keluarga untuk mengajak makan malam diluar. Dengan sigap Ipul membantu sang Ibu untuk meyiapkan makan malam mereka.


Kali ini Ibu memasak ayam panggang beserta sambal dan lalapan, aneka ikan segar dan beberapa tumisan hijau. Tari yang baru sampai dari jalan-jalan lekas menghampiri sang ibu dan membantunya untuk meyiapkan makanan. Sedang bude sedang berenang bersama pakde di luar.


“Ibu dari tadi masak sendirian?”.


“Tidak, ibu tadi di bantu Ipul”.


“Apa bude tak membantu Ibu sama sekali?”.


“Di bantu kok, hanya saja tadi anaknya yang paling kecil minta di temani berenang jadi bude menemani anaknya”.


Dalih Ibu tak ingin menimbulkan percikan kemarahan.


“Sini Bu, biar Tari saja”.


Tari mulai menata satu persatu makanan tersebut di atas meja.


“Lo Tar masak tah?”, tanya bude yang begitu kaget melihat ada banyak makanan di meja makan tersebut.


“Pati ibu berbohong tentang bude yang bantu masak, buktinya bude saja baru tahu kalau masak”. Ucap Tari dalam hati.


“Iya bude baru selesai semuanya, kita makan habis magrib saja ya sekalian”.


“Kenapa harus masak sih Tar? Kenapa tidak beli saja di luar sekalian jalan-jalan malam menikmati hawa dingin Trawas”.

__ADS_1


Bude mendengus kecewa karena dia sudah bercerita pada teman-teman sosialita kelas Desa jika akan makan-makan senak di resto malam ini. Harapannya pupus sudah jika sudah masak begini mana ada makan di luar, yang ada ya pasti makan makanan yang ada di sini.


Sementara Ibu tersenyum penuh kemenangan, rencananya berhasil karena jika makan di luar nanti yang bayar ujung-ujungnya juga Tari dan Randi. Ibu tak enak dengan Randi terlalu banyak merepotkan meskipun secara finansial Randi lebih dari cukup jika hanya membayar makanan mereka hanya saja sopan santunnya tak ada jika minta di bayarin terus.


Dengan wajah manyun penuh kekecewaan bude masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri.


Saat makan malam tiba, semua sudah bersiap di depan meja makan termasuk Tari dan Randi hanya saja bude yang tak kunjung menunjukan batang hidungnya, rupanya bude benar-benar merajuk karena terlanjur malu dengan teman-temannya tak dapat membagi story makan di resto.


Beberapa kali pakde mencoba memanggilnya untuk turut bergabung makan bersama, hanya saja jawaban bude masih sama enggan untuk keluar kamar.


Sebenarnya hal ini yang membuat pakde resah, karena jika tidak mau makan bersama sekarang pasti bude nanti akan merepotkan sekali ketika kelaparan. Tentu saja pakde akan kerepotan jika harus menuruti keinginan istrinya nanti.


Kali ini Randi mencoba untu mengajaknya makan bersama, mungkin jika Randi yang meminta maka bude akan merasa segan tak turut serta. Tari pun menyetujui permintaan Randi.


“Bude...bude...”. Panggilnya beberapa kali dari bali pintu kamar.


Tak kunjung ada jawaban.


“Bude mari makan dulu, apakah bude sedang tidak enak badan?”.


Ibu begitu kesal melihat pemandangan yang ada di ujung kamar tersebut.


“Bude makan yuk sama-sama”, Randi kembali mengetuk pintunya.


“Apakah bude menginginkan makan-makanan tertentu? Biar Randi carikan”.


Mendengar tawaran Randi membuat mata bude seketika langsung melek dan memikirkan sesuatu.


“Bude pengen makan ayam kalasan yang ada di resto Barkah di ujung jalan sana”.


“Oh begitu ya, baiklah bude mari kita ke sana, tapi sekarang kita makan makanan yang sudah di siapkan Ibu dulu ya, nanti kiranya sedikit malam kita makan lagi di sana”.


Di dalam kamar bude dengan tubuh besarnya meloncat kegirangan mendengar tawaran Randi.


Bug...

__ADS_1


Bude terjatuh dari loncat-loncatnya, sebisa mungkin dia tahan untuk tak bersuara malu.


“Yes makan besar dua kali yes”. Bude kemabli meloncat-loncat.


Beberapa detik kemudian Randi dan bude sudah menuju meja makan untuk makan bersama.


Ipul tak tahan rasanya ingin berkata kasar pada budenya hanya saja berkali-kali di tahan, ia pegang dadanya untuk tidak mengeluarkan kata-kata buruk di depan Randi. Mungkin jika ini di rumah Ipul sudah pasti tidak sanggup dengan tingkah bude hari itu.


Semua keluarga menikmati makanan yang ada, ada sedikit rasa kecewa di hati ibu ketika Randi menuruti permintaannya. Tari dan Ibu khawatir bude beserta keluarganya akan turut serta memeras Randi dengan dalih persaudaraan.


Mungkin nanti dengan berjalannya watu perlahan Tari akan menjelaskan pada Randi prihal kelakukan budenya.


Menjelang pukul sembilan malam, Bude menagih janjinya pada Randi untuk membeli ayam goreng kalasan. Akhirnya mau tidak mau semua anggota keluarga tersebut turut serta ke rest yang di pilih bude.


Sesuai dengan apa yang di harapkan bude, memilih menu makanan banyak sekali tak lupa mengabadikan di sosial medianya untuk pamer pada geng sosialita Desanya.


“Ayo-ayo mari silahkan di makan. Tawarnya tanpa rasa bersalah, sedang keluarga Ipul dan Tari menatap dengan jengah.


Ajaib benar saudaraku satu ini.


Satu jam kemudian mereka semua kembali ke vila dengan perut yang teramat sangat kenyang. Tidak banyak obrolan yang dilakukan seperti agenda yang di sarankan pakde menambah keakraban, yang ada semua mengantuk karen kekenyangan.


Bude dan pakde lekas menuju kamarnya, begitu juga dengan Randi sedang ibu masih merapikan sisa makan malam tadi.


“Udah kamu masuk kamar saja dulu”. perintah ibu pada Tari yang hendak membantu mencuci beberapa piring kotor.


Melihat sang istri memasuki kamarnya, membuat Randi bersemangat untuk berolahraga malam, apalagi malam di Trawas begitu dingin, membuat jiwa laki-laki Randi meronta-ronta.


Keduanya mulai merebahkan diri di atas ranjang dan saling berpelukan.


“Sayang”.


“Ayo kita bikin cucu buat ibu dan mama!”, ajak Randi seraya membuka kancing baju istrinya dan Tari pun melakukan hal yang sama pada Randi.


Mereka pun menjalankan aktivitas baru yang menarik bagi pasangan suami istri.

__ADS_1


Dari kamar sebelah, kamar pade Dar dan bude Murni, keduanya mendengar suara -suara yang tak asing mereka dengar, menyadari jika keponakannya sedang berjuang untuk memperoleh penerus bangsa.


Mendengar suara itu yang semakin jelas, Pakde Dar pun menjadi ingin juga, yang akhirnya pakde Dar dan bude Murni turut serta melakukan olahraga malam.


__ADS_2