
“Hay...”
Dalam gelapnya malam, tanpa penerang yang berarti, hanya semburat bulan dan bintang yang di balut dengan kelabu nya awan. Malam itu cenderung lebih gelap dari biasanya, terlebih hujan rintik-rintik mengguyur tanpa permisi. Sayup-sayup Tari, mendengar ada seseorang yang memanggil. Spontan membuat matanya mengedar mencari sumber suara tersebut.
“Hay” lagi-lagi suara itu terdengar, jika tadi hanya samar-sama namun tidak dengan sekarang. Suara itu terdengar lebih jelas bahkan cenderung semakin mendekat.
Tari masih dalam posisi yang sama. Matanya menelisik sekitar. “Hah gelap sekali, mana sepi pula. Suara siapa tadi?” tanyanya dengan diri sendiri. Ia mulai menggaruk rambutnya yang terbalut dalam lindungan kerudung warna biru.
“Kok jadi merinding begini” rintihnya kembali dengan mencoba untuk menyalakan motornya.
“Duh, mana sekarang malam jum’at pula. Harusnya aku tak berlama-lama di sini. Toh aku bisa menghitung pengeluaran bulanan ketika di rumah” iya menggerutu menyalahkan diri sendiri yang merasa telah abai.
“Kamu ngapain juga sih rewel segala? Udah tahu yang make janda tak bersuami dan tak punya saudara laki-laki. Pake acara mogok segala”
“Hey...”
Sura itu semakin jelas, layaknya hukum bacaan idhar. Keras bahkan terdengar seperti di belakang ia berdiri,
“Kenapa hanya hay, hay saja? Ini hantu apa orang sih? Kalau hantu kenapa panggil hay-hay saja terus dari tadi?. Mau kenalan apa gimana?” gerutunya kembali dengan di balut rasa kesal yang tiada terkira.
“Tolong dong jangan ganggu saya. Saya ini janda tidak ada yang bisa membantu saja. Jadi jangan ganggu dong. Lagian daging saya juga pahit, sudah beberapa hari ini saya tidak nafsu makan. Tubuh saya hanya tersisa kulit dan tulang. Tolong cari makan yang lain saja, yang lebih segar dan empuk” Jawab Tari, dengan memejamkan matanya. Ia menunduk tak berani menatap sekitar, kakinya sudah gemetaran tiada terkira. Terlebih ia mencium bau harum yang begitu menyeruak dan semakin mendekat.
“Tolong minggir saja sana. Hus...hus....” usirnya kemudian, tanpa berani menengok ke belakang. Satu tangannya mengibas-ngibas ke arah belakang dengan mata yang masih terpejam rapat.
...Allahu laa ilaha illaa huw al-hayyul-qayyum. La ta khuzuhu sinatuw wa la na um. Lahuma fis-samawatu wa ma fil-ard....
Hahahaha....
Terdengar suara seorang laki-laki yang tertawa, ia tertawa dengan begitu ringannya, seolah sedang bahagia sekali malam itu.
“Kamu pikir aku hantu?” ia berbisik tepat di samping telinga Tari, hingga membuat tubuh Tari semakin merinding tiada terkira terlebih malam itu gerimis bercampur dengan angin yang berhembus pelan.
“Minggir...”
“Tolong minggir, daging saya pahit tida enak!” serunya kembali.
__ADS_1
“Hay Tar, buka matamu. Ini aku, lihatlah” Rama kembali bersuara. Ia mengatakan dengan cukup pelan demi untuk mengurangi rasa takut yang mendera lawan bicaranya.
Perlahan Tari mulai membuka matanya. Ia menerjap dengan pelan. Lantunan ayat-ayat al-quran masih tak henti-hentinya keluar dari mulut manisnya.
“Astaga Tari, bukalah matamu. Lihat aku, lihat kakiku masih berpijak di atas tanah. Aku manusia” ia tertawa geli melihat tingkah wanita di depannya.
Mendengar ucapan itu, membuat Tari membuka matanya dengan sempurna. Matanya lekas menelisik seorang yang ada di depan mata.
“Astaga Mas Rama!” Tari membekap mulutnya dengan tangan. Matanya terbelalak kaget dan menahan malu yang tiada terkira malam itu. Ingin rasanya menenggelamkan wajahnya dalam gelapnya malam.
