Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Dukungan Ibu


__ADS_3

“Apakah kamu mengizinkan untuk itu?”


“Hem. Aku tidak memaksa Tar, aku akan menunggu sampai Risma pun siap untuk itu. Tapi


besar harapanku untuk bisa mempertemukan Risma dengan keluarga besar ku nantinya”


Diam.


Untuk sesaat Tari, masih diam tak menjawab. Tatapannya fokus pada padatnya jalanan


pagi itu. Ia bahkan berpaling ke sisi kiri jendela mobil, menghitung deretan pohon yang telah mereka lalui sepanjang perjalanan.


“Aku tahu kamu butuh waktu untuk itu”


Rama kembali mengutarakan maksud hatinya.


“Apakah Mas Rama akan mengambil Risma dariku?”


Tari tak berani untuk menatap lawan bicaranya, sudut matanya mulai berair. Membayangkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Bayang-bayang perpisahan antara dia dan Risma terlihat nyata di depan mata.


Rama bimbang, di satu sisi ia ingin sekali untuk membersamai tumbuh kembang anaknya.


Di lain sisi terlalu egois jika harus memisahkan keduanya. Bagaimanapun juga Tari begitu berjasa besar dalam hidup Risma. Wanita itu telah merawat dan membesarkan anaknya dengan kasih sayang dan cinta yang maksimal. Ia terdiam untuk sesaat, mencoba untuk mengambil solusi yang terbaik di antara mereka.


“Benar bukan? Kamu akan mengambil dia dariku?” kali ini nada bicara Tari mulai


berbeda, sedikit bergetar seakan sedang menahan sesak di dadanya.


Rama menoleh sekilas pada wanita yang duduk di sampingnya. Satu tangannya ingin menyentuh tangan Tari, namun ia urungkan. Rama tak mempunyai keberanian untuk itu.


“Aku tidak akan mengambil Risma darimu Tar, dia akan tetap menjadi anakmu. Saat ini dan sampai nanti”


Di persimpangan jalan, terdapat pohon beringin yang besar. Kawasan jalanan terbilang sedikit lenggang dan sudah keluar dari zona macetnya. Terdapat beberapa pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam jajanan, minuman maupun makanan berat. Rama memutuskan untuk menepikan mobilnya dalam jarak yang aman. Sementara Risma, gadis kecil yang sedang menjadi perdebatan itu sedang tertidur dengan pulasnya di bagian jok belakang. Ia memeluk boneka barbie kesayangannya.


“Lantas?”


“Sungguh Tar, aku tidak berniat untuk mengambil Risma darimu. Justru aku ingin berterima kasih yang sebesar-besarnya atas jasamu selama ini, yang tiada terkira nilainya pada anakku. Jika tidak keberatan aku ingin turut mengasuh bersama anakku”


“Mas Rama boleh membawa Risma kapan saja yang mas mau. Tapi tolong jangan lupa


kembalikan padaku. Dia sudah seperti anakku sendiri mas. Sebagian dari nyawaku ada di sana. Aku tidak bisa jika harus kehilangan dia”


“Aku tidak akan mengambil dia darimu, percayalah”


Keduanya memberanikan diri untuk saling menatap. Dalam beberapa saat, tatapan mereka


saling mengunci satu sama lain. Seakan sedang menyelami apa yang ada di hati masing-masing. Rama terbawa suasana, tangannya terulur hendak menyentuh tangan Tari yang kini sedang berada di sebelahnya.


“Ayah, Bunda apa kita sudah sampai?”


Pandangan mata mereka terputus saat mendengar suara Risma yang tiba-tiba bangun dari tidurnya. Sontak keduanya gelagapan dan saling membuang pandangannya.


“Ah belum nak, sebentar lagi. Tidurlah nanti akan Ayah bangunkan saat sudah sampai


di rumah”


“Baiklah kalau begitu” Risma memilih untuk kembali menyandarkan punggungnya di belakang, satu tangannya kembali memeluk boneka kesayangannya.


“Tenang ya, aku janji tidak akan mengusik kebahagian dan kebersamaan dengan Risma.


Jika kamu mengizinkan aku ingin menggenapi kebahagian itu”


Deg...


.


.


.

__ADS_1


.


Rumah sakit


Waktu menunjukan pukul sepuluh pagi. Matahari sudah mulai berdiri menuju singgasananya. Randi baru saja membersihkan Bu Srining, memberikan makan dan menjalankan prosedur terapi sesuai ketentuan. Hari ini Bu Srining waktunya untuk belajar berjalan mandiri bersama keluarga dan kerabat yang mengunjunginya. Nanti pukul 16.00 akan ada jadwal bersama Dokter Rama.


“Mama, mau belajar jalan ke mana?”


“Ri...” jawabnya dengan kesusahan.


“Mama mau ketemu Tari dan Risma?”


Beliau menganggukkan kepalanya dengan pelan. Sejak pertemuannya dengan Tari beberapa


waktu yang lalu, ia belum sempat untuk berbicara dan meminta maaf pada mantan menantunya. Bu Marni secara halus telah mengusir keberadaanya.


“Kita naik kursi roda saja ya Ma. Kalua jalan terlalu jauh untuk jangkauan Mama”


“Ja lan sa ja” jawabnya kembali dengan terlatih.


