
Matahari mulai menampakkan sinarnya, hawa panas kembali datang menyeruak, meski tempat tinggalnya saat ini berada di area pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota, yang sakral akan banyaknya pabrik serta polusi udara. Namun rasa panas dan terik masih tetap terasa di sana.
Tari memilih untuk menuju kebun sebelah rumahnya, mencari karindangan di balik pohon-pohon besar. Ia juga menanam beberapa macam bunga-bungan kecil untuk mempercantik kebunnya. Meletakkan bunga-bunga tersebut dalam beberapa pot, ada juga tanaman yang ia tanam langsung tanpa menggunakan media pot. Satu bunga yang haram muncul di kebun Tari.
Mawar.
Tari, tak menginginkan kehadiran bunga mawar dalam kebunnya, beberapa hari yang lalu, ia mencabut semua bunga mawar yang tertanam rapi mengular di samping rumahnya.
Bunga mawar terlalu berbahaya jika di tanam di dalam kebun, ia akan tumbuh menjalar dan memenuhi area pekarangan rumah, durinya akan menyakitkan jika mengenai tangan pemilik kebun.
Satu lagi tanaman yang kehadirannya tidak di inginkan oleh Tari dalam kebunnya. Tanaman lidah mertua. Ia tak menyukai tanaman ini karena bentuk daunnya runcing yang menyerupai panah. Dengan bentuknya yang runcing maka akan menimbulkan getaran energi negatif saat di arahkan ke tubuh, karena ia akan melukai pemiliknya.
Entah mengapa bagi Tari, melihat aneka bunga yang sedang bermekaran dapat membuat hatinya jauh lebih baik dan tenang.
Ia duduk di bawah salah satu pohon mangga yang rindang, terdapat satu kursi panjang yang terbuat dari bambu di sana. Ia menyandarkan sejenak tubuhnya di samping pohon mangga, sebagai tumpuan kepalannya agar tetap seimbang. Tari memejamkan mata sejenak, lalu mengirup oksigen yang ada. Jilbab paris segi empat yang ia gunakan bekibar tertiup angin.
“Bunda”. suara Risma, datang berlari menghampirinya, membuyarkan segenap lamun Tari. Reflek ia membuka matanya dan melihat ke arah Risma.
Hiks...hiks...hiks....
“Loh anak Bunda, kenapa menangis?”. Ucap Tari, dengan mengelus lembut rambut hitam putrinya.
Hiks...hiks...hiks...
Gadis kecil itu semakin menangis, ia mengusap paksa matanya dengan kedua tangan.
“Jangan di kucek nanti matanya merah, sini biar Bunda yang bersihkan. Ada apa?”.
“Bunda hiks...hiks”.
“Iya sayang, ayo pelan-pelan. Risma tarik nafas dulu, rileks, hatinya yang tenang. Ayo cerita sama Bunda ada apa?”.
__ADS_1
“Aku mau ikan laga-laga seperti teman-teman huhuhu”. Risma kembali menangis sesenggukan.
“Tari mengerutkan dahinya “ikan laga?”.
“Iya Bunda, ikan laga seperti milik Susanti dan Fizi”. Terangnya dengan kembali menangis.
Tari masih belum mengerti apa yang di maksud anaknya, “coba Risma, kasih lihat seperti apa ikan laga-laga itu?”. Ucap Tari dengan menenangkan anaknya yang masih sesenggukan.
“Bunda ayo ikut aku, lihat ke sana”. Tangannya terulur menarik Tari, dan membawanya menuju Susanti serta beberapa teman lainnya yang sedang bermain di halaman depan rumah mereka.
“Sedang main apa ini anak cantik-cantik dan genteng?”, sapanya dengan ikut duduk melingkar membersamai anak-anak usia SD tersebut.
“Main ikan laga-laga tante”. Jawabnya dengan kompak dan santun.
“Ini ikan cupang”. Desisnya dalam hati.
“Wah ikannya bagus-bagus ya, kalian beli di mana ikan-ikan ini?”.
“Cari? Cari dimana?”.
“Di Sungai sebelah sana”. Semu kompak menjawab dengan mengangkat tangannya menunjuk ke arah sungai yang terletak lumayan jauh dari kediamannya tinggal saat ini.
“Kalian pergi ke sana sendiri?”, semua anak-anak itu kembali serempak menganggukkan kepalanya.
