Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Aku Kalah


__ADS_3

“Nak, jangan seperti itu. Mama hanya ingin melihat kondisi Bethari. Mama sungguh khawatir dengan kondisinya”. ucap Bu Srining dengan sendu dan meletakkan satu gelas air hangat tepat di sebelah meja rias menantunya.


“Maafkan Mama nak, sudah membuat kalian seperti ini. Apa yang harus Mama lakukan untuk menebus kesalahan Mama. Mama juga akan meminta maaf pada Tari jika perlu Mama akan bersimpuh di hadapannya”.


“Mama hanya ingin membuatmu bahagia nak dengan hadirnya seorang anak dalam hidupku. Hidupmu akan lebih berarti, terlebih saat kamu sudah tua nanti kamu akan kesepian jika tidak ada anak dalam keluarga kalian”.


“Sudah ku katakan beberapa kali pada Mama, dengan atau tanpa anak. Aku dan Tari sudah sangat bahagia”.


“Randi jangan naif kamu, mana ada seorang suami dalam menjalankan sebuah rumah tangga tidak menginginkan kehadiran seorang anak dalam hidupnya”. Tukas Bu Srining dengan sedikit menaikan nada bicaranya, ia merasa lelah kala berbicara dengan Randi. Menurut Bu Srining cinta Randi pada Tari sudah buta.


***


Tari mulai menggeliat, ia merasakan tubuhnya begitu lemah tak berdaya. Matanya mulai menerjap-nerjap dan melihat pemandangan yang ada.


“Kamar ini”. ucapnya lirih dengan senyum hambar di wajahnya. Aku benci dengan kamar ini. Kamar dengan segala kepalsuan penghuninya.


Tari memegang perutnya yang sangat rata, meremas dengan kedua jarinya, ia kembali menangis kala mengetahui fakta yang ada, jika dirinya tak bisa memiliki seorang anak.


“Ya Allah, benarkah aku mandul?”, kini air mata tak di undangnya kembali luruh, ia teringat akan segala sesuatu yang terjadi beberapa hari ini.


Sakit.


Sungguh sakit.


Matahari pagi yang hangat seolah kehilangan maknanya bagi hidup Tari, baginya semua terasa gelap gulita tak ada cahaya. Semuanya redup bahkan telah padam di bawa oleh sebuah penghianatan yang di balut dengan kebohongan rapi.


Hiks...hiks...his...


Ia kembali menangis, meratapi kehidupan yang tak berpihak untuknya. Tari mulai bangkit dari pembaringan. Saya-sayup ia mendengar percakapan Randi dan Bu Srining yang berada di ambang pintu kamarnya.

__ADS_1


“Mama harus apa Ran? Untuk membuat kamu tidak membenci Mama seperti ini?”.


“Seorang Ibu tidak akan pernah tega membuat anaknya menderita, termasuk dengan Mama. Berapa kali Mama sudah katakan padamu, jika Mama melakukan semua ini hanya untuk kebahagiaanmu. Untuk masa depanmu!”.


“Apakah Mama harus bersujud di hadapan istrimu agar bisa membuatmu memaafkan Mama?”.


“Harusnya kamu bersyukur dengan menikahi Mawar, kamu akan memiliki penerus dalam hidupmu, kamu tidak akan menderita di akhir hidupmu kelak!”.


Tari membekap mulutnya kala mendengar setiap kata yang di ucapkan oleh Bu Srining pada Randi.


“Jadi benar adanya, jika Mas Randi melakukan semua ini atas permintaan Mama”. Kini ia memberanikan diri untuk keluar dari kamarnya dan menemui suami serta mertuanya. Jemarinya saling meremas ujung jilbabnya untuk menyembunyikan segala kegugupan yang ada.


Dadanya kembali bergemuruh kala harus membahas masalah ini kembali, ingin rasanya semua ini lekas berakhir.


“Kalian tidak perlu repot-repot menyembunyikan ini semua, aku yang akan pergi dari sini"


Randi dan juga Bu Srining secara bersamaan menoleh ke sumber suara, mereka melihat Tari, yang masih lemah berusaha untuk berjalan mendekat pada mereka berdua. Tangan Randi kembali terulur untuk membelainya namun sayangnya untuk kesekian kalinya Tari kembali menampik uluran tangan itu.


