Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Seharusnya Tidak Seperti Itu


__ADS_3

Pukul sepuluh pagi, matahari masih tampak malu-malu menyinari bumi, terlihat kabut awan hitam yang membentang cukup luas. Tari kembali datang ke sekolah dengan langkah yang tergopoh-gopoh takut hujan akan lebih dulu menyapa sebelum ia sampai ke sekolah.


Benar saja, memasuki kawasan gerbang sekolah hujan mulai menari-nari dengan lembut membasahi tanah. Seolah ingin menyapa kehadirannya.


“Lho mbak Tari ya?”, sapa seseorang yang sama-sama sedang berteduh di halaman UKS untuk menjemput anaknya.


“Iya, sedang menjemput ya Bu”,


“Iya, Mbak Tari, sedang apa di sini?”, Perempuan muda seumuran Tari itu terlihat heran dengan keberadaannya yang ada di sekolah TK.


Nadia, dia adalah tetangga Tari yang kebetulan rumahnya berada dalam satu kawasan perumahan elit tempat ia tinggal sekarang.


“Saya, juga sedang jemput anak”.


“Anak? Mbak Tari punya anak?”.


“Bukannya Mbak Tari tidak bisa punya anak?”.


“Ups..maaf”, ucapnya lirih dengan membekap mulutnya menggunakan tangan.


“Maaf mbak saya tidak bermaksud, setau saya mbak Tari tidak punya anak, beberapa waktu yang lalu Bu Srining juga sempat bercerita pada Ibu saya, jika mbak Tari tidak bisa mempunyai anak”.


Tari begitu kaget mendengar penuturan tetangganya, ia mencoba untuk bersikap tenang meskipun hatinya sedang bergemuruh tak terima.


“Saya bukan tidak bisa punya anak mbak, hanya saja Allah belum menitipkan untuk keluarga kami”. Tari menjawab dengan lembut, menggigit bagian bawah bibirnya dan memegang dadanya dengan pelan.


“Iya mbak, jangan putus asa tidak ada yang tidak mungkin atas kuasa dan kebesaran Ilahi”.


Tari hanya menganggukkan kepalnya saja.


“Bunda.....”.


“Tante....”


Teriak Risma dan Arsy secara bersamaan dan keduanya berebut untuk memeluk Tari saat itu juga, tak ingin membuat kecewa keduanya Tari merentangkan tangannya dengan cukup luas agar bisa menjangkau keduanya.


“Ini anak saya mbak, namanya Risma, sayang kenalan dulu sama Tante”.


Risma kembali mengulurkan tangannya pada Nadia, mencium punggung tangan wanita itu dan memberi salam untuknya.

__ADS_1


“Cantik sekali, hampir mirip sama Bunda wajahnya”.


“Iya dong kan aku anak Bunda”, celotehnya dengan manja.


“Saya permisi pulang dulu ya Mbak, sepertinya hujan akan lama redanya jika menunggu sampai benar-benar berhenti”.


Nadia, hanya menganggukkan kepalanya saja dan memberikan senyuman.


Tari lekas Mambawa dua bocah itu masuk ke dalam mobilnya, ia mengantarkan Arsy terlebih dahulu ke rumahnya, karena hari ini Fitri tidak bisa menjemput. Anak keduanya sedang tidak enak badan jadi sedikit rewel.


***


Rumah Randi.


Sejak kehadiran Risma, di tengah-tengah keluarga mereka, Tari memiliki kebiasaan baru yakni mengajari Risma untuk mengerjakan tugas sekolah dan mengajarinya membaca doa-doa.


Malam itu Risma, sedang mendapat tugas untuk menggambar. Tema menggambar yang di berikan oleh sekolah adalah (keluarga). Kali ini ia mengerjakan tugasnya di kamar Tari.


“Ayah ayo bantu Risma untuk menggambar, biar aku yang kasih warna ayah yang menggambar”.


“Oh tidak boleh sayang, sini biar Ayah yang ajari Risma menggambar nanti Risma contoh ya”.


Tangan Randi terulur untuk meraih satu kertas yang ada di laci meja rias Tari. Tangannya mulai menggambar sederhana membuat wajah seorang Bapak, Ibu dan juga satu anak. Mata Risma dengan teliti mengamati setiap tarikan garis tangan Randi.