“Bunda aku mau ikan itu, aku mau seperti mereka huhuhu”. Risma kembali menangis, kali ini ia memeluk erat tubuh Bundanya. Wajahnya memelas penuh pengharapan untuk mendapatkan sebuah ikan.
“Bunda plif”, begitulah sebuah kata yang di ucap Risma, ia harusnya mengatakan please bukan plifff. Matanya berkaca-kaca, tangannya menangkup di dada. Tari tak tega melihatnya, ia begitu mengemaskan ketika seperti ini.
“Baiklah Bunda akan mencarikan untukmu, tapi tunggu sebentar Bunda, panggil nenek dulu di dalam, biar kalian ada yang menjaga”, serunya dengan berlari cepat memanggil Bu Marni.
*****
__ADS_1
Rumah Bude Murni
Pagi ini hati Bude sekeluarga sedang diliputi rasa bahagia yang tiada tara, cucu pertama mereka anak dari Udin, sudah terlahir dengan selamat melalui proses persalinan normal. Bayi mungil itu di beri nama Rafatar Malik Ahmad, dengan harapan kehidupan cucu mereka akan bergelimpangan kemewahan seperti anak artis yang ia idolakan.
Bayi itu memiliki tubuh yang gembul serta rambut keriting, wajahnya hampir delapan puluh persen menyerupai Bude Murni, hanya saja dalam versi bayi dan cowok. Bibirnya tebal, matanya bulat sempurna serta memiliki kulit sawo matang.
Bude memilih rumah sakit Muslimat, sebagai tempat untuk kelahiran cucu pertamanya. Bude masih sama seperti sedia kala, ia menginginkan yang terbaik dan kemewahan untuk anak keturunannya.
Rumah sakit Muslimat, terkenal sangat mahal dan elit di kawasan tempat tinggalnya. Hanya orang-orang kelas menengah ke atas saja yang biasanya melahirkan di sana. Tak tanggung-tanggung Bude Murni memilih kelas VIP untuk bersalin menantunya, ia juga memilih untuk persalinan dengan di bantu Dokter seara langsung demi keselamatan sang cucu.
Selain demi keselamatan sang cucu dan menantunya, seperti biasah Bu Murni, akan mempertahankan harga dirinya di mata tetangganya. Ia ingin menunjukan pada semuanya jika tanpa Tari dan Bu Marni, ia masih tetap dapat melebarkan sayapnya tak kekurangan apapun dalam hidup.
Bude Murni, juga membelikan berbagai macam kebutuhan bayi dari mulai baju-baju, popok, bedong beserta perintilannya dengan merk yang termahal versinya dalam jumlah yang banyak. Tak lupa ia juga membelikan stroller keluaran terbaru yang ada di baby shop tersebut.
Acara sukuran kelahiran di gelar di rumah Bude Murni, ia mengundang seluruh anggota jamaah pengajian di tempat tinggalnya. Tak lupa ia juga mengundang para kerabat jauhnya. Bude Murni mengadakan acara tasyakuran ini dengan cukup besar, mengingat baru mendapat rezeki tak terduga sebelumnya.
Beberapa tetangga sudah datang lebih awal untuk menjenguk cucu pertamanya. Seperti biasah mereka akan membawa hadiah ketika datang menjenguK.
Bu Minah, salah satu tetangga yang rumahnya tepat bersebelahan. Ia datang lebih awal dengan membawa dua bedak bayi berukuran besar dan sabun mandi bayi. Ia membungkus dalam satu kantung plastik hitam. Tak lupa Bu Minah juga menyisipkan satu pack diaper khusus untuk new born.
“Trimakasih Bu Minah sudah datang menjenguK Rafatar, cucu sultanku, tapi maaf cucuku tidak bisa memakai bedak dan sabun yang murahan seperti ini, aku takut nanti kulitnya jadi gata;-gatal iritasi”, ucapnya kala membuka kantung plastik yang di sodorkan Bu Minah padanya.
“Oh begitu ya Bu Murni, saya tidak tahu mohon maaf”.
“Ya sudahlah biarin saja, namnya juga orang susah kan ya, bisanya cuma beli itu saja”. Tukasnya dengan sinis.
.
.
.
__ADS_1
Sebenarnya Author bingung mu kasih judul apa bab ini 😅