
Dengan perasaan yang bercampur-campur Rama mulai membuka kertas tersebut. Membacanya dengan seksama isi yang tertuang dalam kertas itu.
Penentuan profil DNA dengan menggunakan metode standar terhadap sampel darah atas nama Rama Nugroho sebagai terduga ayah dan sampel rambut atas nama Kharisma Nur
Laila sebagai terduga anak.
Bukti ilmiah yang di peroleh dengan mengacu pada sampel yang di periksa, menunjukan
bahwa..
Deg...
Rama kembali menutup matanya, menguatkan hati dan pikirannya untuk membaca hasil tes
tersebut.
Bukti ilmiah yang di peroleh dengan mengacu pada sampel yang di periksa, menunjukan bahwa, hasil ayah Rama Nugroho memiliki kecocokan dengan anak Kharisma Nur Laila. Dengan
demikian dapat di simpulkan bahwa probabilitas Rama Nugroho sebagai ayah biologis dari Kharisma Nur Laila adalah 99,9% cocok.
“Allahuakbar”
“Allah”
“Allah”
Rama menangis seketika setelah membaca hasil tes tersebut. Tubuhnya tersungkur ke lantai. Ia
bersujud dalam waktu yang sangat lama, air matanya mengucur hebat. Ketidak
kemungkinan yang slalu ia semoga kan telah terjawab. Dugaannya selama ini tidak melesat.
“Risma anakku”
“Iya Risma anakku, anak yang selama ini aku cari-cari keberadaannya. Anak yang slalu ku rindukan kehadirannya”
“Allah”
“Allah maha baik, trimakasih telah kembali mempertemukan kami”
“Allah” ia masih menangis tak percaya, Sungguh hatinya bahagia sekali malam itu.
“Senja aku sudah menemukan anak kita” Ia masih dalam posisi yang sama tersungkur di atas
sajadahnya dengan tangis bahagia.
Terlalu bahagia membuat Rama tak mampu terjaga hingga pagi datang. Ia sudah tak sabar ingin mengatakan ini pada Tari dan Risma.
“Aku harus ke rumah sakit. Aku harus ke sana sekarang. Aku tidak bisa jika harus berdiam seperti ini terlalu lama”
Rama menyeka genangan air mata yang membanjiri pelupuk matanya. Tanpa pikir panjang pria itu lekas bersiap untuk kembali ke rumah sakit. Pagi bahkan belum menunjukan pesonanya. Terlalu bahagia membuatnya tak tahu harus berbuat apa, yang ada dalam benaknya saat ini hanya ingin melihat putrinya.
Pedal gas mulai di injak dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang teramat sangat sepi saat itu.
Rama terdiam ketika mendapati keadaan rumah sakit masih sangat sepi.Hanya ada beberapa tenaga medis yang sedang berjaga di masing-masing pos bangsal. Sepanjang lorong koridor ia tak menemukan satupun manusia di sana. Rama memilih untuk duduk di kursi depan
kamar Risma menunggu pagi yang di sana.
__ADS_1
.
.
Ceklek
Seperti biasah Tari, akan terbangun saat pagi datang. Suara lantunan azan yang saling bersahutan membuatnya beranjak dari sofa ruang rawat. Ia hendak menunaikan sholat
berjamaah di masjid yang terdapat di sebelah ruang rawat Risma.
“Mas Rama?” Matanya membola ketika mendapati pria itu tengah tertidur dalam posisi duduk di kursi tunggu kamar anaknya.
“Iya” jawab Rama dengan gelagapan ketika mendengar suara wanita yang ada di sebelahnya.
“Kok sudah di sini? Apa dari kemarin belum pulang?”
“Maaf sudah membuatmu kaget ya. Apa Risma sudah terbangun dari tidurnya?”
Tari menggelengkan kepalanya pelan.
“Aku rasa pengaruh dari obat yang di minumannya, membuat dia tertidur dengan sangat pulas”
“Tar lihat ini”
Rama mulai menunjukan surat hasil tes DNA nya dengan Risma yang ia bawa sejak semalam.
“Mas sudah membukanya?”
Kini Rama yang mulai menganggukkan kelapanya.
Tak bisa di pungkiri Tari juga merasakan hal yang sama dengan Rama. Ia begitu cemas dengan hasil yang ada. Antara berharap Risma memang anak Rama dan tidak.
“Bukalah”
Rama tersenyum mempersilahkan.