“Sudah jadi”. Tunjuk Randi pada Risma juga pada Tari yang dari tadi begitu setia duduk di sebelah mereka.


“Ayah, kenapa gambar anaknya cuma satu?”.


“Ya karena ini gambar keluarga kita, ada Bunda, Ayah dan juga Risma”. Tangan Randi terulur menunjuk satu persatu orang yang ada dalam gambar tersebut.


“Aku mau tambah lagi di sini adik kecil yang cowok, biar kayak Arsy’. Rengeknya dengan manja dan menunjuk satu ruang kosong di sebelah gambar dirinya.


“Ok, baiklah kita gambar adik dulu di sini ya”. Tangan Randi kembali mengukir sebuah mahakarya, yang menurutnya adalah gambar adik cowok masih bayi karena hanya berupa gambar layaknya ulat yang di kasih mata”.


Tangan Risma, kembali menoreh kertas di hadapnya, memberi sentuhan warna di setiap sisinya, agar lebih indah dan menarik.


“Ye akhirnya aku punya adik bayi, aku mau adik bayi Bun”. Risma menggoyang-goyangkan tubuh Tari, yang tampak membeku memperhatikan gambar yang di lukis Randi.


Berbicara soal bayi, Tari jadi teringat pertemuannya dengan Nadia tadi siang di sekolah.

__ADS_1


“Mas berbicara soal anak...”. Tari menjeda ucapannya.


“Kenapa sayang, apakah ada yang menyakitiku?”, Jika menyangkut tentang obrolan soal anak, Randi begitu khawatir dengan kondisi istrinya.


“Tadi aku bertemu mbak Nadia, saat menjemput Risma sekolah, ia mengatakan jika aku tidak bisa punya anak mas”.


“Apa mbak Nadia, bilang apa?”, Tanya Randi dengan suara yang hampir tak bisa keluar dari mulutnya.


“Iya mas, Mbak Nadin bilang jika aku tidak bisa punya anak”.


“Bukan tidak bisa sayang, hanya saja belum”. Tangan Randi terulur membelai rambut Tari yang tergerai lurus.


“Mama yang mengatakan pada mbak Nadin mas”. Wajah Tari tertunduk lesu, sorot matanya seketika berubah menjadi sendu.


Randi begitu terperangah mendengar ucapan istrinya, ia baru tahu jika Mamanya telah mengumbar kekurangan menantunya pada orang lain.


Sekuat tenaga Tari berusaha untuk tetap tersenyum di hadapan Risma, ia tidak ingin gadis kecil itu melihat Bundanya menangis,. Sekuat tenaga ia menahan butiran bening yang hampir saja datang tanpa permisi. Hatinya begitu sakit kala mengetahui jika Mama mertuanyanya sendiri yang mengumbar kekurangannya.


“Aku bukan tidak bisa punya anak Mas, hanya saja Allah belum memberinya kan?”, Tari kembali menatap sendu suaminya.


“Sabar ya sayang. Kini tangan Randi terulur untuk memeluk Risma dan juga Tari secara bersamaan, mencium kening mereka secara bergantian. Mencoba memberikan ketenangan untuk istrinya.


“Bunda jangan sedih ya, Risma kan anak bunda. Tadi saja banyak orang yang bilang jika Risma mirip sama Bunda wajahnya”. Gadis kecil itu mengurai pelukannya dan mendongak menatap wajah Tari yang sudah hampir tumpah air matanya.


“Iya dong Risma kan anak Bunda”.


“Risma, bantu do’a ya sama Allah, biar di kasih adik yang lucu dan mengemaskan”


“Siap Bunda, aku mau adik cowok ya”, senyum sumringah terpancar sempurna di wajah Risma.


Pandangan Randi, beralih ke wajah istrinya raut sedih terpancar sempurna di wajah Tari, ia melihat kekecewaan dan luka yang menganga di hati istrinya.


“Aku malu mas, sungguh sangat malu. Bukankah itu bagian dari rahasia keluarga yang harus di jaga bulan untuk di umbar?"


.


.


.

__ADS_1


.


Mohon dukungannya kakak 😊


__ADS_2