
Melihat tingkah sang suami, Tari tak kuasa untuk menahan tawanya.
“Rupanya suamiku ini, di balik sikap dinginnya dengan sesama tersimpan kehangatan tersendiri”, ucap Tari dengan malu-malu.
“Berbicara kehangatan, apakah kamu menginginkan sekarang istriku”. Tangan Randi mulai membelai wajah Tari.
Sedang Tari merasa terjebak sendiri dengan ucapannya.
“Astaga aku ngomong apa sih tadi”, ucapnya dalam hati dengan menggaru-garuk kerudungnya yang sama sekali tak gatal.
“Hemm, kamu lucu sekali sih, baru gitu saja sudah merah padam kalau begini kan jadi makin cinta aku”.
Randi melingkarkan tangannya di pinggang istrinya yang ramping, membuat gejolak di antara mereka kian membara.
Rasa sentuhan yang tak pernah Tari rasakan sebelumnya.
Mereka saling berhadapan bahkan cukup dekat satu sama lainnya. Randi semakin mendekatkan wajahnya, mendekat dan cukup dekat sekali, reflek membuat Tari memejamkan matanya seakan mengerti apa yang di inginkan oleh sang suami.
Cup.
Sebuah kecupan singkat namun cukup membuat tubuh keduanya saling bergetar hebat. Untuk Tari ini adalah hal pertama yang dia rasakan, ada sensasi tersendiri kala bibir mereka saling menempel satu sama lain. Bagi Randi meskipun ini bukan yang pertama tapi rasanya terasa sangat berbeda. Lebih nikmat mungin karena dalam naungan ikatan yang halal.
“Apa yang Mas Randi inginkan dariku?”. Suara Tari bergetar kala mengutarakan kalimat tersebut.
“Kita jadikan cinta kita”.
Dan terjadilah sesuatu yang harus terjadi di antara pasangan suami dan istri
***
Rumah Ibu.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Pakde sudah datang ke rumah Ibu, kali ini pakde mencari Randi, dengan sangat terpaksa Ibu memberanikan diri untuk memanggil Randi yang masih berada di dalam kamarnya.
“Tar, Tari kamu sudah bangun nak?”. Dengan pelan ibu mengetuk pintu kamar sang anak.
“Sudah Bu””, jawabnya dari dalam kamar.
Sebenarnya Tari dan Randi sudah terbangun bahkan sebelum waktu sholat subuh tadi, keduanya saling membersihkan diri terlebih dahulu satu sama lain sebelum penghuni rumah lainya terbangun. Namun setelah melaksanakan sholat subuh keduanya tertarik kembali untuk mengulang aktivitas olah raga tersebut, sehingga masih enggan untuk keluar kamar.
Tari dengan langah tertatih membuka pintu kamar tersebut, sedang Randi duduk di meja rias sambil membereskan rambutnya.
“Ada apa Bu?”.
“Pakde nyari Randi, tuh di tunggu di ruang tamu”. Ibu kembali menjalankan aktivitasnya menuju dapur untuk menyiapkan makanan pagi itu.
“Pak, eh mas di tunggu Pakde Dar di ruang tamu”.
__ADS_1
“Awas ya kalau panggil Pak lagi, akan aku beri kamu hukuman”. Jawab Randi dengan menoel lembut hidung sang istri.
“Hukuman apa Pak? Ehh Mas?” Tari menutup mulutnya sekaan mengucapkan sebuah kesalahan besar.
“Hukuman yang membuatmu melayang-layang”. Bisik Randi tepat di daun telinga Tari, tak lupa dengan sedikit menggigitnya.
“Astaga kenapa nih orang jadi buas sekali, ucap Tari dalam hati setelah Randi keluar menuju ruang tamu.
Meskipun keduanya menikah tidak melalui jalur pacaran seperti pada umumnya, namun keduanya dapat dengan mudah menyesuaikan sikap satu sama lainnya, seakan semua sudah klop begitu saja. Bahkan Tari dengan suka rela menyerahkan tubuhnya untuk sang suami saat hari itu juga tanpa ada drama sandiwara di antara mereka.
Selain sudah menjadi sebuah kewajiban bagi seorang istri, rasa cinta juga sepertinya sudah mulai tumbuh di antara keduanya.
“Ada apa Pakde?. Tanya Randi yang duduk di kursi sebelah Pakde Dar.
