
Hati Mawar begitu sakit seperti tertusuk benda yang sangat tajam mendengar penuturan kata yang terlontar dari mulut sang suami. Air mata meluncur begitu saja dari pipinya tanpa permisi.
“Apa cerai? Setelah apa yang aku lakukan untukmu Mas?”.
“Enak saja kamu berbicara, setelah apa yang terjadi di antara kita? setelah aku mengandung anakmu begitu. Kamu manusia apa iblis? kenapa jahat sekali saat berucap bahkan pada wanita yang bergelar istrimu"
"Kamu boleh mengatakan apa pun itu tentangku Mawar. Aku memang salah telah menjadikanmu istriku. Oleh sebab itu aku ingin kita berpisah. Aku rasa dengan berpisah adalah jalan terbaik untuk hubungan yang tak sehat semacam ini"
“Lantas kenapa kamu menginginkan kita berpisah?”.
“Mas kita sudah jauh melangkah, aku sedang hamil dan pernikahan kita sah meskipun itu hanya di mata agama. Tapi anak ini berhak atas dirimu"
“Aku tidak mau untuk berpisah Mas, tolong hentikan omong kosong mu itu. Masib anak ini sedang di pertarungan di masa depan jika orang tuanya tak lengkap"
Mawar berteriak kembali dengan begitu kerasnya seolah ingin menunjukan pada semua orang yang ada di sana jika ia adalah istri sah Randi Yulidar pemilik laundry tempat mereka bekerja.
Bruk....
Fitri yang berada di balik pintu itu menjatuhkan sekantong plastik besar yang berisi baju-baju kotor hendak ia laundry kan di tempat Randi.
Randi dan Mawar langsung menoleh ke sumber suara, keduanya lekas menuju balik pintu dan melihat siapa yang ada di sana.
Hati Randi gelisah, ia benar-benar takut akan ada orang yang mengetahui tentang hal ini.
“Fitri”. Ucap Randi dengan dada yang bergemuruh hebat.
Sedang Fitri hanya diam mematung, ia sungguh tak percaya dengan apa yang terjadi di depannya. Sepupu yang menurutnya laki-laki paling setia dan paling baik pada keluarga ternyata bertindak demikian.
“Lantas bagaimana dengan Tari?, apakah dia tahu tentang hal ini?”, ucapnya lirih dengan memberanikan diri menatap mata Randi mencoba mencari kebenaran di sana. Dadanya turut merasakan sesak yang tiada terkira.
“Oh Tari begitu malang sekali nasibmu”. Tari dan Fitri bersahabat sejak kecil, bahkan sejak mereka masih seusia Risma dan Arsy keduanya menjadi sahabat hingga saat ini.
Fitri membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya masih enggan untuk percaya dengan yang di lihat dan di dengarnya.
“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan Fit", desis Randi mencoba memberikan penjelasan pada saudaranya.
__ADS_1
“Lantas seperti apa? Kenyataannya dia hamil anak kamu mas”, tunjuk Fitri dengan mengulurkan tangannya tepat di hadapan Mawar.
“Iya memang benar begitu, aku saat ini sedang hamil”.
“Aku hamil, hamil anak mas Randi”, jawabnya dengan penuh penekanan dan intonasi yang penuh emosi.
“Tega kamu mas Randi mengkhianati Tari, apa kurangnya Tari selama ini?, dia begitu sangat mencintaimu, dia wanita baik-baik dan juga sholeha”. Kini Fitri tak dapat lagi membendung tangisnya, ia turut sakit hati dengan perlakuan Randi pada sahabatnya, bukan tanpa alasan rasa bersalah juga hinggap di hati Fitri karena dialah yang mengenalkan Tari pada Randi dulu hingga keduanya sampai menikah.
“Kurangnya Tari satu dia mandul”.
“Dia tidak bisa memberikan keturunan pada Mas Randi”, ucap Mawar dengan mengejek pada Fitri.
“Diam kamu Mawar”. Bentak Randi.
