Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Hati Bu Marni


__ADS_3

Sejak kehamilan Mawar, Bu Srining lebih banyak meluangkan waktu untuk tinggal di sana, ia akan berangkat pagi-pagi sekali dan akan pulang menjelang malam. Bu Srining mencurahkan sepenuhnya atas perhatian dan kasih sayangnya pada Mawar.


Seperti pagi itu, ia rela masak pagi-pagi sekali bahkan sebelum Tari dan yang lain bangun dan menyiapkan makanan khusus untuk Mawar. Kala itu Mawar mengatakan jika ingin makan soto betawi, hanya Randi tak bergeming dan tak mau menuruti permintaanya.


Bu Srining yang merasa prihatin dan pernah merasakan hamil menjadi kasihan pada Mawar. Pagi-pagi sekali ia memasak dan menyimpan soto betawi itu dalam rantang membungkusnya dengan rapi, lengkap dengan nasi hangat dan beberapa makanan yang lainnya.


Sesampainya di laundry ia akan langsung menuju rumah Mawar untuk melihat kondisi menantu kesayangannya itu.


“Nak kamu makan yang banyak ya, jaga baik-baik cucu Mama ini”. Tangan Bu Sringing terulur membelai lembut perut datar Mawar yang berada di balik dress pendeknya.


“Aku mual Ma"


"Tapi kamu harus makan bayimu butuh asupan nutrisi untuk tumbuh"


“Makanlah nak sedikit demi sedikit biar tidak lemas, mual di awal kehamilan itu hal yang biasa bagi wanita hamil”. Tangan Bu Srining membelai lembut rambut Mawar yang tergerai panjang dan indah itu.


Kini Mawar mulai meraih mangkuk yang ada di depannya, memasukan sedikit demi sedikit soto betawi dalam mangkuk itu, sementara Bu Srining menceritakan masa-masa kecil Randi dulu. Tanpa ia sadari Mawar menghabiskan satu mangkuk soto betawi, Bu Srining tersenyum puas melihatnya.


“Sekarang apa lagi nak yang kamu inginkan?”.


“Sebenarnya aku ingin sekali makan salad buah, sepertinya sangat segar Ma ketika di nikmati saat cuaca yang panas seperti ini, di tambah lelehan keju parut yang ada di atasnya”. Mawar membayangkan salad buah hingga menelan ludahnya sendiri.


“Baiklah Mama akan akan memesankan untukmu nak, tunggu ya demi cucu mama ini apa pun pasti Mama carikan untuknya”. Senyum Bu Srining mengembang sempurna, sungguh ia sama sekali tak merasa di repotkan meskipun berkali-kali Mawar meminta sesuatu padanya.


Mendapat perhatian lebih dan kasih sayang yang melimpah dari mertuanya membuat hati Mawar menghemat, ia merasa di cintai dan diperhatikan setidaknya ada yang menerima kehadiran anaknya. Meski sebenarnya perhatian yang paling di ingin kan Mawar adalah perhatian sepenuhnya dari Randi suaminya.


“Ma minggu depan tasyakuran empat bulan anakku, apa mas Randi berkenan hadir pada acara nanti”. Mawar bertanya dengan pelan dan ragu, mengingat untuk tasyakuran awal kehamilannya tak di hadiri sang suami. Kala itu Randi lebih memilih untuk menjemput Risma dan mengantar Tari pulang ke rumahnya.


“Mama pastikan Randi akan datang tenanglah”.


“Buka apa-apa Ma, biar aku tidak di kira hamil tanpa suami”, wajah Mawar berubah menjadi sendu seakan menjadi korban dan wanita yang paling tersakiti.

__ADS_1


Mama kembali membelai lembut menantunya dan mencoba untuk menenangkan, wanita hamil perasaannya memang sensitif.


“Bersabarlah nak”.


***


Rumah Ibu


“Jangan....”.


“Jangan tolong...tolong...itu baju anak sayan ada yang hanyut”.


“Tolong itu baju kesayangan anak saya”.


Teriak Ibu di sela-sela tidur malamnya.


