Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Ibu Dan Anak


__ADS_3

"Terimakasih Ma, atas segala yang Mama berikan" tukas Randi, ia menatap wanita yang begitu ia cintai dengan getir. Sungguh ia tak mengenal Ibunya sendiri. Wanita pemaksa kehendak atas nama balas budi keluarga. Luka tamparan itu tidak terlalu sakit, justru luka karena perlakuan Mamanya yang membuat hatinya menganga"


“Randi!!! Sampai kapan kamu akan bersikap kasar pada Mawar? apa kamu lupa jika dia juga istrimu"


“Mama tidak menuntut kamu untuk bisa mencintai Mawar, tapi setidaknya kamu perlakukan Mawar dengan baik seperti kamu memperlakukan Tari”.


“Mulai sekarang dan sampai kapanpun Mawar Mawangi menantu Mama, dan cucu-cucu Mama, akan tinggal di sini, toh Bethari juga tidak akan pernah lagi kembali ke sini. Intonasi nada bicara Bu Srining, meninggi, matanya melotot sempurna.


Randi hanya tersenyum kecut mendengar penuturan Ibu, yang telah melahirkannya.


“Belajarlah untuk menerima kehadiran Mawar, sayangi dia, jadilah suami yang baik untuknya dan ayah yang baik untuk anakmu”. Bu Srining kembali berbicara, dengan sorot mata yang tajam.


“Aku bukan suami yang baik, aku juga bukan anak yang baik untuk mama. Mama tahu akan hal itu, aku tidak bisa dan tolong jangan memaksaku. Aku tidak peduli lagi dengan Mawar sungguh aku tak bisa dan jangan memaksa untuk terus menuruti setiap perintah Mama"


“Randi!!! jaga ucapanmu. Apa kamu ingin menjadi anak yang durhaka pada Ibumu? Heh!!!”.


“Jadi seperti ini caramu membalas bakti pada orang yang telah membesarkan dengan segala cinta dan kasih sayangnya, dengan segala kecukupan materi yang ada. Orang yang telah memberikanmu kehidupan!!!. Teriak Bu Srining dengan cukup lantang.


“Benar, Mama memang orang yang telah memberikanku kehidupan di dunia ini, tapi jangan lupa Mama, juga yang telah menghancurkan kehidupanku saat ini”. Jawab Randi dengan dingin.


“Randi!!!”.


“Mama tidak pernah mengajarimu untuk berkata kasar. Mama tidak pernah memintamu apa-apa, Mama cuma mau kamu berbakti pada Mama!!!”. Tukasnya kembali dengan mata yang benar-benar memerah melotot sempurna, seakan hendak keluar dari lubangnya.

__ADS_1


“Baiklah, jika dengan menikahi Mawar adalah sebagai bentuk baktiku pada Mama akan aku lakukan, jika dengan menceraikan Tari adalah wujud dari cinta dan bakti yang Mama harapkan maka akan aku lakukan, seperti harapan Mama. Jadi bagaimana apa sekarang Mama sudah bahagia?, memiliki anak yang sangat berbakti pada orang tuanya?. Semoga Mama slalu bahagia, karena sesungguhnya aku sangat mencintai dan menghormati Mama”.


“Apapun akan aku lakukan, apapun akan aku korbankan asalkan Mamaku, Bu Srining, dapat meraih bahagianya atas apa yang ia inginkannya!!!”.


Desis Randi dengan menahan segala gemuruh rasa di dada, ia seakan kehilangan cara untuk berbuat baik pada orang tuanya, benar Randi terlanjur kesal dengan keadaan yang ada.


Kini Randi pergi berlalu, melangkahkan kaki meninggalkan taman rumahnya, tanpa menatap dua wanita yang ada di depannya.


Mawar menangis, melihat pertengkaran antara Ibu dan anak yang terpampang nyata tepat di hadapannya. Hatinya turut merasakan sesak, harusnya kehadirannya bisa membawa bahagia dalam keluarga ini, bukan membawa petaka seperti saat ini.


“Ma, aku takut”, desisnya lirih dengan satu tangannya memegang tangan Bu Srining.


“Sudah, jangan di pikirkan. Randi sebenarnya adalah anak yang baik, aku yakin ini hanya sementara. Ia pasti akan berubah seiring berjalannya waktu" Jawab Bu Srining, mencoba menenangkan.