“Kenapa? Biar semua orang tahu jika Tari adalah wanita mandul”.
“Diam Mawar, aku bilang diam tak ada yang boleh menghina istriku”.
“Kenapa tidak? Faktanya Tari wanita mandul dan tidak bisa memiliki anak”. Mawar kembali mengatakannya dengan sorot mata yang berapi-api seakan menunjukan jika dirinya lebih baik dari Tari karena dapat memberikan anak padanya.
Mawar hanya bisa menangis mendapat bentakan yang cukup keras dari sang suami.
“Kalian berdua JAHAT”. Fitri menunjuk satu persatu raut wajah mereka dan pergi meninggalkan laundry tersebut.
***
Di salah satu mall terbesar di Surabaya Tari sedang menikmati indahnya jalan-jalan sore dengan menggandeng anaknya. Ia tersenyum hangat kala ada Risma yang bergelayutan manja di sisi tangannya. Keduanya menuju Gramedia untuk membeli beberapa perlengkapan sekolah.
Tari memilih beberapa buku untuk Risma belajar di rumah, Risma sudah tertinggal beberapa langkah dengan teman-teman sebayanya untuk mulai belajar mengenal huruf dan juga angka, oleh sebab itu Tari membelikan berbagai macam buku untuknya belajar.
Tari juga membelikan beberapa perlengkapan sekolah yang lain seperti tas, sepatu, pensil dan serangkaian kebutuhan lainnya. Keduanya begitu asyik berbelanja.
Setelah mendapat semua yang dibutuhkan kini keduanya melangkahkan kaki menuju time zone untuk bermain. Ini merupakan pengalaman baru bagi Tari dan juga Risma untuk bermain di sana. Maklum sepanjang hidupnya Tari hidup dalam kekurangan dan tak pernah merasakan bermain semacam ini.
Keduanya begitu menikmati satu persatu wahana yang ada mulai dari menjepit boneka, bermain bola juga berkaraoke ringan di ruang karaoke. Kini Tari merasa menjadi wanita seutuhnya.
__ADS_1
Saat menjepit boneka, beberapa kali Tari mencoba dan slalu saja gagal tidak pas, ia mencoba berulang kali saking penasarannya. Risma yang melihat hal itu pun mencoba melakukan hal yang sama dengan Tari. Jemari-jemari kecilnya mulai meraih tombol untuk penjepit, menggerakkan dengan pelan ke kanan dan ke kiri sesuai dengan target yaang di inginkan lantas menjatuhkan penjepit itu dengan pelan.
Cukup pelan.
Dan pelan sekali.
“Akhirnya dapat”. Teriak keduanya kala mendapatkan satu buah boneka hello Kitty warna putih dan biru dengan ukuran yang cukup besar.
“Wah anak bunda hebat sekali”, puji Tari pada Risma yang sedang loncat-loncat bahagia.
“Trimakasih ya Bun, sudah mengajak Risma ke sini. Aku senang sekali”. Kini gadis kecil itu kembali memeluk Risma.
“Sekarang Risma mau apa?”.
“Aku lapar Bun ingin makan”.
“Mau makan ya? Baiklah kalau begitu lets go kita cari makan”.
Keduanya beranjak dari timezone menuju food cord yang ada di mall tersebut, memilih spt tempat duduk yang paling nyaman dengan pemandangan kota yang indah di balik kaca jendela.
“Risma mau makan apa?’, tangan kecil Risma membolak-balikkan buku menu di sana untuk memilih makanan.
Beberapa menit kemudian ia menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak mengerti makan seperti ini Bun”.
Tari tersenyum mendengar jawaban anaknya.
“Sini biar bunda yang pilih”.
“Bunda, pesan buat ayah juga ya biar nanti ayah ke sini”.
“Wah benar juga ya sayang, sebaiknya kita kabari saja ayah biar ikut ke sini sekalian nanti jalan-jalan lagi”.
Dengan penuh semangat Tari menekan ponselnya menghubungi suaminya.
__ADS_1
📞Calling Mas Randi.