
Bug...
“Bunda!” teriak Risma dengan sangat keras di tengah riuhnya suasana pengambilan rapot
yang belum di mulai.
Risma panik sekali ketika melihat Bundanya pingsan. Ia berteriak meminta tolong pada
siapa saja yang ada dalam ruangan kelas.
“Tolong, Bundaku pingsan” ia menarik-narik baju Ibu-Ibu yang ada di sebelahnya.
“Astaga apa yang terjadi?”
Seketika keadaan ruang kelas semakin riuh, mereka saling berhamburan untuk melihat Tari
yang sedang terkapar tak berdaya.
“Tolong minggir” ucap salah satu guru Risma, ia lekas memanggil beberapa rekan guru lainnya.
“Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja. Wajah Bundanya Risma begitu pucat sekali”
Tanpa banyak pertimbangan salah satu guru pria membantu untuk menggendong Tari dan membawanya ke mobil sekolah untuk di larikan ke rumah sakit saat itu juga.
“Bawa ke rumah sakit Ayahku saja” ucap Risma, di tengah kepanikan yang ada. Gadis kecil itu turut berlari mengikuti beberapa guru yang sedang membawa Tari menuju salah satu mobil sekolah.
“Bu, tolong hubungi keluarga Risma”
“Ini nomor Ayahku” Risma menyerahkan secarik kertas yang ada didalam salah satu kantung tasnya. Tari memang senagaja menyimpan nomornya dan nomor Rama di sana. Ia juga menyelipkan alamat tempat tinggal mereka saat ini. Dengan segera guru Risma menghubungi Rama.
.
.
.
Lima menit kemudian, dengan kecepatan yang cukup tinggi sampailah Tari di rumah sakit tempat Rama bertugas. Kedatangannya lekas di sambut oleh beberapa perawat yang berjaga di IGD. Rama masih tidak bisa di hubungi saat itu, ia masih dalam posisi melakukan operasi salah satu pasiennya.
“Bunda bangun, Bunda” Risma menepuk-nepuk pipi Tari beberapa kali saat wanita itu di baringkan di atas ranjang pasien. Namun sayang, Tari tak kunjung membuka matanya.
“Adek tunggu di luar dulu ya sayang. Tante akan memeriksa Bunda kamu dulu” perawat lekas menutup paksa pintu IGD dan Menyuruh Risma keluar dari sana.Risma menangis sesenggukan dalam dekapan salah satu gurunya yang turut mengantar. Ia begitu takut akan terjadi sesuatu hal yang buruk pada Bundanya.
Dalam beberapa menit kemudian Rama, yang baru saja menyelesaikan tugasnya lekas berlari menghampiri Tari yang ada di IGD. Wajahnya panik dan resah. Keringatnya bercucuran pada pelipisnya.
“Ayah, Bunda sakit” teriak Risma sambil menangis ketika melihat sosok Ayahnya yang
berlari dari koridor rumah sakit menuju tempatnya duduk saat ini. Rama lekas memeluk anaknya mencoba untuk memberikan ketenagan.
__ADS_1
“Apa yang terjadi pada istri saya Bu?” tanya Rama pada guru Risma.
“Saya tidak tahu Pak, tadi Bu Tari, tiba-tiba pingsan saat berada di kelas Risma. Wajahnya
pucat sekali tubuhnya terlihat sangat lemas”
Rama meraup wajahnya dengan kasar. Bagaimana bisa dia abai pada istrinya sedangkan
dia adalah serang Dokter.
Tak berselang lama, pintu kamar IGD terbuka. Rama yang menyadari hal itu lekas berlari menuju salah satu rekan yang di kenalnya.
“Bagaiman keadaan istriku?” tanya dengan wajah yang panik sekali. Bahkan tangan Rama terlihat gemetaran. Ia benar-benar takut sesuatu hal buruk terjadi pada istrinya.
Salah satu Dokter tersenyum ramah padanya. “istri kamu tidak papa Dokter Rama. Mungkin
hanya kelelahan saja. Pada trimester pertama kehamilan mual, pusing sampai pingsan memang biasa terjadi” jawab salah satu temannya dan lekas menjabat tangan Rama sebagai ucapan selamat.
