
Surabaya
Sidang putusan perceraian Randi dan Tari, akan di putuskan hari ini. Ia memilih untuk tidak menghadiri sidang tersebut. Ia benar-benar menyerahkan semuanya pada pengecara. Begitu juga dengan Tari, ia tidak hadir dalam sidang tersebut. Ia lebih memilih untuk berdiam diri di rumah, menata serpihan hati yang telah runtuh.
“Aku adalah janda hahaha”. Ia tersenyum hambar sejenak kala membaca pesan singkat dari pengacaranya.
“Aku benar-benar seorang janda saat ini, aku kalah dalam istana yang telah ku bangun, akulah ratu yang tersisih oleh Ibu suri hiks..hiks...”, sejurus kemudian ia kembali menangis menatap cermin besar yang ada di depannya.
Sementara Randi, ia memilih untuk berjalan di tengah danau yang biasa ia kunjungi dengan istrinya. Ia berjalan tak tentu arah. Hati dan pikirannya terasa mati sejak kepergian istrinya.
Lama ia berjalan hingga rasa lelah mendera tubuhnya, kini ia duduk sejenak di atas hamparan rerumputan. Tubuhnya menyandar pada sebatang pohon besar yang ada di sisinya. Ia tak dapat menangis, hingga air matanya sudah terasa kering, menangisi kisah cinta ini.
Benar saja kisah Bethari Ambarwati dan Randi Yulidar telah kandas.
.
.
.
“Ran, ada yang ingin Mama katakan padamu, duduklah sejenak”.
Randi diam, ia tak menjawab pertanyaan ibunya tapi ia duduk di kursi ruang tamu sebelah ibunya.
“Ran, minggu depan Mama ingin mengadakan acara tasyakuran kehamilan Mawar yang ke tujuh bulan. Dulu acara empat bulan tidak jadi di selenggarakan karena kamu lebih memilih untuk mengantar Tari menjemput Risma. Sekarang kamu dan Tari sudah berpisah, jadi Mama mohon untuk kali ini turut’i permintaan Mama”.
Diam
“Ran Mama sedang berbicara denganmu, kamu masih punya hati kan sebagai seorang bapak”.
“Terserah Ma, terserah Mama mau buat acara apa. Bukankah aku hanya boneka Mama!”. Tukasnya dengan pergi meninggalkan Mamanya.
“Ran Mama belum selesai bicara”. Bu Srining berteriak cukup keras.
__ADS_1
*****
Acara Tujuh Bulanan.
Sejak pagi, di kediaman rumah Bu Srining sudah di sibukkan dengan serangkaian acara persiapan tujuh bulanan kandungan Mawar. Ia memesan cukup banyak makanan dan aneka kue untuk acar nanti. Tak lupa Bu Srining juga mendesain seluruh ruangan dalam rumahnya menjadi lebih cantik.
Ba’da isya, para tetangga sudah mulai berdatangan ke rumah Bu Srining untuk mengikuti acara tujuh bulanan yang di gelar Randi dan keluarganya. Acara tersebut adalah syukuran atas kehamilan tujuh bulanan Mawar atau kalau orang jawa menyebutnya dengan tingkepan.
Sesuai dengan permintaan Mawar, acara di lakukan dengan cukup meriah, hal ini di lakukan Bu Srining sebagai wujud kasih sayangnya pada cucu dan menantu barunya. Anggap saja ini sebagai pengganti acara pernikahan mereka yang hanya di lakukan sederhana tanpa mengundang siapa-siapa.
Bu Srining mengundang seluruh keluarga besarnya, beserta seluruh karyawan laundry miliknya. Tak lupa ia juga mengundang semua tetangga-tetangganya. Bahkan di luar prediksi tamu yang datang lebih banyak dari yang di undang.
Mereka semua berbondong-bondong ingin melihat seperti apa wajah wanita yang di nikahi Randi, hingga membuat ia meninggalkan istri pertamanya.
Mawar sudah bersiap, ia menggunakan gamis warna putih dengan balutan hijab pasmina yang menutup kepalnya, tapi tetap memperlihatkan bagian depan rambutnya. Sementara Randi, ia masih berdiam didalam kamarnya enggan untuk keluar kamar.