“Ma aku sudah berusaha, apa salahnya jika aku memang benar adanya tidak bisa memiliki anak, itu semua di luar kendaliku. Aku sudah meminta pada sang Pencipta, aku juga sudah berusaha semaksimal mungkin....”. hiks..hiks Tari menejda ucapannya.


“Baik jika memang seperti ini adanya, aku yang akan mundur. Silahkan Mas Randi dan Mama hidup bahagia dengan anak cucu kalian!”. Tukasnya dengan nada yang dingin, cukup tenang namun tak dapat di pungkiri suaranya bergetar hebat.


“Satu lagi untukmu, lekas urus semuanya, aku yang akan mundur”, satu jari Tari menunjuk ke arah Randi.


Kini Tari kembali berjalan menuju kamarnya dengan cukup pelan dan berpegangan pada tembok untuk menjaga keseimbangan tubuhnya yang baru saja sadar dari pingsannya.


Sesampainya di kamar, ia lekas meraih koper yang ada di atas almari pakaiannya, memasukan dengan asal beberapa potong baju yang ada tanpa menantanya terlebih dahulu. Hatinya benar-benar sakit.


Ia kembali melangkahkan kakinya menuju kamar Risma, mengemas barang-barang milik anaknya. Tak banyak baju dan perlengkapan yang di bawa, Tari hanya membawa beberapa yang memang sangat di butuhkan saja.

__ADS_1


Kini ia keluar dari kamar dengan membawa dua koper besar warna biru, satu berisi pakaiannya dan satu lagi bersisi barang-barang Risma. Ia melangkah begitu saja melewati Bu Srining dan Pak Nario yang ada di ruang tamu tanpa berpamitan.


Hati Randi teriris kala melihat istrinya hendak pergi meninggalkan rumahnya.


“Sayang tolong jangan seperti ini, tetaplah di sisiku. Aku akan meninggalkan Mawar”.


“Sayang percayalah padaku, aku sangat mencintaimu, tolong jangan seperti ini”. Randi kembali bersujud, satu tangannya menahan koper yang hendak Tari bawa keluar dari rumah.


“Mas jangan seperti ini, biarkan aku pergi. Aku juga ingin bahagia. Aku tidak akan pernah sanggup untuk berbagi dan aku tidak bisa menerima sebuah penghianatan yang telah kalian rancang secara rapi bersama-sama. Satu lagi aku tidak bisa di perlakukan seperti ini, aku tidak mau ada dua ratu dalam sebuah pernikahan yang sedang aku jalani”. Kini Tari menatap sinis pada kedua mertuanya, ia benar-benar merasa sangat bodoh di perlakukan seperti ini dalam keluarga suaminya.


“Berbahagialah dengan anak dan istri barumu. Dan aku juga akan berbahagia dengan hidupku yang baru bersama Risma”.


Dengan tubuh yang masih sangat lemah Tari, membawa kopernya pergi keluar dari rumaH itu, sebelum keluar dari rumah itu ia meninggalkan semua fasilitas yang di berikan oleh Randi. Tari mengembalikan kunci mobil yang biasa ia gunakan. Tari juga melepas semua perhiasan yang di berikan oleh Randi dan meletakkan di sudut meja riasnya. Tari juga mengembalikan ponsel yang di belikan Randi.


“Semua barang-barang yang mas Randi berikan padaku sudah aku kembalikan, semuanya ada di kamar”. Ucapnya kembali dengan lirih dan menyeret kopernya.


Tari hanay membawa beberapa baju, itu pun baju yang ia beli sendiri kala masih lajang dulu, Tari meninggalkan rumah itu hanya membawa sim card ponselnya jika memang sewaktu-waktu ia sudah siap akan kembali mengaktifkannya kembali.


Ia benar-benar pergi meninggalkan Randi, dengan kepiluan yang mendera hatinya, ia pergi dengan perasaan yang kalah. Kalah atas pertahanan mempertahankan rumah tangganya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Mohon dukungannya kak, jangan lupa like komen dan subscribe 😊


__ADS_2