Mendengar teriakan dari sang Ibu membuat Ipul lekas terbangun dan menuju kamarnya. Ipul mengguncang-guncangkan dengan lembut pundak Ibunya.


“Ibu bangun bu”.


“Ibu bangun ini Ipul Bu”. Kini Ipul semakin keras menggoyang-goyangkan tubuh sang Ibu.


“Astaghfirullah, ucapnya kala membuka mata dan menyadari jika itu hanya sebuah mimpi.


“Ibu mimpi apa?, kenapa akhir-akhir ini Ibu sering mimpi buruk?’, Tanya Ipul dengan memberikan satu gelas air ******.


Sedang lekas meraih gelas itu, meneguk hingga habis tak tersisa.


Huwallahu, allahu rabbi, is syarika lahu. A’udzu bika limatillhit tammati min ghadhabihi wa min syarri ibadihi wamin hamazatis syayatini a an yahdhuruni.


“Dialah Allah, Tuhanku. Tiada Sekutu baginya. Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan para hamba-Nya, dan godaan setan. Aku pun berlindung kepada-nya dari kepungan setan itu”.

__ADS_1


Beberapa hari ini Ibu Tari merasa tidak tenang, entah mengapa ia tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Setiap malam secara berturut-turut ia bermimpi sedang mencuci baju di sungai dan salah satu baju kesayangan Tari hanyut terbawa derasnya air. Mimpi itu berulang-ulang hingga membuat ia resah ketika menjelang tidur. Segala do’a sudah di baca sebelum tidur agar tak memimpikan hal yang sama sepeti itu.


“Semoga tidak terjadi sesuatu pada anakku, entah mengapa aku merasa ada sesuatu hal yang terjadi pada Tari”. ucap Ibu dalam hati kala terbangun dari tidur dan mimpinya yang sama.


Firasat serang Ibu itu tajam layaknya pedang, sekalipun sang anak belum bercerita apapun tapi ia bisa merasakan.


***


Hari Minggu


Hari ini bertepatan dengan hari minggu, Randi sedang libur kerja, begitu juga Risma yang sedang libur sekolah, sementara Toko kue Tari masih buka namun hanya setengah hari. Randi memutuskan untuk mengajak Risma ke toko itu sekalian bantu-bantu Tari, atau lebih tepatnya menggangu Tari agar lekas menutup tokonya.


‘Mas jangan di ganggu terus dong, nanti kapan selesainya?”. Rengek Tari dengan manja kala menghitung buku pembukaan keluar masuknya dana di tokonya.


“Ayolah sayang jangan capek-capek kerjanya, aku tak rela jika istriku yang cantik ini kelelahan”. Rayu Randi mengelus-elus lembut tangan Tari.


Sedang Risma berjalan di penjuru toko kue, gadis kecil itu melihat jajaran kue-kue yang terpajang rapi di etalase, tak jarang ia kerap meminta untuk di ambilkan dan mencobanya. Tentu saja semua pelayan di sana dengan sigap melayaninya. Bagaimanapun juga Risma adalah putri pemilik toko jadi semua yang ada di sana harus memenuhi permintaanya selama masih dalam batas wajar.


“Sebentar lagi Mas, apa Mas Randi mau di buatkan coklat panas sambil menungguku memeriksa ini”, tawarnya pada sang suami yang masih asik mengganggunya sejak tadi.


“Boleh tapi coklatnya jangan banyak-banyak”.


Tari mengerutkan keningnya mendengar jawaban sang suami.


“Kenapa?”.


“Karena melihatmu senyummu di sampingku sudah cukup manis dan memabukkan, aku takut jika terlalu manis akan terkena diabet”. Randi bangkit dari tempat duduknya dan melingkarkan tangannya di pinggang ramping Tari yang hendak beranjak keluar dari ruangannya.


“Ah gombal mas, tunggu ya”. Kini Tari berlalu meninggalkan Randi hendak membuat coklat panas untuknya.


Ting...

__ADS_1


Satu pesan masuk di ponsel Randi.


“Temani Mawar, di sedang hamil muda dan butuh suami di sampingnya”.


__ADS_2