Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
MAAF


__ADS_3

“Waalaikumsalam Mas hati-hati”.


Tiga puluh menit kemudian Tari masih menunggu kepulangan suaminya untuk makan malam bersama. Beberapa kali mbak ART di rumah memanggilnya untuk makan bersama, karena mertuanya sudah menunggu di meja makan sejak tadi. Merasa tak enak membuat mertuanya menunggu terlalu lama akhirnya Tari turun dan turut bergabung untuk makan bersama di sana.


“Sudah makan saja dulu Nduk, Randi hanya pergi sebentar saja ada urusan yang harus dia selesaikan”, perintah Mama dengan memegang tangan Tari seakan mengerti jika ia sedang gelisah malam itu.


Tari mulai meraih piring yang ada didepannya, mengisi dengan menu yang terhidang di atas meja, mencoba menikmati makanan yang ada meskipun pikirannya menerka-nerka kemana perginya mas Randi.


“Nduk bagaimana laundry?”, suara Papa membuyarkan lamunan Tari kala makan dari tadi dengan tatapan kosong dan enggan untuk memasukan makanannya ke dalam mulut.


“Eh iya Pa, laundry aman, customernya semakin banyak saat ini untuk soal harga kemarin mas Randi menyarankan mengadakan promo setiap mencuci dan setrika lebih dari sepuluh kilo akan mendapat potongan harga tiga ribu”.


Papa mengangguk-angguk seakan setuju dengan rencana Randi.


“Kita juga akan meningkatkan pelayanan berupa antar dan jemput pakaian, untuk mengatasi kelonjakan customer ini, mas Randi akan menambah beberapa tenaga kerja bagian mengambil dan mengantar baju”.


“Bagu-bagus nak, kalian berdua memang luar biasa. Pasangan yang sangat serasi sama-sama kompak membangun bisnis, pemikirannya slalu diliputi hal-hal baru”, Puji Papa pada Tari.


“Iya dong Pa, serasi dan panutan sekali mana cantik dan rajin pula. Menantu siapa coba?”, kini Mama menambahkan ucapan Papa.


“Jawab dong Tar”, Ibu kembali melempar perkataannya.


“Saya harus jawab seperti apa bu?”, Tari tersenyum pada kedua mertuanya sungguh sangat beruntung menjadi bagian dari keluarga ini yang menyayangi dengan sepenuh hati.


Mereka kembali melanjutkan makan malam, dengan perasaan Tari yang sudah mulai membaik karena ucapan Mama Papa mertuanya.


***


Rumah Sakit


Sementara itu di rumah sakit Randi sedang tertunduk lesu dengan wajah yang pucat dan tubuh bergetar kala mendengar penuturan sang dokter yang ada di depannya.


“Kandungan bu Mawar sangat lemah, memasuki usia tujuh minggu sangat rawan sebaiknya bu Mawar istirahat total di rumah atau di rawat di rumah sakit untuk beberapa hari ke depan, saya akan memantau kondisinya sampai benar-benar stabil”.


“Saya juga akan meresepkan beberapa vitamin penguat kandungan untuk bu Mawar, dan yang paling utama Bu Mawar tidak boleh stres dukungan dari keluarga sangat membantu moodnya membaik dan perkembangan janin nya”. Ucap dokter laki-laki di depannya.


Randi tidak bergeming, tak memberikan jawaban sedikitpun atas penjelasan dokter juga tak menanyakan prihal apapun itu. Sudut matanya mengembun.

__ADS_1


“Baik dokter trimakasih, kami permisi”, jawab Mawar pada dokter yang ada di depannya dan menarik tangan Randi untuk membawanya keluar ruangan.


Mawar memandang wajah Randi yang begitu sulit di artikan, tidak ada perasaan bahagia yang hinggap di wajahnya ketika mendengar kehamilan pertama istri keduanya tersebut.


Mulutnya memberanikan diri untuk membuka suara di tengah keheningan mereka berdua yang sedang duduk di lorong rumah sakit.


Dingin.


Benar-benar dingin suasana malam rumah sakit itu di tambah perlakuan Randi padanya yang semakin membuat malam mencekam.


