
Sepanjang hari tidak ada aktivitas berlebih yang di lakukan Tari. Ia benar-benar beristirahat dan tidak ke toko. Ia juga menyuruh karyawannya untuk menutup toko lebih awal dari biasanya, sekaligus memberikan waktu bagi pekerjanya untuk beristirahat. Tari sama sekali tidak keluar dari kamarnya, ia sedang melayangkan aksi protes akan tindakan Ibunya tadi pagi.
“Tar, ayolah makan, nanti kamu sakit lo”
“Aku masih kenyang Bu” jawabnya dengan malas, ia masih di dalam kemar merebahkan tubuhnya dan bermain ponsel.
“Tar makan dulu, jangan seperti anak kecil deh. Apa sengaja nih mau sakit yang lebih parah biar bisa di periksa lagi sama Dokter Rama” Goda ibu kembali, ia membawa sepiring nasi dengan kuah soto yang ada di dalam mangkuk.
“Apa’an sih Bu? Jangan gitu dong Aku kan jadi malu”
“Halah, kenapa harus malu udah sama-sama berumur juga. Buruan gih makan dulu. Apa mau
ibu suapin?” tawarnya kemudian, bu Marni duduk di sisi ranjang anaknya meletakan makanan yang di bawanya tadi si meja samping ranjang.
“Aku bisa makan sendiri Bu”
“Bagus, kalau tidak bisa makan sendiri buruan nikah ya nak, biar ada yang perhatian sama kamu. Ibu ini semakin hari semakin tua nak. Ibu takut tidak ada kesempatan untuk melihatmu bahagia”
“Ibu ngomong apa sih?” Tari melirik sekilas Ibunya, jemarinya sibuk memegang sendok
dan mulai memasukan nasi ke dalam mulutnya.
“Ibu sudah tua nak, takut tidak ada waktu untuk melihatmu bahagia”
“Aku sudah bahagia Bu, dengan hidupku sekarang. Aku memiliki Ibu yang begitu menyanyangiku, aku memiliki Risma yang sangat cantik dan baik. Aku juga memiliki Ipul sebagai saudaraku” Hibur Tari pada Ibunya.
“Tapi kamu tidak punya pasangan nak. Bukankah Allah menciptakan setiap hambanya untuk saling berpasangan satu sama lain. Lagian kamu juga masih sangat cantik nak, kamu masih muda. Ibu harap kamu bisa lekas membuka hati untuk pasangan hidup”
“Hem” jawab Tari sekilas, ia masih sibuk mencerna nasi yang ada dalam mangkuknya.
“Jangan seperti itu Tar”
Tari menejda makannya, ia meletakkan kembali sendok dan garpunya di atas mangkuk, wajahnya mendongak menatap sang Ibu.
“Bu maafkan aku, yang belum bisa menuruti keinginan Ibu. Aku masih trauma dengan apa yang sudah pernah terjadi padaku dulu, aku masih belum siap untuk menjalanin sebuah ikatan pernikahan. Rasanya masih terasa Bu sampai saat ini. Di sini, di sini bu begitu perih dan menganga rasanya” Tari menyentuh dadanya
degan tangan, sejuruh kemudian matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis.
“Maafkan Ibu nak, maaf. Bukan maksud ibu untuk membuatmu bersedih. Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu dan Risma” Bu Marni lekas memeluk anaknya, mengusap lembut punggung Tari saat itu.
“Tapi, tidak ada salahnya juga jika kamu mau mencoba untuk membuka hati kembali nak”
ibu tersenyum, mengusap lembut lelehan bening di pipi anaknya.
****
Surabaya
Siang yang terik, ketika mentari tepat berada di atas ubun-ubun. Saat itu, waktu menunjukan pukul satu siang. Seorang wanita dengan rambut panjang yang di kuncir dengan asal sedang membawa sebuah tas besar di tangannya. Tubuhnya kurus dan kering, pakaiannya lusuh dan tak berbentuk motifnya. Ia baru saja keluar dari tahanan. Menghirup panasnya udara yang telah lama ia rindukan.
Benar saja, wanita itu adalah Mawar. Ia baru saja di bebaskan atas tuduhan penipuan yang di lakukannya pada keluarga Randi dulu. Sudah lebih dari tiga tahun, ia mempertanggung jawabkan perbuatannya. Mendekam di penjara tanpa sanak dan saudara yang mengunjunginya.
__ADS_1
Ia berjalan dengan gontai, tatapannya kosong
ketika baru saja melihat dunia luar. Dalam benaknya begitu bingung harus kemana setelah ini? Mengingat ia hidup sebatang kara di kota ini.
Masih di bawah teriknya sinar matahari yang begitu menyengat, ia menyandarkan punggungnya di bawah pohon besar yang ada di taman kota. Matanya memindai sekitar berharap ada sesuatu yang dapat di gunakan untuk mengganjal perutnya sesaat. Ada rasa bahagia ketika bisa keluar dari penjara, namun juga ada rasa sedih ketika tidak ada satu pun yang menyambut kedatangannya. Jangankan
menyambut, tempat untuk berpulang saja tidak ada.
Ia kembali menyandarkan punggungnya menanti seseorang yang berbelas kasih untuk memberinya makan atau minuman. Tangannya memeluk perutnya yang terasa sangat perih menahan lapar tiada terkira.
