Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Kau mengemis padaku?


__ADS_3

“Ayah? Apa maksud semua ini?!”


Randi, baru saja memasuki ruangan Risma. Pria itu baru saja selesai menjalankan sholat


subuh berjamaah di mushola sebelah kamar anaknya.


“Tar, apa maksudnya? Jangan diam saja beri aku penjelasan”


Wajah Randi memelas dan sedikit pucat ketika mendengar Risma memanggil seorang laki-kaki dengan sebutan Ayah. Lebih dari itu, yang paling menyakitkan adalah Risma sama sekali tak terusik dengan kehadirannya. Gadis kecil itu lebih


memilih untuk bersandar di bahu Rama dengan mata yang terpejam sekaan sedang menemukan kedamaian yang Haqq di sana.


Tari memilih untuk keluar dari kamar anaknya. Ia sengaja memberikan ruang pada Rama


untuk bisa membersamai sang anak, menebus waktu yang telah hilang di anatar keduanya. Kepergian Tari, lekas di susul oleh Randi. Ia benar-benar penasaran dengan apa yang ada didepan matanya.


“Tar, tunggu. Aku ingin bicara denganmu! Randi masih berjalan membuntuti manatan istrinya sementara Tari, wanita itu memilih acuh tak menghiraukan panggilan Randi.


“Tar, ayolah. Aku hanya ingin berbicara beberapa menit saja denganmu. Tolong beri aku waktu dan penjelasan tentang semua ini”


Masih dalam posisi yang sama, keduanya terlibat aksi kejar-kejaran. Randi mengikuti setiap langkah Tari, yang sedang menyusuri koridor rumah sakit pagi itu. Sungguh Tari, sudah enggan untuk membahas masa lalunya. Hatinya terlalu rapuh dan hancur untuk itu.


Tari melangkahkan kakinya menuju taman rumah sakit, saat itu kondisi rumah sakit masih teramat sangat sepi mengingat waktu yang masih pagi. Bahkan sebagain dari penghuni kamar inap masih tertidur dalam mimpinya. Ia merasa tak nyaman karena Randi terus mendesak, dan menimbulkan kebisingan. Ia takut menggangu pasien lainnya yang sedang beristirahat. Seketika Tari, berbalik arah, ia menghentikan langkahnya dengan segera. Hingga kemudian ia mengizinkan Randi untuk berbicara.


Randi merasa sangat lega karena pada akhirnya Tari mau untuk berbicara kembali dengannya. Segenggam harapan kembali ia pegang. Bahkan sudut bibirnya terangkat ke atas membuat lengkung tipis di sana. Ia berjalan dengan pelan mengikuti setiap langkah kaki Tari .


Tak berselang lama keduanya telah sampai di taman rumah sakit. Tari mengambil posisi duduk di salah satu kuri panjang yang ada di sana. Dengan sigap Randi turut untuk duduk di sebelahnya. Jika pertemuan pertama mereka kemarin Tari, bersikap lembut dan tegar, maka tidak dengan sekarang. Wanita itu terlihat sedikit acuh dan terkesan tak peduli.


“Ada apa lagi mas?”


Randi cukup merasa sakit hati dengan pertanyaan itu, ia menunjukan jika mantan

__ADS_1


istrinya sudah enggan untuk berjumpa kembali dengannya. Namun Randi, masih berusaha untuk menerima mengingat semua yang terjadi pada mereka adalah atas keputusan salah yang di ambilnya.


“Maaf kalau aku mengganggumu sepagi ini”


Tari masih duduk dalam diamnya, ia menatap deretan bunga yang ada di depannya tanpa


berniat untuk menoleh pada lawan bicaranya.


“Kamu sudah tahu itu Mas”


Randi memijat-mijat kepalanya yang mendadak terasa pening dengan untaian kata-kata singkat yang terlontar dari mulut Tari. Ia bahkan beberapa kali terlihat sedang mengelus lembut dadanya. Mungkin sedang menetralkan segala gejolak yang ada.


“Tar, prihal laki-laki yang ada di kamar Risma. Siapakah dia? Kenapa Risma memanggilnya Ayah? Apa hubungan kalian?”


Randi tak kuasa untuk tak bertanya akan hal itu, sungguh kepalanya sudah di diliputi rasa ingin tahu yang membuncah.


“Apa urusanmu akan hal itu Mas”


Sungguh dalam lubuk hati Randi, yang terdalam ia begitu ketakutan jika sebenarnya Tari sudah memiliki keluarga yang baru.


Diam.


Tari masih enggan untuk berbicara. Memberikan kesempatan Randi untuk berbicara banyak hal sama saja dengan membuka luka lama yang telah padam menjadi kembali menganga. Wanita itu sudah berusaha untuk tak peduli dengan kehidupan Randi saat ini, termasuk dengan hubungannya dengan Mawar.


“Ayolah Tar katakan sesuatu. Sungguh aku berhak tahu akan hal ini”


Randi menggelengkan kepalanya ketika setiap untaian kata yang keluar dari mulutnya tak


mendapat respon dari Tari. Berkali-kali ia menarik nafas panjang dan berusaha untuk tatap tenang.


“Tar”

__ADS_1


Alih-alih memberikan jawaban, wanita itu memilih untuk menyerahkan hasil tes DNA Risma


dan Rama pada Randi. Tangannya terulur tanpa menatap lawan bicaranya.


“Apa maksud semua ini Tar? Aku tak mengeti tolong jelaskan” suara Randi terdengar bergetar seakan sedang menahan rasa sesak di dalam dadanya.


“Baik” Tari menarik nafasnya dengan sangat panjang, sejurus kemudian ia mulai duduk


dengan tegap, tangannya bersendekap di dada dengan pandangan mata yang masih lurus ke depan.


“Rama adalah Ayah kandung Risma mas. Mereka terpisah karena suatu keadaan dan kini mereka sudah kembali bersatu menjadi sebuah keluarga”


“Keluarga? Bagaimana bisa!”


“Apa maksudnya Tar? Apa kalian sudah...” Randi tak kuasa untuk melanjutkan ucapannya. Sudut matanya sudah berair membayangkan segala kemungkinan yang terjadi.


“Untuk saat ini belum, tapi aku tidak tahu dengan masa depan”


Sungguh jawaban Tari bagaikan sambilan pisau yang menyayat hati Randi di pagi hari.


“Tar, tolong jangan lakukan itu. Kita bisa memperbaiki semuanya. Aku minta maaf atas


semua yang pernah terjadi di anatar kita dulu. Sungguh masih adakah sisa ruang


di hatimu untukku? Aku tidak pernah berpaling dari cintamu. Seluruh jiwa raga ini masih seutuhnya milikmu” Randi berkata dengan tatapan nanar, ia kembali mengiba pada mantan istrinya. Ia bahkan mengatakan langsung tanpa bosa-basi terlebih dahulu. Ia takut kehilangan untuk kesekian kalinya, terlebih sudah terlihat di depan mata orang yang juga menginginkan mantan istrinya.


Untuk sesaat, Tari hanya tersenyum kecut mendengar semua itu.


“Apakah kau sudah mengemis padaku mas?”


Jawabnya dengan sinis.

__ADS_1


__ADS_2