Rama terdiam. Jawaban dari salah satu rekan sejawatnya membuatnya terdiam dan membeku di tempat. Matanya mendelik dengan bibir yang melongo.
“Ha-mil?” suara Rama terdengar gemetar dan matanya berkaca-kaca seketika.
Dokter yang ada di hadapannya hanya menganggukkan kepala sebagai isyarat untuk menjawab pertanyaan Rama.
Rama masih terdiam, ia bahkan kehilangan kata-kata untuk berucap seluruh tubuhnya
terasa ingin melayang saat itu juga.
“Kamu yakin istriku hamil?” tanyanya kembali memastikan.
“Iya, jika tidak percaya kita bisa melakukan USG. Aku tinggal dulu ya, setelah ini istrimu akan di pindahkan di ruang rawat”
Rama masih terdiam dengan tatapan yang berbinar.
“Nak Rama, apa yang terjadi pada Tari?” teriak Ibu yang sedang berlari untuk menghampirinya.
“Ibu...” Rama memeluk mertuanya dengan menangis pagi itu, membuat Bu Marni semakin khawatir terjadi sesuatu hal buruk pada putrinya.
“Apa yang terjadi pada anakku?”
“Tari tidak papa Bu, Tari sedang hamil muda”
“Hamil? Hah bagaimana bisa dia hamil? Kamu tahu kan apa yang terjadi pada anakku?” elak
Bu Marni.
“Sungguh Bu, Tari sedang hamil. Dokter baru saja memeriksanya”
__ADS_1
“Allah, anakku” jawab Bu Marni, dengan membekap mulutnya. Ia menangis haru dan lekas.bersujud di lantai rumah sakit saat itu juga. Sungguh ia tak menyangka akan keajaiban
yang terjadi. Tari baru menikah dua bulan yang lalu dan sekarang ia sudah hamil. Sementara dulu, ia menikah lebih dari enam tahun tapi tak kunjung untuk hamil juga.
“Bu, saya mau menemui Taru dulu”
Rama lekas menarik kursi yang ada di sisi ranjang istrinya. Ia menatap lekat wajah sang istri yang terlihat sangat pucat. Satu tangannya memegang tangan Tari, dan satu tangannya lagi membelai pucuk kepala istrinya. Rama mendekatkan wajahnya dan berkali-kali memberikan kecupan manis di kening istrinya.
“Sayang bangun” bisiknya tepat di telinga Tari.
“Mas aku di mana?” tak berselang lama. Tari mulai membuka matanya. Ia melirik sekeliling ruangan yang tampak terlihat putih dan selang infus yang terpasang di tangannya.
“Kenapa aku di sini Mas?”
“Kamu di rumah sakit sayang. Tadi kamu pingsan di sekolah Risma”
“Aku kenapa Mas?” tanya Tari dengan berusaha untuk duduk.
“Istirahatlah dulu sayang, bagaimana rasanya? Apa masih pusing atau mual?” tanya Rama ingin
memastikan kondisi istrinya.
Tari hanya mengangguk.
“Aku kenapa Mas? Apa terjadi sesuatu hal buruk padaku?”
“Tidak sayang, kamu baik-baik saja”
“Kalau baik-baik saja kenapa aku di sini?”
“Dokter bilang kamu hamil sayang”
Deg...
Rasanya seluruh tubuh Tari, membeku saat itu juga. Ia bahkan kehilangan kekuatan untuk
berbicara.
“Kamu jangan bercanda Mas, gak lucu”
“Aku tidak bercanda sayang, Dokter bilang kamu hamil, usia kandungan kamu sudah memasuki empat minggu”
“Iya Bunda, kata Dokter aku mau punya adik” jawab Risma yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang rawatnya bersama Ibu.
“Allah” Tari menangis saat itu juga. Ketidak mungkin nan yang slalu ia semogakan kini
telah terkabul oleh sang maha kuasa.
__ADS_1
Tari lekas berhamburan memeluk suaminya sata itu juga. Ia menangis terisak-isak, tentu saja tangis bahagia. Risma pun turut bergabung. Ia naik ke sisi ranjang dan turut memeluk Bundanya. Sementara Bu Marni, ia berdiri di ambang pintu,
menyeka buliran bening tanda bahagia ketika melihat anak, menantu dan cucunya sedang berbahagia.