“Jadi, apa masih takut? Tenang saja aku tidak akan memakanmu malam ini” goda Rama kemudian. Sementara Tari ia harus mendelik menahan malu atas apa yang baru saja ia perbuat saat itu.
“Tapi entahlah kalau suatu saat nanti. Siapa tahu takdir berkehendak lain” godanya kemudian dengan suara yang kecil dan nyaris tak terdengar oleh Tari yang kini berdiri di hadapannya.
“Apa mas?”
“Tidak, bukan apa-apa. Lagian masak sama hantu saja takut. Udah tahun berapa ini neng? Mana ada hantu jaman sekarang?”
“Ya namanya juga takut Mas, apa lagi sekarang kan malam jum’at merinding saja tiba-tiba. Mas Rama sendiri kenapa tidak bersuara hanya hay, hay saja dari tadi?” kesal Tari dengan sedikit melengos, ia kesal sekaligus malu merasa di kerjai oleh Rama.
“Kamu kenapa jam segini belum pulang. Di sini ada yang lebih bahaya dari pada hantu”
“Hah? Apa itu?”
“Penjahat, hantu berwujud manusia jauh lebih berbahaya saat seperti ini. Kenapa tidak pulang?”
“Motornya mogok Mas, dari tadi tidak bisa di nyalakan. Mas sendiri dari mana jam segini masih di jalan?” jawab Tari dengan frustasi setelah mencoba berkali-kali menyalakan mesin motor namun tak kunjung bisa menyala juga.
“Kamu lupa? aku adalah tenaga mendis yang harus siap kapan pun dan di manapun orang butuh bantuan”
Tari mulai mengangguk-angguk mengerti.
“Biar aku coba”
Rama mulai mengambil alih motor Tari. Ia mulai menyalakan dengan manual mesin motor tersebut. Menstandar di bagian tengah agar bisa di nyalakan dengan manual.
__ADS_1
Jeglek...
Jeglek...
Jeglek....
Berkali-kali Rama, mencoba untuk menyalakan. Peluh di keningnya mulai saling bercucuran malam itu. Entahlah, Tari sendiri tidak tahu persisnya apa itu keringat atau tetes hujan yang hinggap di dahi Rama. Sementara Tari, ia memilih untuk menepi duduk di sebelah sepeda Rama yang terparkir di sisi samping halaman.
Tiga puluh menit kemudian, Rama masih berkutat mencoba untuk membenarkan motor Tari.
“Mas, bagaimana?” suara pelan dan tenang itu terdengar membuat Rama harus mengangkat wajahnya dan menoleh ke samping.
Perlahan Rama, mulai menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Huft...
Sementara Tari ia menghembuskan nafasnya dengan panjang. Ia juga khawatir jika ada orang yang salah sangka melihatnya malam-malam berdua. Bagaimanapun status mereka saat ini adalah janda dan duda.
“Aku memang spesialis untuk organ tubuh manusia. Tapi sungguh pengetahuanku untuk organ sepeda motor sama sekali tak ada” ucap Rama kemudian dengan melempar senyum tanpa rasa bersalah.
“Kalau tidak bisa ngapain di terusin? Dari tadi itu ngapain aja?” gerutu Tari yang tak sampai ia sampaikan, cukup tertahan di dalam hatinya saja malam itu. Ia memilih untuk tersenyum sebagai rasa menghargai atas usaha yang telah di lakukan Rama malam itu.
“Kita pulang saja ya, untuk sementara biarlah sepedanya di taruh di sini saja. Aku akan mengantarkan mu pulang” tawar Rama kemudian dengan mulai memasukan motor Tari ke dalam toko.
Kenapa tidak dari tadi saja, tahu gitu kan aku sudah rebahan di kasur.
“Tidak usah repot-repot Mas, saya bisa jalan kaki. Lagian rumah saya juga dekat kan?”
“Hah dekat dari mana? Rumah kamu kan masih tiga kilo meteran dai sini. Kamu mau ketemu hantu beneran malam ini?”
Bersambung....
Hay teman-teman, novel ini mempunyai pembaca lebih dari 600 orang , tapi kenapa yang like cuma beberapa saja.
Tinggalkan jejak kalian ya, jangan lupa like, subscribe dan juga vote, kirim hadiah sebayak-banyaknya ✌️. Dukungan kalian sangat berarti sekali untuk semangatku 😊.
__ADS_1