
“Aku tak tahu Pa, kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk pengobatan Mama. Mulai dari segi medis maupun tradisional. Hampir sebagian aset keluarga kita juga sudah terjual untuk pengobatan Mama. Tapi hingga saat ini tak ada perubahan sama sekali pada Mama. Bahkan Dokter pun sudah angkat tangan dengan penyakit Mama”.
Diam.
Suasana meja makan kembali sepi tak bersuara, ketiganya sibuk dengan pikiran masing-masing. Selera makan rasanya menguap begitu saja. Sudah lebih dari tiga tahun ini, makan hanya sebagai cara untuk bertahan hidup bagi Randi. Ia sama sekali tak dapat merasakan enaknya rasa makanan seperti apa.
“Lantas, apa kita harus membiarkan Mama seperti ini terus Ran?”. Ucap Papa kembali di sisa-sia nasi yang ada di atas piringnya.
Randi menjeda makannya sejenak, ia memilih untuk meraih air putih yang ada di sampingnya meneguk hingga habis tak bersisa. Sejenak ia memejamkan mata dengan tangan yang terangkat di bawah dagunya sebagai sandaran.
“Aku rasa ini bagian dari karma, atas perbuatan Mama pada Tari dulu Pah”.
Uhuk uhuk...
Mendengar ucapan sang anak, membuat Pak Nario harus tersedak, bahkan ia kesulitan untuk menelan nasi yang sudah hampir masuk dalam kerongkongannya.
“Minumlah Pa”.
“Hati-hati kalau bicara Ran, bagaimanapun juga dia adalah Mamamu, orang yang telah melahirkan dan membesarkan mu selama ini”.
“Aku tahu itu Pa, aku tak kan pernah lupa. Bahkan aku harus rela menukar kebahagiaanku demi rasa baktiku pada Mama kala itu. Semoga Papa tidak lupa akan hal itu”.
Diam.
Pak Nario dan Randi kembali teringat akan kisah yang sudah bertahun-tahun terjadi. Kekacauan dalam rumah tangganya. Mama dan Mawar adalah dalang utama yang membawa keluarganya dalam kehancuran.
“Aku rasa kamu harus mencari Tari, kembali Ran, minta maaflah padanya atas nama Mamu”.
“Papa pikir aku tidak mencarinya? Bertahun-tahun aku mencari keberadaan Tari dan Risma, berharap akan keajaiban sang Maha Kuasa untuk mempertemukan kami kembali. Nanum di sisi lain, aku jga takut. Aku takut menerima kenyataan jika saat bertemu Tari nanti, ia sudah memiliki keluarga yang baru dan hidup bahagia. Papa pikir apa aku akan kuat untuk melihat itu semua?”.
Hening, suasana ruang makan kembali hening, bahkan suara terpaan angin dari balik jendela yang terbuka di sisi ruangan dapat terdengar malam itu.
__ADS_1
Sudut mata Randi berembun, ia menatap ke langit-langit ruang makan mencoba menahan segenap butiran bening yang hampir meluncur tanpa permisi.
“Ma ayo makan dulu”. Randi mengalihkan pembicaraannya dengan Pak Nario, ia memilih untuk berdiri di samping Bu Srining, menyuapi bubur yang ada dalam mangkok.
Bu Srining tak memberikan respon apa-apa, ia kembali menatap kosong dan menggendong boneka kecil di pangkuannya.
“Ma, makanlah. Buka mulut Mama ya. Mama harus makan” Randi berjongkok di depan kursi roda mamanya. Ia memberikan contoh bagaimana membuka mulutnya. Dalam hitungan beberapa menit kemudian Bu Srining, mengikuti gerakan Randi, beliau membuka mulutnya. Randi yang menyadari hal itu, lekas mengarahkan sendok yang berisi bubur pada mulut sang Mama.
“Ma, pelan-pelan ya makannya” Randi kembali berucap ketika melihat bubur yang ada dalam mulut Bu Srining tak kunjung di telah. Bubur itu malah keluar kembali melewati celah-celah mulutnya yang terbuka.
“Pelan ya Ma. Mama pasti bisa” begitulah rutinitas yang Randi, lakukan setiap hari. Sebagai anak satu-satunya ia merawat Bu Srining dengan penuh kesabaran. Menyuapi, memandikan, menggantikan pakaiannya. Bahkan tak jarang Randi harus mencari keberadaan Bu Srining, jika tiba-tiba wanita itu menghilang untuk mencari menantunya.
Kalian tanya apakah ia lelah?
Sungguh jauh dari lubuk hati yang terdalam Randi manusia biasah. Ia sangat lelah dengan keadaan yang ada. Tak jarang ia akan menangis terisak-isak di sepertiga malam, mengadu pada Sang Pencipta berharap belas kasihnya. Berharap pengampunan dariNya. Berharap keajaiban yang terbaik untuk sang Mama.
Ya Rab, hamba hanya seorang insan biasa, yang penuh akan dosa. Malam ini seperti malam-malam yang sebelumnya. Hamba kembali mengiba dan memohon padamu pengampunan dan kesembuhan untuk Mama.
