
“Aku baru ingat, jika besok adalah hari Ayah, aku besok tidak mau sekolah ya Bun. Aku kan tidak punya Ayah. Aku tidak mau di ejek temen-teman nantinya”
Deg....
Tari terdiam untuk beberapa saat, punggungnya bersandar pada kusen pintu yang ada di kamar. Matanya menutup untuk sejenak. Pelipisnya yang telah hilang rasa nyerinya tadi pagi, mendadak kembali berdenyut. Bahkan lebih nyeri saat ini. Begitu pun dengan hatinya, yang terasa seperti terkena sayatan pisau yang di lumuri perasan lemon di atasnya.
Ia berkali-kali menghela nafas panjang, memikirkan segenap rangkaian kata yang akan keluar dari mulutnya, untuk
menjawab pertanyaan sang anak. Kejadian seperti ini bukanlah yang pertama. Sejak memasuki taman kanan-kanan, dulu Risma juga sering merenung dan menangis saat hari Ayah tiba, terlebih ketika beberapa teman-temannya yang sengaja mengejek dan mempertanyakan keberadaan ayahnya.
“Bunda, boleh ya untuk besok saja aku tidak sekolah. Biarlah aku ikut Bunda ke toko. Aku bisa kok untuk bantu-bantu Bunda di sana” ucapnya kembali dengan tatapan sendu ke sembarang arah. Ia tak berani membalikan badan untuk melihat kedatangan Bundanya.
“Sayang” Tari mulai membuka suaranya. Ia perlahan mulai mengikis jarak mendekat ke arah sang anak. Mendekap dengan cinta anaknya. Ia juga membelai rambut panjang Risma, menciumnya dengan dalam.
“Nak, sekolah ya. Risma tidak boleh seperti ini terus. Kita hadapi sama-sama ya”
“Tapi Bun, aku malu. Aku malu kalau di ejek teman-teman. Aku nanti sendirian di sana, teman-teman pasti akan mengadakan game bersama dan di dampingi Ayah mereka” cicit kecilnya mulai bersuara pelan. Ia masih enggan untuk di bujuk.
“Sekolah ya nak, nanti Bunda kasih hadiah kalau Risma mau sekolah. Kamu boleh minta apa saja yang kamu mau”
“Beneran Bun, aku boleh minta apa saja yang aku mau?”
Tari menganggukkan kepalanya pelan.
“Memangnya Tuan putri yang cantik ini mau minta apa sih sama Bunda?”
“Aku mau Ayah baru Bun, biar besok bisa di bawa ke sekolah waktu acara hari Ayah”
“Hah?”
Tari kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri ketika mendengar jawaban dari anaknya. Bagiamana bisa ia harus mengabulkan permintaan yang di luar prediksi BMKG.
“Tapi nak”
“Tuh kan Bunda gak bisa ngabulin permintaan ku. Bunda slalu saja begitu, ya sudah aku besok gak mau sekolah. Bunda pergi saja sana, aku gak mau lihat Bunda” Risma mendorong tubuh Tari untuk keluar dari kamarnya. Gadis kecil itu lekas mengunci pintu kamarnya dari dalam. Ia kembali menangis di dalam gelapnya kamar. Memeluk tubuhnya sendiri dalam kesunyian. Asanya memiliki sebuah keluarga lengkap telah kandas. Nyatanya kehidupannya sama-sama pincang, selayaknya waktu masih di panti asuhan dulu.
Tari melangkah dengan malas, meninggalkan anaknya di dalam kamar. Ia tahu jika Risma sedang menangis saat ini, bahkan suara isakan tangisnya dapat ia dengar dari luar kamar. Memilukan, begitulah suara yang samar-samar terdengar. Ia berjalan dengan pelan menuju ruang makan, di sana terlihat Ibu sedang berbincang ringan dengan Rama. Rupanya pria itu menepati undangan ibu untuk makan malam bersama.
“Ada apa Tar? Sepertinya Ibu mendengar suara tangis anakmu”
Tari masih diam enggan menjawab, namun raut wajahnya sudah tidak baik-baik saja. Hatinya benar-benar teriris jika dalam posisi seperti ini.
“Nak Rama silahkan” serkas Ibu kemudian ketika pertanyaannya tak kunjung di jawab oleh Tari,ia merasa tidak enak mengundang tamu untuk makan malam dalam kondisi seperti ini.
“Kenapa lagi?” ibu mengulang pertanyaannya, kali ini ia memandang lekat wajah anaknya, menunggu sebuah jawaban yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
“Risma Bu” jawabnya dengan menunduk, satu tangannya mengaduk-aduk nasi yang ada di atas piring.
“Kenapa lagi anakmu?”
“Besok adalah hari Ayah”
“Lantas?” ibu masih mengejar terus jawaban dari Tari. Sementara Rama ia menjadi pendengar
setia saat itu.
