Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Berlibur


__ADS_3

“Bunda, lihatlah ombak yang ada di sana. Cantik sekali”


Ucap Risma, yang sedang mengagumi keindahan pantai dalam balutan ombak yang menari-nari kecil di hadapannya. Risma yang memakai celana bahan kain dengan motif bunga-bunga kecil, berbalut kaos warna pink sedang berlari-lari di atas hamparan pasir putih yang luas. Tak lupa sebuah kaca mata hitam yang bertengger


di atas kepalanya semakin menambah kesan menggemaskan.


“Kamu suka sayang?” jawab Tari, dengan tersenyum ketika mendapati sang anak bisa


tertawa lepas seperi saat ini.


“Tentu saja aku suka. Semenjak Ayah dan Bunda tinggal bersama, aku tak lagi merasakan


kesepian”


Risma masih berlari-lari di atas hamparan pasir putih yang ada tepi pantai. Sesekali ia akan berteriak ketika gulungan air pantai mengenai kaki kecilnya. Sementara Rama, pria itu sibuk mengabadikan setiap moment yang tercipta. Jemarinya begitu lihai dalam membidik gambar. Ia tak ingin meninggalkan satu momen pun saat


bersama keluarga kecilnya.


Hari ini, bertepatan dengan hari minggu. Seperti rencana yang telah di sepakati bersama. Rama akan membawa keluarga kecilnya untuk berlibur. Hanya sebuah liburan biasa bukan honeymoon kerana Risma turut serta dalam rombongan ini.


“Ayo kita makan dulu sayang?” teriak Tari, pada anak dan suaminya yang masih sibuk

__ADS_1


untuk berlari-lari mengelilingi tepi pantai.


Seperti seorang Ibu dan istri pada umumnya. Tari mulai menjalankan perannya dalam keluarga ini dengan baik. Ia menyiapkan beberapa makanan untuk makan bersama. Memasak beraneka macam masakan sesuai dengan permintaan anak dan suaminya. Ia menggelar karpet kecil dan meletakkan semua makanan di sana dengan begitu rapi.


Tari tersenyum menatap interaksi yang terjadi pada anak dan suaminya. Ia masih berada di tempat yang sama. Duduk di atas karpet kecil bermotif kotak-kotak. Matanya mengedar menatap keindahan dan kebesaran dari sang kuasa yang.terpampang nyata di depan mata.


Oh Allah, maafkan aku yang sempat putus asa akan takdir yang berikan padaku. Maafkan aku yang sempat hampir menyerah dalam kisah hidupku. Maafkan aku yang telah lalai akan janji-janji dan Keagungan yang kau berikan. Aku hanya serang hamba yang lemah. Kini aku mulai


mengerti akan takdir indah yang sedang kau rajut untukku. Sungguh kau sebaik-baik pembuat rencana. Trimakasih sudah mengirimkan mereka sebagai pelengkap dalam hidupku.Kini tiada lagi yang bisa ku ucap padamu selain rasa syukur yang tiada terkira. Alhamdulilah ya Allah. Atas restu dan kasih sayang kau limpahkan pada keluarga kecil kami.


Tari menghapus sekilas sudut matanya dengan tangan ketika lelehan bening menyapa. Kali ini ia menangis bukan kerana kesedihan tapi karena haru yang di rasanya.


“Ayik Bunda ikut main air” teriak Risma dengan merentangkan tangannya menyambut kehadiran Tari yang turut bergabung bersama.


Tari dengan sigap menyambut rentangan tangan anaknya. Ia pun melakukan hal yang sama dengan Risma. Sungguh siapa saja yang melihat adegan ini layaknya film slo motion yang telah lama tak berjumpa dengan anaknya. Namun dengan tiba-tiba Rama menyerobot lebih dulu uluran tangan Tari. Ia mengangkat tubuh istrinya dan membawanya dalam gendongan berputar-putar di tengah hamparan pasir putih yang luas. Mereka saling mengulas senyum satu sama lain. Rama membawa istrinya berputar-putar layaknya pasangan pengantin baru pada umumnya. Hingga suara teriakan yang sangat keras menyadarkan ulah mereka saat itu.


“Ayah Bunda!”


Risma menarik-narik tak terima gamis yang di kenakan Tari, wajahnya sudah menunjukan


mendung di tengah teriknya seang mentari.

__ADS_1


“Ayah Bunda, aku di sini” ucapnya kembali ketika Rama tak kunjung menurunkan istrinya.


“Astaga, aku baru sadar jika ada dia di sini. Harusnya aku meningalkan dia di rumah saja


sayang” bisik Rama ketika menurunkan Tari dalam gendongannya.


Tari terkekeh geli mendengarnya.


“Sekarang aku mau gendong kayak Bunda. Ayah harus membawaku lari keliling pantai ini. Aku tak


mau tahu”


“Harus!”


Titah Risma dengan wajahnya yang merajut, tangannya bersendekap tanpa memberikan


sedikit ulasan senyum pada kedua orang tuanya.


Tak banyak bicara, Rama lekas membawa sang putri dalam gendongannya. Ia menggendong


Risma di punggung berkeliling pantai dengan berlari kecil. Suara tawa mereka menggelegar mengisi putihnya pasir. Tari, sedang bahagianya mengikuti dari belakang langkah keduanya.

__ADS_1


__ADS_2