“Itu ada makanan, iya itu makanan” ucapnya dalam hati ketika melihat seorang anak kecil yang berusia lima tahunan sedang membawa makanan.
“Jangan di buang, itu bisa ku makan” ucapnya kembali dengan lirih, ketika melihat anak
itu menuju tempat sampah hendak membuang makanan. Anak kecil itu tak mendengarnya, ia memasukan begitu saja makan tersebut ke dalam tong sampah.
Mawar melihat sekitar taman, menyadari tak ada satu pun orang yang melihatnya. Ia lekas berlari menuju tong sampah tersebut mengambil sisa makan tadi dan menutupinya dengan daster yang ia gunakan. Dengan secepat kilat ia melancarkan
aksinya, sejurus kemudian ia kembali menyandarkan punggungnya di bawah pohon,
membuka sisa bungkusan kue tersebut dan memakannya dengan rakus. Ia tak peduli
dengan kebersihan atau kehigienisan makan. Saat itu yang terpenting adalah ia bisa makan untuk tetap bertahan hidup.
Setelah menghabiskan sisa kue tersebut, matanya kembali memindai sekitar, ia merasakan
haus yang tiada terkira. Bahkan kerongkongannya terasa seperti sedang di cekik.
Ia berusaha untuk mencari minuman. Meminum dari air kran yang di gunakan untuk
“Aku harus bangkit, aku harus menata kembali hidupku yang baru. Aku tidak boleh
seperti ini terus. Tapi bagaimana aku untuk bisa bertahan hidup di sini, sementara saat ini tak ada bekal sedikitpun yang aku punya? Aku harus kemana setelah ini?” desisnya dalam hati dengan nelangsa.
****
Kembali ke Desa Suka Maju.
Tin..tin..tim...
Tepat pukul empat lebih tiga puluh menit, Risma dan Rama sudah sampai di rumah Tari. Seperti biasah sebelum pulang, Rama akan membelikan beberapa jajanan untuk Risma. Bukan bermaksud untuk memanjakan, hanya saja ia ingin memberikan sesuatu untuk gadis kecil itu.
“Assalamu'alaikum, Bunda aku sudah pulang” ucapnya dengan lantang ketika telah sampai di depan pintu rumah, tangannya menenteng kresek putih berisi makan ringan dan beberapa
macam buah.
“Wassalamualaikum”
jawab Bu Marni kemudian, ia setengah berlari untuk lekas membuka pintu.
“Sudah pulang nak?” Risma mencium tangan neneknya dengan takzim, lantas ia berlari untuk masuk ke dalam rumahnya begitu saja.
__ADS_1
“Trimakasih ya nak Rama atas bantuannya. Mohn maaf ibu banyak merepotkan. Jika nanti malam
tidak sibuk, ibu ingin mengundang nak Rama untuk makan malam bersama kita. Sebagai rasa terimakasih ibu nak?”
“Baik Bu, trimakasih atas undangannya. Saya akan hadir nanti malam” jawabnya dan pamit untuk undur diri.
.
.
.
Sepulangnya Rama dari mengantar Risma, Ibu lekas bersiap untuk memasak, Ia memasak dalam jumlah yang lebih banyak, Ia juga memasak dengan menu yang beraneka ragam
untuk malam itu. Tari yang barus saja keluar dari kamarnya menatap heran.
“Bu kok tumben masaknya banyak sekali? Apa keluarga pakde Dar dan Bude Murni akan
datang ke mari?” tanya Tari dengan resah, ia tak bisa membayangkan jika haru hidup berdampingan kembali dengan keluarga penjajah itu.
“Hus, ngawur saja kamu ini. Memangnya mereka tahu kita sekarang tinggal di sini. Tapi kadang-kadang Ibu juga kangen lo Tar sama mereka. Bagaimana pun juga mereka masih saudara kita”
“Maaf ya Bu, karena aku Ibu harus terpisah dengan saudara-saudara Ibu. Nantilah Bu
jika ada waktu kita berkunjung menjenguk mereka”
“Kamu siap-siap dulu gih, setelah ini akan ada tamu istimewa” terang Bu Marni kemudian.
“Jangan lupa dandan yang cantik”
“Apa’an sih Bu, jangan aneh-aneh deh” Tari tak menuruti perintah Ibunya, alih-alih bersiap untuk mandi ia malah memilih untuk membantu menyiapkan beberapa makanan yang belum jadi.
“Bu ini buah dari siapa?”
“Dari calon menantu ibu dong siapa lagi coba, dia itu tahu kalau kamu butuh vitamin C, makanya beli jeruk segitu banyaknya” terang Ibu kembali menggoda anaknya.
.
.
.
Hiks..hiks...hiks...
Risma duduk termenung di dalam kamarnya, ia
menatap jendela kamar yang terhubung langsung dengan taman. Tubuhnya meringkuk
dan kepalanya di tenggelamkan di atas kepala.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Tari, yang menyadari jika anaknya sedang menangis.
__ADS_1
“Aku beru ingat, jika besok adalah hari Ayah, aku besok tidak mau sekolah ya Bun. Aku kan tidak punya Ayah. Aku tidak mau di ejek temen-teman nantinya”
Deg....