Andai saja mampu, rasanya ia ingin menjerit sekeras-kerasnya kala dalam posisi seperti ini. Hatinya sedang tersayat kerena perceraian tapi ibunya dengan tegas mengadakan acara syukuran untuk anak anaknya.
“Mas ayolah kita keluar dulu. Di luar tamu sudah banyak yang datang”. Satui kalimat yang keluar dari mulut Mawar, ia berdiri di balik pintu kamar suaminya.
Tak ada jawaban yang di berikan oleh Randi.
“Mas ayolah, aku mohon keluarlah sapa orang-orang yang ada di luar”. Mawar masih mengiba, berharap belas kasih dari suaminya.
“Mas setidaknya lakukan demi anak kita”. Sebuah kata pamungkas yang keluar dari mulutnya untuk membujuk Randi.
Randi masih melamun, menatap langit-langit kamar tidurnya yang berwarna putih. Ia sama sekali tak meri bahagia sekalipun akan memiliki seorang anak darah dagingnya.
.
.
.
__ADS_1
Tak ada respon yang berikan Randi membuat Mawar, memilih untuk keluar menemui para undangan dengan raut wajah yang kecewa. Lagi-lagi ia harus hamil seorang diri.
“Mana sumi kamu?”, tanya Bu Srining, kala mendapati menantunya turun dari tangga dengan raut wajah yang mendung.
“Mas Randi masih di dalam enggan untuk keluar Ma, bahkan menjawab pertanyaanku saja tidak”. Jawabnya dengan sendu, sudut matanya sudah berair menahan tangis.
“Sudah tenanglah, biar Mama yang panggil. Kamu turun dulu, temui tamu-tamu yang sudah datang”. Titah mertuanya dengan melangkah naik menuju kamar anaknya.
“Ran keluar, Ran...”.
“Mama tidak suka dengan caramu seperti ini!”, serunya dengan menggedor-gedor pintu kamar anaknya.
“Ran keluar, apa tak cukup kamu mempermalukan Mawar dan Mama, kasihan anakmu jika punya seorang bapak seperti ini”.
“Ran...”.
“Keluar”. Bu Srining, menaikan nada bicaranya.
Sementara Mawar yang berada ditengah-tengah keluarga dan juga undangan di buat kikuk, ia turun sendiri dengan perut yang membuncit, menyalami setia orang yang datang. Tak jarang dari mereka hanya mencemoohnya saja. Tatapan sinis dan tak suka juga begitu melekat padanya.
Beginilah hukum alam, siapa yang merebut paksa ia tak akan bahagia dan tentunya mendapat sangsi sosial.
Dengan langkah yang malas Randi keluar dari kamarnya, ia turut turun mengekor Ibunya. Mawar sangat senang ketika melihat Randi yang turut bergabung dengan para undangan. Sekilas ia mencoba tersenyum pada para tamu, tentu saja semua ini dilakukan atas perintah Bu Srining.
“Lihat sayang, Papa kamu sudah datang, bukankah sudah Mama katakan jika Papamu itu sayang dengan kita, anya saja kita perlu sedikit lagi untuk bersabar”. Mawar mengelus lembut perutnya, ia berbicara pelan dengan bayi yang ada dalam kandungannya.
Kini Mawar dan Randi sudah duduk berdampingan, suatu moment langka yang perlu di abadikan, mengingat mereka hanya pernah sekali melakukannya ketika ijab qabul dulu.
Hati Mawar menghangat, ia seperti di perlakukan sebagai seorang istri. Bu Srining yang melihatnya juga tampak bahagia sekali. Acara pun dimulai. Seorang ustad yang di tunjuk mulai melafalkan doa-doa untuk membuka acara.
Desas-desus dari para tetangga semain santer terdengar, mereka menyalahkan Mawar, sepenuhnya sebagai orang ketiga dalam hubungan ini. Cibiran dan tatapan tak suka tertuju pada pemangku acara rumah ini.
Mawar menyadari arti tatapan mereka, tapi ia lebih memilih acuh dan tak menghiraukan. Baginya yang terpenting adalah Randi berada di sampingnya.
__ADS_1