“Nak Randi dapat cuti liburan berapa hari?”.
“Satu minggu Pakde, terhitung dari tiga hari yang lalu sebelum acara akad nikah”.
“Begini nak Randi, sebaiknya sebelum liburan cuti habis sebaiknya jalan-jalan dulu menikmati hari libur yang ada”.
“Benar Pakde, kami berdua memang berencana untuk liburan sebelum saya kembali bekerja”.
“Aturan dalam keluarga kami nak Randi, jika liburan tidak boleh berlibur sendiri”.
“Lantas Pakde?”.
“Bersama maksudnya?”. Randi sedikit mengerutkan keningnya mencoba mencerna setiap kata yang di ucapkan Pakde barunya tersebut.
“Ya kita liburan bersama, bersama semua keluarga dengan mengajak keluarga lengkap Tari termasuk Pakde, Bude beserta anak-anak”.
“Oh begitu ya Pakde”.
Randi tampak menimbang-nimbang permintaan Pakde, rasanya tak enak sekali jika harus menolak, baru beberapa hari juga menjadi saudara masak sudah memberikan kesan yang buruk pikir Randi.
“Baiklah Pakde kalau begitu, baiknya kira-kira kemana?”.
“Kalau menurut Pakde, sebaiknya ke Trawas saja, nanti kita menyewa vila di sana, malamnya kita bisa makan-makan bersama untuk mempererat persaudaraan”.
“Oh begitu ya Pakde baiklah, saya dan Tari lekas bersiap-siap nanti kiranya sehabis Zuhur mari kita berangkat”.
“Ok”. Pakde pulang dengan senyum penuh kemenangan.
Sementara Randi lekas masuk kembali ke kamar dan mengatakan pada Tari apa yang baru saja menjadi kesepakatannya dengan Pakde Dar. Randi menceriakan detail rencana yang di harapkan Pakde dapat mempererat tali persaudaraan tersebut.
“Astaghfirullah Mas, ya mana ada orang honeymoon bawa pasukan sekampung”. Keluh Tari begitu kesalnya dengan usulan yang di ajukan Pakde Dar.
Tari menyadari jika Randi tentu tidak berani menolak untuk saat ini.
__ADS_1
Ibu yang mengetahui kabar tersebut turut mengelus dada, mendengar permintaan ajaib dari saudaranya tersebut.
“Kalian berdua yang sabar ya”.
Sementara itu di rumah Pakde Dar sedang di sibukkan dengan acara persiapan jalan-jalan mereka ke Trawas, mereka membawa baju dan beberapa perlengkapan penunjang gaya yang luar biasa banyaknya.
Sesuai dengan rencana, ba’da Zhuhur semua anggota keluarga sudah bersiap untuk berangkat menuju Trawas. Rombongan keluarga terdiri dari dua mobil. Mobil satu yang di kendarai Randi berikut istri, Ipul dan mertuanya sedangkan mobil dua di kendarai oleh Udin beserta rombongan penjajah lainnya.
Ibu membawa bahan makanan cukup banyak, berikut jajan-jajan kering sisa hajatan dengan harapan agar tidak terlalu banyak membebani Randi nantinya.
Perjalanan baru setengah jam dimulai, berhentilah mobil Randi di salah satu SPBU untuk mengisi bahan bakar kendaraanya yang kemudian di ikuti oleh Udin.
Udin turut serta mengisi bahan bakar mobilnya.
“Full mas”.
Dengan sigap petugas SPBU lekas melayaninya.
“450 ribu mas”. Ucap petugas SPBU tesebut.
Udin lekas melangkah menuju mobil Randi dan mengetuk kaca mobil tersebut.
“450 isi bahan bakar”. tangannya menengadah ke arah Randi.
Menyadari hal itu, Randi lekas merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang warna merah kemudian menyerahkan pada Udin.
“Maafkan keluarga Ibu ya nak Randi”. Ucap Ibu kembali merasa tak enak dengan menantunya yang baru beberapa jam saja menjadi anggota keluarga tersebut.
Randi hanya tersenyum pada Ibu, dan menggenggam tangan Tari dengan erat.
“Gak papa sayang”.
Sungguh Tari berada dalam posisi yang sangat tidak enak.
“Akankah Randi akan kuat dengan tingkah keluarga Tari?”.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like komen vote nya kakak .
__ADS_1