Lepaskanlah sabaru Ya Rab, untuk merawat Mama, seperti saat Mama merawat ku ketika kecil. Jadikanlah semua yang aku lakukan untuk Mama menjadi wujud rasa baktiku padanya. Biarlah semua ini menjadi pemberat amal timbanganku di masa penghisapan nanti. Ya Rab walau ku tahu rasa baktiku dengan merawat Mama, tiada artinya dengan limpahan kasih sayang yang telah ia berikan padaku dulu hingga saat ini. Untuk itu Ya Rab, rangkul aku dalam damaimu, kuatkan aku dalam mengarungi hidup ini.
Sepertiga malam, adalah waktu yang sangat damai. Ketika sebagain manusia akan terlelap dalam tidur panjangnya. Berkelana dalam alam mimpinya yang indah, namun tidak dengan Randi. Ia akan bangkit dari ranjangnya untuk memuja sang pencipta. Memohon ampun dan bersimpuh padanya. Tangannya menengadah ke atas, dengan linangan air mata yang membanjiri pelupuk matanya. Tak terhitung berapa kali ia merapal do’a yang sama untuk kesembuhan sang Mama dan ketenangan hatinya.
Kini pria dewasa itu, tak lagi meminta untuk memiliki keturunan. Ia tak lagi meminta untuk di sandingkan kembali dengan Bethari atau yang lainnya. Rasanya sungguh tak pantas jika ia meminta untuk itu. Ia menyadari jika dia tak lagi sempurna seperti dulu.
Sebuah kenyataan yang mengatakan jika ia mandul, di tambah lagi dengan keadaaan sang Mama seperti ini, membuatnya tak memiliki nyali untuk menyebut nama Bethari dalam rangkaian untaian doa’-do’anya. Hanya sedikit selipan rasa cinta dan kasih sayang yang slalu ia titipkan pada Sang Pencipta untuk wanita yang mengisi relung hatinya dulu, kini dan hingga nanti. Wanita itu tak akan pernah terganti dan tak lekang oleh waktu.
Ya Allah Ya Rab, ku titipkan segala rasa dan asa yang ada dalam hati serta hidupku. Kau yang Maha segalanya. Kau yang Maha merajai, kau yang Maha merangkai setiap harapan insannya. Ya Allah jagalah dia, wanita yang terlanjur bertahta di hatiku. Jagalah dia dari segala keburukan. Limpahkanlah rahman dan rahimmu padanya. Permudah setiap jalan yang di hadapinya.
Benara saja pria dewasa itu, tak lagi meminta untuk di satukan bahkan untuk memilikinya kembali. Biarlah ia menghabiskan sisa hidupnya dalam bayang-bayang rasa bersalah yang tiada habisnya.
.
__ADS_1
.
.
.
Desa Suka Maju
Risma mulai memasuki kamar neneknya dengan wajah cemberut, sebagai aksi protes yang di layangkannya pada sang nenek. Semenjak tiga tahun hidup hanya bertiga dengan nenek dan Bundanya, Risma sama sekali tak pernah terpisah jauh dan lama dari Bundanya. Ia duduk di tepi ranjang dengan rambut panjang yang masih terurai hampir menutupi sebagian wajahnya.
“Nek, Bunda kapan pulangnya?”
“Nek ini kan sudah malam, kenapa Bunda belum pulang-pulang?
“Bunda kenapa harus kerja setiap hari?”.
“Nenek coba saja Ayah ada, pasti Bunda tidak capek-capek kerja seperti ini”.
“Nenek sebenarnya Ayah kemana? Kenapa lama sekali tak pulang menjenguk kita? Apakah Ayah sudah tak sayang lagi dengan kita?’. Rentetan pertanyaan yang keluar dari mulut Risma, keluar begitu saja tanpa jeda. Hingga membuat Bu Marni gelagapan menanggapinya.
Ia menjeda sejenak aktivitasnya, menatap gadis kecil itu yang tampak merajuk dengan raut wajah di tekuk. Tangannya bersendekap tepat di dada. Wajahnya lusuh tak menunjukan senyum sama sekali di sana.
“Risma sayang” Bu Murni memilih untuk menghampiri cucunya. Ia membelai lembut rambut Risma dan menatap bola mata gadis kecil itu.
“Sayang, ini masih jam tujuh malam. Tadi Bunda kan sudah bilang jika akan pulang telat. Bunda sedang banyak orderan kue. Tadi siang Bunda Kan sudah bilang jika hari ini akan pulang telat untuk menemani tante-tante di sana membuat kue”.
“Bunda kerja untuk siapa nak?”
“Untuk kita nek” jawab Risma dengan lesu, ia meraih guling yang ada di sisi tranjang bu Srining, mendekapnya dengan sangat erat. Ia enggan untuk menunjukan raut wajahnya pada sang nenek dan lebih memilih untuk membenamkan wajahnya pada guling.
“Benar, Risma memang anak yang pandai. Bunda bekerja untuk kita. Kita doakan ya supaya kerjaan Bunda lekas selai biar cepet pulang dan main sama Risma”
__ADS_1
“Nek, sebenarnya Ayah kemana?”