“Kamu tidak suka mas aku hamil”, ucapnya lirih tanpa berani memandang wajah Randi, ia lebih memilih menundukkan kepalanya dan meremas surat pemerikasaan tersebut.


Diam


Randi memilih untuk diam tak memberikan reaksi.


"Aku sedang berbicara denganmu. Apakah kamu tidak suka dengan kehadiran anak ini mas?"


"Aku sudah punya anak"


“Sama saja itu juga anakku, dengan atau tanpa anak , aku dan Tari sudah lebih dari bahagia Mawar. Jadi mengertilah!”.


Randi beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kaki meninggalkan Mawar.


Suara lantang Mawar kembali memberhentikan langkah Randi.


“Tapi ini anakmu Mas, anak kandungmu mu. Aku juga istrimu aku berhak mendapat kasih sayang yang sama dengan Tari. Kita sama-sama istrimu.Pernikahan kita bahkan sah secara agama dan di saksikan banyak orang", ucapnya dengan lantang dan tangis yang sudah berderai-derai.


Randi tak bergeming dia hanya menghentikan langkahnya sesaat kemudian melanjutkan kembali tanpa berbalik dan memperdulikan Mawar yang masih meraung-raung.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Randi menangis. Menangis menyesali perbuatannya yang telah sengaja menduakan Tari menatap dengan lekat wajah cantik istrinya yang terpajang di layar ponselnya.


“Maaf...maaf...maaf....sayang”. Suatu kalimat yang tak henti-hentinya ia ucapkan.


Randi memeluk dirinya sendiri, mengutuk kebodohannya yang bertindak begitu ceroboh.


“Ya Allah bagaimana aku menjalani kehidupan selanjutnya?”, ucapnya dalam hati, sesekali memukul-mukul dadanya teramat sangat nyeri.

__ADS_1


“Aku yang berkhianat, aku pula yang merasakan kesakitan, jika sakit yang kurasa sudah seperti ini. Lantas bagaimana sakit yang akan di rasakan Tari nanti kala mengetahui fakta yang ada?”. Randi kembali menangis sesekali membantingkan kepalnya di atas setir mobilnya.


Jika setiap orang akan bahagia dengan kehadiran buah hati pertama mereka, mengapa tidak dengan Randi. Randi diliputi rasa penyesalan dan rasa bersalah yang tiada habisnya.


Tari....


Tari...


Hanya satu nama yang ada di di hati Randi saat ini dan sampai kapanpun tak akan pernah tergeser dan terganti dengan yang lainnya.


***


Sesampainya di rumah Randi lekas mengusap sisa-sisa air mata yang ada di wajahnya. Mencoba menetralkan semua rasa yang ada. Menarik dalam-dalam udara yang ada di sekitar kemudian menghembuskan dengan kasar. Randi memastikan jika langkahnya sudah tenang tidak bergetar.


Randi lekas menuju kamarnya yang ada di lantai dua tanpa mempedulikan orang tuanya yang sedang melihat TV di ruang tengah malam itu. Tak ada ucapan salam yang di lontarkan, ia berlalu begitu saja melewati kedua orang tuanya.


Mama Papa hanya melirik dengan mulut yang terbuka, karena tak biasanya Randi bertindak semacam ini pada mereka.


Di dalam kamar Randi lekas memeluk istrinya dari belakang dengan cukup erat, kala itu Tari sedang bersiap untuk menutup korden kamar mereka.


“Mas kamu kenapa?”, tanya Tar dengan begitu lembut.


“Aku kangen kamu sayang”, jawabnya dengan semakin mengencangkan pelukannya di pinggang sang istri.


“Bukankah setiap hari kita slalu bersama mas", Tari di buat bingung dengan sikap suaminya.


“Aku sangat lelah sayang, aku merindukanmu, sungguh aku sangat merindukanmu" ucapnya dengan sendu.Ia masih dalam posisi yang sama memeluk Tari dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di sana.


“Berjanjilah satu hal sayang padaku”.


“Apa mas?”.


“Tetaplah berada di sampingku dengan apa pun yang akan terjadi”.


Tari semakin bingung di buatnya dengan sikap Randi yang seperti ini.


"Apa sih mas gak jelas" desis Tari penuh tanya.

__ADS_1


__ADS_2