“Dia tidak mau sekolah, katanya malu sama teman-teman, nanti tidak ada yang menemaninya gemes. Semuanya temannya tidak ada yang di antarkan Ibunya” Tari menunduk, bertopang dagu dan masih asyik bermain dengan makanan yang ada di depannya, mengaduk berkali-kali tanpa berniat untuk memakannya.
“Huf, slalu saja seperti ini setiap tahunnya” keluhnya tanpa sadar saat itu. Tari termasuk tipe wanita yang jarang sekali mengeluh, terkecuali jika itu sudah benar-benar menyesakan dada. Namun malam itu, ia tanpa sadar mengeluarkan isi hatinya.
“Maaf kalau saya lancang Bu dan Tari. Tapi bolehkan saya bertemu dengan Risma, saya ingin berbicara dengannya”
Tari dan Ibu menatap Rama secara bersamaan saat itu.
“Boleh?” tanya Rama kembali ketika melihat tatapan aneh dari dua wanita yang ada di depannya.
“Boleh silahkan Mas, tapi kamarnya di kunci dari dalam. Semoga saja Risma mau membuka pintunya”
Rama mengangguk, ia tersenyum dan berjalan menuju kamar Risma meninggalkan nasi dalam piring yang belum sempat ia cerna saat itu.
Tok...tok..tok...
“Sayang, ini Om Rama. Risma di dalam?”
Diam tak ada jawaban, hanya suara isakan tangis yang samar-samar terdengar di dalam sana.
“Risma buka pintunya nak. Boleh Om Rama masuk ke dalam?” ia kembali mengulang kalimatnya. Mengatakannya dengan pelan dan memelas.
“Om Rama mau ngapain?”
“Mau ketemu kamu. Boleh ya Om masuk. Kalau boleh tolong dong bukakan pintunya”
Diam. Risma kembali terdiam tak bersuara.
“Buka dong sayang”
Lima menit berlalu, Rama masih berdiri di depan pintu menunggu gadis kecil itu membukakan pintu untuknya. Ia berdiri menyandarkan punggungnya di sana, mendadak Rama pun galau takut Risma tak menerima kehadirannya.
Ceklek pintu terbuka, Risma keluar dengan rambut yang berantakan. Sebagian menutupi wajahnya yang kecil. Ia menunduk dengan memeluk boneka barbie di tangannya.
“Anak manis kenapa kok menangis?” tanya Rama, laki-laki itu menunduk untuk mensejajarkan diri dengan Risma, ia mengangkat sedikit dagu Risma agar dapat melihat mata indahnya.
__ADS_1
“Kok nangis? Kenapa? Boleh Om Rama masuk?” Rama bertanya, tapi kakinya sudah beranjak memasuki area kamar Risma, ia mengandeng tangan kecil itu dan duduk di sisi ranjang.
“Kenapa? Coba cerita sama Om”
“Besok...besok..besok...” Risma menangis sesenggukan.
“Iya sayang, besok kenapa?”
“Besok hari Ayah di sekolah. Semua teman-teman datang di antarkan Ayahnya nanti akan ada game yang di lakukan bersama dengan Ayah masing-masing” Pertahanan Risma meluruh, gadis kecil itu menangis saat itu juga, bahkan tubuh kecilnya reflek berhamburan pada dekapan Rama.
Rama terdiam, ia yang mendengar jeritan anak kecil itu pun merasa hatinya tersayat. Ada sebagian dari rasa yang tak bisa di jelaskan saat itu. Hanya satu yang ia dapat rasakan, jika hatinya bersedih, sedih sesedih-sedihnya.
“Oh jadi besok adalah hari ayah ya?”
“Pokoknya aku besok gak mau sekolah Om. Aku malu kalau di ledekin teman-teman”
“Kenapa harus malu?”
Risma terdiam, ia kembali menunduk mengheningkan cipta untuk sesaat.
“Kalau misalkan Om Rama yang nemenin kamu sekolah bagaimana? Apa Risma masih tidak mau
berangkat?”
“Tapi kan Om Rama bukan Ayahku. Teman-teman memanggilnya Ayah bukan Om”
“Kalau begitu, Risma bisa panggil Om Rama Ayah kalau kamu mau” Rama menangkup pipin
anak itu, membuatnya kembali saling menatap untuk sesaat.
“Memangnya boleh? Om?”
“Boleh, kalau Risma mau. Kamu bisa panggil Om dengan sebutan Ayah kapan pun kamu mau.
Sekarang juga boleh?”
“Sungguh Om?” Mata Risma berbinar, ia sekaan sedang mendapat sebuah hadiah malam itu.
“Coba dulu deh sekarang panggil Om Ayah”
“Ayo coba dulu sayang”
“Ayah”
“Ayah, Ayah bolehkah aku memeluk Ayah?”
__ADS_1