“Bagaimana kalau Mas Randi, tetap tidak menerima kehadiranku Ma?”.


“Tetaplah di sini sampai kapanpun, kamu adalah istrinya Randi yang sah, berusahalah lebih keras lagi untuk meluruhkan hatinya”.


“Ma sebaik apa Mbak Tari dalam keluara ini? Apa jika mbk Tari dapat memberikan anak untuk mas Randi, Mama akan kembali menerimanya di sini?”. Mawar menundukkan kepalanya, hatinya berdebar, menunggu jawaban dari mertuanya.


“Sebenarnya Tari, anak yang baik. Ia baik dalam segala hal, ia juga sholeha. Tari begitu menghormati aku dan Papanya Randi, ia juga sangat mencintai Randi, aku juga sedih kehilangan dia, tapi sayang ia mandul tidak bisa memiliki anak”. Bu Srining menjeda ucapannya.


“Lalu Ma”,

__ADS_1


“Dalam hidup di dunia ini harus ada yang berkorban dan di korbankan Mawar, mungkin saat ini yang terbaik untuk Tari dan Randi adalah seperti ini. Mungkin jodoh mereka hanya sampai di sini”.


“Sudah, jangan di pikirkan sebaiknya kita makan dulu. Kasihan cucu Mama yang di sini”. Tangan Bu Srining, terulur menyentuh perut buncit Mawar, yang berada di balik balutan daster warna merah Marun.


Denggg.


Satu tendangan kecil berasal dari perut Mawar, hingga membuat tangan Bu Srining bergetar.


“Masayallah, cucuku”.


“Lihatlah dia bergerak, dia menyapa neneknya”, seketika wajah redup Bu Srining, berubah menjadi ceria, seakan seperti ada pelangi sehabis hujan.


Mawar pun demikian, sudut bibirnya terangkat membentuk lengkung ke atas. Seketika hatinya menghangat sedikit, meski tidak bisa di pungkiri ia begitu ketakutan dengan segala kemungkinan yang terjadi.


Masih dalam rumah yang sama, Randi masuk ke dalam kamar, dengan membanting pintunya cukup keras, hingga suaranya dapat terdengar di lantai bawah. Ia menarik seprei dan selimut yang ada di kamarnya. Mengacak-acak isi kamar itu. Mencari segala sesuatu yang berhubungan dengan istrinya, ia mencari sisa-sisa bau yang di tinggalkan oleh Tari.


Bahkan Randi, tidak memperkenankan ART dalam rumahnya untuk mencuci baju-baju terakhir yang digunakan Tari selama di sana. Ia mengambil Tas Tari, mendekapnya dengan buliran air mata. Mencium lembut sisa-sisa baju yang ada, seakan sedang mencium istrinya.


 “Ya Allah mengapa engkau menakdirkan kisah cintaku dan Tari, hanya sampai di sini?, Ya Allah, engkau tahu, aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitinya, tapi mengapa engkau tega mengambil hartaku yang paling berharga di dunia ini”. Rintihnya kembali dengan mengiba.


Sejak kepergian Tari dari rumah, Randi tidak lagi bekerja di kantor. Ia meninggalkan kantor tanpa sebuah pemberitahuan apapun. Ia melepas tanggung jawab begitu saja. Hatinya yang rapuh membuat tubuhnya tak dapat melakukan apa-apa.


“Lihat saja kamu Mawar, sampai kapan kamu akan bertahan dalam pernikahan ini, jika aku sudah tidak memiliki apa-apa, apa kamu akan rela tetap menjadi istriku”. Desisnya kembali, kala mengingat setiap kata yang terlontar dari mulut Mawar dan Ibunya.

__ADS_1


Pak Nario, kembali melewati lorong kamar anaknya, ia menatap nanar Randi, yang sedang remuk tak berdaya. Rasa sesal kembali menghampirinya, ia merasa telah menjadi seorang yang gagal, dalam menjalankan tugasnya sebagai kepala keluarga.


Ia terdiam di balik pintu kamar anaknya, tak berani untuk mendekat ataupun memberikan semangat. Di sadari atau tidak, ia turut andil dalam kehancuran rumah tangga anaknya.


__ADS_2