Tari merubah posisinya untuk duduk bersebelahan dengan Rama. Tangannya dengan pelan mulai membuka lembaran putih yang berselimut amplop coklat.
“Allahuakbar” pagi yang masih dingin, Tari di kejutkan dengan hasil yang ada di sana.
“Bagiamana bisa Mas seperti ini?”
“Allah maha baik Tar, ia mempertemukan kami kembali. Terimakasih Tar, selama ini sudah menjaga dan merawat anakku dengan baik. Terimakasih sudah menyayangi anakku. Trimakasih”
Reflek Rama memegang tangan wanita yang ada di sebelahnya. Keduanya larut dalam tangis bahagia pagi itu. Tak dapat di ungkapkan dengan sebuah kata apa yang mereka rasakan, yang
ada saat ini hanya tangis kebahagiaan.
“Bunda Ayah” terdengar suara anak kecil yang sedang merengek didalam sana.Risma terbangun dari tidurnya, ia mendapati ruangan rawat inapnya kosong membuatnya ketakutan. Gadis
kecil itu sontak menangis saat itu juga.
“Bunda”
“Bunda”
Matanya mengedar menatap sekeliling ruangan.
__ADS_1
“Risma.....”
Laki-laki itu berlari untuk masuk ke dalam kamar. Tangannya lekas terlentang saat pertama kali melihat gadis kecil di depannya. Pandannya nanar, Rama tak lagi bisa menahan tangisnya.
“Princes...”
Hay anak Ayah yang cantik, trimakasih sudah berjuang untuk tetap bertahan hingga lahir. Nama yang cocok untukmu Mutiara. Ayah dan Ibumu sudah mempersiapkan itu sejak kamu masih dalam kandungan. Kamu pasti suka kan sayang.
Mutiara sudah meninggal, ia sudah menyusul Senja beberapa jam setelah kepergian Senja waktu itu. Mutiara tidak bisa di selamatkan, bayi itu terlalu lemah untuk tetap bertahan hidup.
Sayang kamu suka ikan ini kan?
Sepenggal memeri ingatan Rama beberapa waktu yang lalu kembali, saat ia pertama kali mengendong dan mengadzani putrinya. Saat ia mencari keberadaan putrinya di rumah mertuanya dan saat pertama kali bertemu Risma, ketika gadis kecil itu menangis untuk meminta ikan hias seperti teman-temannya.
Selama ini ikatan cinta aku dan Risma begitu kuat. Sejak hari pertama kami bertemu, dan aku langsung menyayangi Risma. Karena dia adalah putri kandungku.
“Ayah”
Saat satu kata indah keluar dari mulutnya.
Rama berlari berhamburan untuk memeluk anaknya. Tangannya terentang dengan senyum yang mengembang sempurna di wajahnya.
“Ayah”
“Prince”
Risma akhirnya aku bisa memeluk kembali anakku. Waktu seakan berpihak pada mereka pagi itu. Rama dan Risma saling berpelukan dengan cukup erat seakan mereka telah lama tak
berjumpa. Rama memeluk anaknya dalam diam, hanya isakan tangis bahagia yang ada. Sementara Risma, gadis kecil itu belum menyadari apa yang terjadi. Yang ia tahu hanya satu, jika ia sangat merindukan Rama setelah seharian kemarin tidak berjumpa dengan pria itu.
“Maafkan Ayah nak”
“Maafkan Ayah yang baru bisa menemukanmu saat ini” genangan air mata Rama membasahi baju yang Risma gunakan.
Tari masih dalam posisi yang sama. Ia berdiri di ambang pintu menyaksikan segala keajaiban yang terjadi di depannya. Ia pun turut menatap haru apa yang di lihatnya. Berkali-kali ia
mengusap sudut matanya yang berair.
“Kenapa ayah menangis?”
Risma memilih untuk melerai pelukan Rama, jemarinya mengusap lembut buliran air mata yang luruh di pipi pria itu.
“Ayah kenapa?”
“Ayah tidak papa nak. Ayah kangen sekali sama Risma”
“Iya Ayah, Risma juga kangen sekali dengan Ayah. Ayah janji ya temani Risma di sini”
Gadis kecil itu berucap Dengan polosnya, untuk sesaat kedua mata mereka saling menatap.
“Iya sayang ayah janji. Ayah janji akan slalu ada untukmu”
Rama tak kuasa untuk tak menangis, ia kembali membawa Risma dalam dekapannya.
“Ayah? Apa maksud semua
ini?!”
__ADS_1