Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Pertemuan Randi dan Tari 1


__ADS_3

Bagaimana bisa Mas Randi dan Mama ada di sana?


Rentetan pertanyaan mulai singgah di kepalanya. Mas Randi, bagaimana bisa ia menemukan


tempat kami saat ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa selama ini Mas Randi masih mencari kami? Apa dia tidak bahagia dengan keluarganya yang baru? Ah untuk apa aku peduli dengan itu. Mungkin ini hanya sebuah ketidak sengaja.


Bukankah apa yang mereka cita-citakan telah terwujud. Memiliki sebuah keluarga yang lengkap dengan hadirnya anak sebagai penerus tahta keluarga.


Tari duduk di lantai, matanya masih menatap tak percaya dengan apa yang baru saja di lihat. Sebuah luka lama yang hampir memudar kembali menunjukan pesonanya.


Jangan ke rumah sakit dulu. Selesaikan saja pekerjaanmu.


Lagi-lagi ponsel Tari bergetar, sebuah pesan yang berisikan hal yang sama dari Ibu.


Huft....


Tari meremas tangannya dengan gugup. Berkali-kali ia mengambil nafas yang panjang


untuk menetralkan segala keadaan yang ada.


Aku tidak boleh lari dari kenyataan yang ada. Jika kenyataan memang saat ini aku harus bertemu dengan mas Randi, aku harus berani untuk menghadapi apapun itu. Aku harus siap, termasuk ketika melihatnya bersama keluarganya yang baru.


******


Langit telah menunjukan pesonanya. Warna jingga mulai mengudara di cakrawala. Perlahan


bentangan langit biru yang di hiasi awan putih telah bergeser bergantian malam. Lantunan suara azan magrib mulai terdengar. Suaranya yang sayup-sayup mampu menggoyahkan siapa pun yang sedang mendnegarnya. Di tengah kemacetan yang ada, Tari menghentikan motornya. Ia berusaha untuk menepikan sepeda di antara kepungan kendaraan yang ada. Padat, merayap bercampur lelah begitulah kondisi


yang ada saat itu. Sebagian orang akan menuju rumah mereka untuk pulang, sebagian lagi sedang beradu nasib untuk tetap bertahan hidup di dunia semu ini. Tari memilih untuk beristirahat sejenak, memuja sang pencipta sebelum kembali


melajukan motornya menuju rumah sakit.

__ADS_1


Menggelar sajadah di shaf paling depan dalam bilik wanita. Seperti biasah wanita itu, slalu menyelipkan sebuah mukena kecil dalam tasnya. Ia tertunduk degan sangat khusuk ketika menanti waktunya untuk sholat. Menata hatinya, memohon kekuatan apapun yang akan terjadi setelah ini. Setengah jam berlalu, sebagian dari


jamaah sudah pergi meninggalkan masjid, hal yang sama juga di lakukan Tari. Perlahan kakinya mulai melangkah meninggalkan pelantaran masjid dan kembali menuju rumah sakit.


.


.


.


Rumah sakit.


“Ibu, Risma, saya permisi dulu ya. Saya mau mengantarkan Mama untuk istirahat. Nanti


saya akan ke sini lagi. Risma mau di bawakan Ayah apa?”


Randi mengelus lembut rambut putrinya, hari ini sudah lebih dari empat jam ia membersamai Risma.


“Aku gak minta apa-apa Ayah” jawab Risma, gadis kecil itu juga sedikit merubah sikapnya pada Randi. Ia tak lagi menunjukan sikap manja dan rasa kangennya pada sang ayah. Entahlah perasaan tidak bisa di bohongi, Risma cenderung bersikap acuh pada Ayahnya.


Bu Srining, hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala saja, sebagai isyarat untuk pamit


meninggalkan ruangan. Ia tak banyak bicara apalagi mencela seperti dulu. Wanita tua itu cenderung diam dan hanya bisa menangis.


Randi terdiam untuk sesaat, mulutnya terasa kelu ketika hendak menyebut nama mantan istrinya. Rasanya sangat tidak pantas untuk bertanya tentang itu, walau dalam hatinya ia ingin sekali mengetahui kabar dari Tari. Sepanjang waktu matanya mengedar mencari keberadaan sosok Tari yang tak kunjung terlihat. Namun nyalinya menciut, tatapan tak suka dari Bu Srining membuatnya ia tersadar akan posisinya saat ini.


“Silahkan!” lagi-lagi Bu Marni mengusir secara halus, ia bahkan menunjukan arah pintu pada


tamunya.


“Ruangan Mama ada di koridor sini Bu, kita satu lantai hanya berjeda beberapa kamar saja. Jika membutuhkan apa-apa jangan segan-segan untuk mengatakan. Akan saya usahakan sebisa mungkin. Saya juga berjanji akan kembali lagi untuk menjenguk Risma” pamit Randi dengan santun, ia tersenyum seraya mencium tangan Bu Marni dengan takzim.

__ADS_1


“Trimakasih atas tawarannya, tapi saya rasa tidak perlu. Kami sudah terbiasa untuk melakukan apa-apa sendiri”


Hening...


Suasana kembali hening dan canggung di dalam kamar Risma.


“Nak, Ayah mau mengantarkan nenek dulu ya, nenek sudah waktunya untuk istirahat dan minum obat. Nanti malam Ayah pasti kemari lagi untuk membacakan dongeng” Randi kembali berbincang dengan anaknya. Sungguh sebenarnya ia tak rela jika harus meningalkan Risma. Ia juga ingin menunggu Tari.


“Sudahlah, pergi saja. Risma dan Ibumu butuh istirahat. Jika kamu masih di sini bagaimana


mereka akan istirahat!” Bu Marni mulai menutup korden yang ada di jendela Risma. Korden yang terhubung langsung dengan taman ruang bersalin.


“Saya permisi dulu” Randi mulai mendorong kursi roda Mamanya dengan ragu, sebagain hatinya masih enggan untuk meningalkan kamar itu.


Ah, anak itu. Masih saja menjadikan sang Ibu sebagai prioritas dalam hidupnya. Mulia sekali jiwanya. Sayangnya tidak dengan harapan dan keinginan Ibunya.


Derap langkah Randi mulai menguar dengan pelan menuju pintu keluar. Ia sudah berbalik


arah mendorong Bu Srining.


Ceklek


Pintu terbuka.


“Assalamualaikum”


Deg...


Suara itu!


Hayuk kakak, jangan lupa like, komen dan rate bintang 5nya, kasih vote ya mumpung hari Senin. Trimakasih 😊

__ADS_1


__ADS_2