“Jauh ma”


Bu Srining menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ia ingin berjalan menuju kamar Risma, ingin menunjukan pada Tari kesungguhannya untuk meminta maaf. Ia juga berharap Tari, akan berbelas asih ketika melihatnya dalam kondisi demikian.


Dengan cukup telaten, Randi membantu Mamanya untuk berjalan menuju kamar Risma. Ia


menggandeng dan sesekali menjadi tameng ketika Bu Srining hendak terjatuh tak bisa menjaga keseimbangannya. Cukup lama perjalanan mereka untuk sampai ke tempat tujuan. Meskipun kamar rawat Risma dan Bu Srining sebenarnya tidaklah terlalu jauh.


Tok..tok...


Randi pengetuk pintu dengan pelan “kenapa sepi sekali? Tirainya juga tertutup” mata Randi memindai sekitar ruangan. Ia membantu sang Mama untuk duduk di kursi tunggu. Sementara Randi mencari informasi keberadaan Risma dan Tari.


“Sus, pasien yang ada di kamar ini kemana?”


“Oh pasien atas nama anak Risma?”


“Iya betul”


“Pulang?”


“Betul pak”


“Apakah suster tau mereka pulang ke mana?”


“Wah mohon maaf pak, saya tidak tahu. Itu semua di luar tugas saja di sini”


Randi Mengangguk-angguk mengerti.


“Trimakasih sus”


“Ri ri ri”


Randi berjongkok di hadapan sang ibu, matanya menatap dalam. Jemarinya menyentuh


tangan Bu Srining dengan lembut. Randi masih seperti dulu. Ia adalah anak yang patuh dan berbakti pada orang tuanya. Terlepas apapun kesalahan orang tuanya ia masih sangat mencintai ibunya tanpa syarat.


“Mama, maaf tapi Tari dan Risma sudah pulang”


“Cari” mata Bu Srining berkaca-kaca mendengar jawaban itu.


“Baik Ma, nanti akan Randi cari keberadaan mereka”


“Sekarang”


“Tapi Mama tidak ada temannya nanti”


“Pergilah!, kejar bahagiamu” Bu srining mengatakan semuanya dengan terlatih dan tak begitu jelas.


*****

__ADS_1


Rumah Tari.


Deru suara kendaraan mulai memasuki pekarangan rumah Bu Marni, ia dengan begitu


sigapnya lekas membukakan pintu menyambut kedatangan Tari berikut yang lainnya. Kabar tentang Rama dan Risma sudah sampai di telinganya. Ini membawa angin segar untuk misi perjodohan yang sedang di rancang Bu Marni. Ia semakin yakin dan tanpa ragu untuk segera mempersatukan mereka.


“Ayah jangan pulang dulu ya, temani aku main di sini”


“Baik


princes, ayah akan temani kamu”


“Sampai nanti malam ya Yah, bila perlu Ayah tidur di sini juga sama kita”


“Risma sayang, ayahnya kan mau kerja juga nanti sore”


“Tapi kan bisa pulang ke sini Bun?


“Hem, tidak boleh sayang”


“Iya betul Risma. Ayah tidak boleh tinggal bersama kita di sini, kecuali” bu Marni


menjeda ucapnya dengan tersenyum jahil.


“Kecuali apa Nek?” Risma memandang neneknya, menunggu kelanjutan kata tersebut dengan


resah.


“Kecuali Ayah dan Bunda kamu mau menikah. Mereka akan bisa tinggal bersama denganmu”


Deg


Rama dan Tari gelagapan dan salah tingkah sendiri mendengar guyonan Bu Marni. Tari


memilih untuk bangkit dari duduknya dan melenggang ke belakang.


“Menikah itu apa nek?” ia bertanya dengan polosnya.


“Ah sudahlah, kamu terlalu kecil untuk mengetahui hal itu”


“Sedang saya usahakan Bu, untuk meluluhkan hati putri Ibu, saya mohon ridho dan


dukungannya’ jawab Rama dengan terang-terangan di hadapan Ibu Tari.


Uhuk...uhuk...


Tari yang sedang minum teh di ruang tengah pun  tersedak saat itu juga. Ia tak menyangka jika Rama benar-benar dengan


ucapannya beberapa waktu yang lalu.


“Ah tenang saja untuk itu, ibu dukung kalian lebih dari seribu persen”


Rama bernafas lega mendengar jawaban Ibu Tari, ia seakan mendapat lampu hijau untuk hubungan ke depannya, meskipun Tari sendiri belum memberikan jawaban akan hal itu.


.


.


.


Randi yang mendapat perintah dari Bu Srining lekas berangkat mencari rumah Tari saat itu juga, ia menitipkan sang Ibu pada petugas rumah sakit untuk membantu menjaga Mamanya serta melayani jika membutuhkan sesuatu. Berbekal alamat yang di berikan dari pihak rumah sakit, ia lekas melesat untuk menuju ke rumah mantan istrinya.


Randi tak gentar, berkali-kali Tari menolaknya tapi ia tetap akan datang sampai wanita itu mau kembali padanya.


Tak terlalu lama Randi, sudah bisa sampai di kediaman Tari, namun sesampainya di


sana ia harus kecewa lantaran ada lelaki yang sudah lebih dulu singgah di rumah


itu.

__ADS_1


“Jadi dia yang membuatmu tak mau kembali denganku Tar, baik aku dan dia akan bersaing secara sehat untuk memperebutkan hatimu kembali”


__ADS_2